Resensi Buku
Donor Sperma dan Dilema Etis Perihal Melahirkan Anak

Donor Sperma dan Dilema Etis Perihal Melahirkan Anak

Judul : Susu dan Telur (judul bahasa Jepang: Natsumonogatari)
Penulis : Kawakami Mieko
Penerjemah : Asri Pratiwi Wulandari
Penerbit : Taman Moooi Pustaka
Cetakan : Pertama, Oktober 2021
Jumlah halaman : 503
ISBN : 978-623-93966-6-4

Dalam kehidupan nyata, adakah dari kita yang pernah merenungkan makna melahirkan anak? Adakah dari kita yang pernah berpikir bahwa anak yang kita lahirkan kelak akan menanggung penderitaan dan tekanan sosial atau mengalami kehidupan yang tak menyenangkan? Adakah dari kita yang pernah sekali saja mengatakan ‘Nak, maafkan kami karena melahirkanmu demi keegoisan kami’ sebelum atau sesudah anak itu lahir?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang dihadirkan oleh Kawakami Mieko dalam novelnya yang berjudul ‘Susu dan Telur’ (bahasa Inggris: ‘Breasts and Eggs’) yang terjemahan bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Taman Moooi Pustaka. Novel ini secara garis besar menyuguhkan pembicaraan mengenai donasi sperma beserta turunan-turunannya sebagai tema utama. Namun, alih-alih menghadirkan pertentangan donasi sperma dengan norma-etika yang berlaku di masyarakat, novel ini justru selangkah lebih maju dengan menyorot dilema etis perihal melahirkan anak. Yang ditekankan bukan premis “hamil dan melahirkan anak lewat donor sperma itu tidak etis atau melanggar ajaran agama”, tetapi proposisi bahwa “melahirkan anak itu, apapun caranya, baik normal (bersenggama) atau lewat donasi sperma, adalah tindakan yang harus dipikirkan ulang”.

Novel dengan ketebalan 503 halaman ini dibagi ke dalam dua bagian berdasarkan keterangan waktu. Pada bagian pertama tertera ‘Musim panas tahun 2008’. Pada bagian kedua: ‘Musim panas 2016 sampai musim panas 2019’. Novel ini ditulis dengan gaya ungkap yang puitik serta dialog yang populer dengan latar waktu dan situasi kekinian di Jepang. Tokoh utamanya bernama Natsume Natsuko—seorang perempuan lajang yang berprofesi sebagai penulis prosa. Selain tentang bank sperma dan metode melahirkan anak lewat inseminasi buatan, Mieko menyuguhkan banyak pemikiran dekonstruktif yang mencoba menggugat konsensus-konsensus yang (terlanjur) disepakati oleh hampir semua orang.

Pemikiran dekonstruktif pertama yang dihadirkan adalah perihal standar kecantikan seksis, saat kakak Natsuko, Makiko, menyatakan keinginan untuk operasi implan payudara. Selama ini, secara umum di banyak belahan dunia, kecantikan kerap diidentifikasi dengan berpayudara montok, berputing merah muda, serta berbokong kencang. Tokoh Makiko sampai rela mengoleskan tritonin (obat pengangkat pigmen) ke putingnya demi obsesi memiliki puting berwarna pink meskipun itu membuat kulitnya terbakar, berdarah, hingga bernanah. Pertanyaannya: sejak kapan konsepsi ini terbentuk hingga menjadi konsensus yang bahkan masih berlaku hingga hari ini?

Obsesi Makiko yang ingin menjalani implan payudara terasa kian ironis mengingat latar belakangnya yang berasal dari keluarga miskin, dan masih miskin saat keinginan menggebu-gebu itu merasukinya, sementara ia yang seorang single parent sudah memiliki seorang anak perempuan berusia 12 tahun bernama Midoriko yang membutuhkan banyak biaya.

Pada bagian pertama, Mieko—peraih Anugerah Akutagawa dan sejumlah anugerah sastra bergengsi lainnya di Jepang—begitu dramatik dalam mendeskripsikan kemiskinan. Satu bagian yang paling membuat saya terenyuh adalah saat Natsuko menceritakan kepada keponakannya, Midoriko, tentang keinginannya memetik buah anggur yang tak pernah kesampaian saat ia masih sekolah dasar karena saking miskinnya. Untuk menghibur dirinya yang bersedih, Makiko, kakaknya, membuat “anggur-angguran” dengan menggantung benda-benda yang ada di rumah miskin mereka—kaus kaki, handuk, tisu, celana dalam—di laci lemari, di gagang rak, di lampu, di tali jemuran, lalu Makiko bilang, “Sekarang kita akan memetik anggur. Natsuko, semua ini anggur. Ayo kita memetik anggur sama-sama. “

“Terus, Maki-chan menggendongku, mengangkatku tinggi-tinggi. Katanya, ‘Ayo ambil, ayo ambil’. Katanya, ‘Satu buah, dua buah’. Sambil digendong Maki-chan, aku menjulurkan tangan mengambil kaus kaki, mengambil celana dalam, semuanya, membawa tampah bolong-bolong yang dijadikan keranjang lalu meletakkannya di sana…. Aku senang, tapi sedih, tapi satu per satu kuambil, padahal bukan anggur yang bisa dimakan, tidak berbentuk butir-butir juga, tapi itulah kenanganku tentang memetik anggur.” (hal. 136).

Memasuki bagian kedua, Mieko banyak menyisipkan pemikiran dalam alur ceritanya. Pergulatan antara feminisme versus patriarki terasa kental. Satu ungkapan yang menohok dalam hal kritik terhadap patriarki adalah saat tokoh Konno, teman Natsuko, membicarakan tentang relasi suami-istri dalam rumah tangga. Konno yang benci terhadap ibunya karena memilih bertahan dengan ayahnya yang kejam dan diktator alih-alih bercerai, mengatakan bahwa banyak perempuan pada akhirnya jatuh menjadi “tenaga kerja bonus memek” saat berumah tangga.

“Ibuku itu ‘tenaga kerja bonus memek’, tahu?” kata Konno kepada Natsu (hal. 284), untuk menyebut ibunya yang selama ini mengerjakan seluruh urusan rumah tangga sembari mendapatkan kekerasan terus menerus dari ayahnya.

Lewat tokoh Natsuko yang berkarakter pemikir, Mieko ingin menegaskan bahwa memiliki pasangan tidak berarti harus selalu berujung dengan seks. Tokoh Natsuko pernah memiliki pacar semasa masih SMA bernama Naruse dan ia sangat menyukai pacarnya itu, namun ia tidak suka berhubungan seks karena itu membuatnya menderita rasa sakit.

Namun, seperti yang saya sampaikan di awal, dari sekian banyak hal yang diangkat dalam novel ini, inseminasi buatan dan perihal melahirkan anak adalah tema utama. Mieko menjabarkannya dengan rinci: tentang bank sperma, donor sperma, metode artificial insemination by donor (AID), tentang konsepsi rumah tangga, perihal makna melahirkan anak, tentang makna hidup anak-anak yang dilahirkan, dan dilema-dilema etis yang ditimbulkan olehnya.

Jika Anda membacanya dengan saksama, Anda akan mendapati bahwa apa yang dipaparkan Mieko menunjukkan bahwa ia menguasai tema yang ia tulis sekaligus betapa cermat ia dalam melakukan riset. Dari novel ini, kita jadi tahu kalau di dunia ini ada ribuan orang yang terlahir lewat metode inseminasi buatan (AID) dengan donor sperma anonim. Di Jepang saja, jumlahnya lebih dari 10.000 orang. Sebagian besar dari mereka tak pernah mengetahui separuh bagian dari diri mereka—tak pernah tahu siapa dan dimana ayah biologis mereka.

Syahdan, tokoh Natsuko yang ingin melahirkan anak tanpa pasangan, menelusuri berbagai informasi dari banyak sumber, mencari-cari situs bank sperma profesional hingga donor sperma perorangan, sampai kemudian ia membaca buku yang berisi hasil wawancara orang-orang yang lahir melalui donasi sperma, dan sejak saat itu ia penasaran dengan sosok Aizawa Jun, seorang pria yang lahir lewat metode AID yang terangkum dalam buku itu.

Apa yang disampaikan Aizawa Jun dalam wawancara yang tertulis dalam buku itu membuat Natsuko tertegun.

“Ibu saya bertubuh mungil, tapi tinggi saya mencapai seratus delapan puluh sentimeter. Lipatan kelopak mata Ibu saya bergaris tegas, sementara saya tidak punya. Lalu sejak kecil saya jago lari jarak jauh. Seseorang yang terdaftar di fakultas kedokteran universitas x saat itu, dengan tubuh besar, berkelopak mata tanpa lipatan, jago lari jarak jauh, dan saat ini berusia sekitar 57 sampai 60 tahun. Adakah yang merasa terpanggil?” kata Aizawa. (hal. 218).

Saat membaca kalimat-kalimat itu, sama seperti yang dirasakan tokoh Natsuko, saya ikut membayangkan betapa getirnya kehilangan yang dirasakan Aizawa Jun dan orang-orang yang bernasib serupa dengannya. Seperti apa perasaan mereka? Apakah mereka bahagia dilahirkan? Pertanyaan semacam itulah yang terus dielaborasi oleh Mieko di halaman-halaman selanjutnya.

Suatu hari, Natsu datang ke sebuah seminar tentang donasi sperma, dan di sana ia bertemu dengan Aizawa Jun. Dari situ, hubungan antara mereka mulai terjalin. Mula-mula melalui surel, kemudian mereka beberapa kali bertemu di kafe dan mengobrolkan banyak hal. Natsu menyampaikan keinginannya untuk melahirkan anak, sedangkan Aizawa bercerita panjang lebar tentang kehidupannya, tentang ibu dan ayah yang membesarkannya, tentang hubungannya dengan Zen Yuriko—seorang gadis yang juga terlahir lewat donasi sperma.

Klimaks dari dilema etis dan dekonstruksi konsepsi perihal melahirkan anak itu dihadirkan dalam adegan saat Natsu menyampaikan maksud dan niatnya untuk melahirkan anak kepada Zen Yuriko (pacar Aizawa). Ini, menurut saya, sekaligus menjadi “kekurangan” dari novel ini karena setelah itu sampai tamat, tidak ada lagi kejutan yang hadir—meski juga tidak berarti tidak menarik.

Natsuko—yang awalnya sebatas berpikir bahwa cara melahirkan yang ingin ia tempuh “tidak normal” dan melanggar moralitas yang berlaku di masyarakat—tercengang saat mendengarkan kalimat-kalimat dari Zen Yuriko.

Bagi Zen Yuriko, cara atau bagaimana bayi lahir sama sekali bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah bahwa orang-orang yang ingin melahirkan anak, tidak pernah berpikir tentang kemungkinan bahwa anak tersebut menyesal dilahirkan atau bahkan tak pernah ingin dilahirkan. Bahwa melahirkan anak sama saja dengan melakukan kekerasan. Dan ironisnya, kekerasan itu dilakukan sambil berbahagia dan dirayakan dengan pesta.

“Semua orang yang melahirkan anak hanya memikirkan diri sendiri. Mereka tidak memikirkan anak yang nanti akan lahir. Di dunia ini, tidak ada seorang pun orangtua yang memikirkan tentang sang anak sebelum melahirkannya. Luar biasa, bukan? Kemudian, kebanyakan orangtua berharap agar anaknya terhindar dari segala penderitaan dan kemalangan. Tapi bukankah satu-satunya cara agar anak tidak menderita adalah dengan tidak membuatnya ada? Dengan tidak melahirkannya?” (hal. 408).

Saat Natsuko mencoba menampik pandangan itu dengan mengatakan “Itu tidak bisa kita ketahui kalau belum melahirkannya”, Zen Yuriko kembali melontarkan pemikiran menohok, menyebut tindakan orangtua yang melahirkan itu sebagai “taruhan”—bertaruh bahwa anak yang dilahirkan akan mendapat kehidupan yang baik dan menyenangkan.

“…Mereka (para orang tua, -penulis) tidak berpikir akan kalah taruhan. Mereka berpikir bahwa anak-anak yang mereka lahirkan akan baik-baik saja…. Dan yang lebih kejam, saat melakukan taruhan itu, sebenarnya mereka tidak bertaruh atas diri sendiri.”

Gema kata-kata Zen Yuriko terasa begitu kuat karena ia adalah anak yang terlahir lewat inseminasi buatan dan mengalami kehidupan yang sangat pahit dan menyiksa: saat kecil ia sering diperkosa oleh ayahnya (suami ibunya, bukan ayah biologisnya) dan bahkan ia diserahkan oleh ayahnya yang bejat itu kepada beberapa pria lain untuk digilir ramai-ramai. Saking menderitanya ia dalam hidup sampai-sampai ia tak pernah berpikir ingin bertemu dengan ayah biologisnya, seperti kebanyakan orang lain yang terlahir lewat AID.

 “Bukankah ada anak-anak yang sampai mati hanya menderita? Tanpa pernah dapat melihat dunia seperti apa yang mereka huni, tanpa pernah dapat memiliki kata-kata untuk memahami jati diri mereka, mereka dibuat ada secara tiba-tiba dan hanya menjadi gumpalan yang menderita rasa sakit sampai akhir hayat…” (hal. 410).

Nikmatnya novel ini saat dibaca tentu tidak terlepas dari kerja keras Asri Pratiwi Wulandari sebagai penerjemah. Diterjemahkan langsung dari Bahasa Jepang (judul: Natsumonogatari), membuat gaya ungkap novel ini tak kehilangan “cita rasa” Jepang-nya. Caranya menerjemahkan dialog antartokoh dengan gaya bahasa Indonesia kekinian serta penerjemahan narasi yang puitik, membuat novel ini terasa sangat enak dibaca. Sebagai pembaca, saya ingin berterima kasih kepada Asri, seorang petani swasembada pangan yang pernah belajar bahasa Jepang di Universitas Kyoto ini. Selepas membacanya, saya tercenung sampai berhari-hari kemudian.

Pada akhirnya, saya ingin bilang kalau novel ini sangat layak untuk dibaca sebagai bentuk rekreasi sekaligus bahan permenungan, yang mudah-mudahan dapat menggugah pemaknaan mengenai hidup. []


Penulis:

Abul Muamar lahir di Perbaungan, 6 November 1988. Membaca dan menulis prosa fiksi. Buku kumpulan cerpennya, ‘Pacar Baru Angelina Jolie’ (Gorga, 2019).

Leave a Reply

Your email address will not be published.