Puisi
Puisi Raudal Tanjung Banua

Puisi Raudal Tanjung Banua

Di Taman

Aku duduk termangu
di bangku taman
bangku yang terbuat dari ban
Ban yang dulu membawa kendaraan
dan orang-orang
Berjalan-jalan—tanpa tujuan
Kini diam
Menghadap lengang jalan.

Mati Lampu (1)

Negeri ini seperti dalam kegelapan
mati lampu PLN
Orang-orang merutuk dan mengutuk
dalam gelap; cahaya lilin, lampu damar,
pelita minyak, berpendar
Tapi begitu lampu negara nyala,
cahaya-cahaya kecil bergegas dipadamkan
Semua bersorak gembira, dan lupa!

Mati Lampu (2)

Ia tahu—lewat grup WA
Lampu akan mati pukul 10 pagi

hingga pukul 13
akan hidup kembali.
“Ada perawatan jaringan,” tulis jawatan PLN.

Dan ia juga tahu, kekasihnya punya banyak rencana
Sepanjang hari itu, dari pagi berbenah
Dan tak tahu listrik akan mati pukul 10.

Ia memandang iba pada kekasihnya
Juga pada dirinya. “Betapa banyak yang kita persiapkan
dalam hidup di dunia. Dan tak tahu kapan sepasang mata lampu
mati di wajah kita,” bisiknya pada diri sendiri.

Jika diberi tahu, bagaimana kekasihnya akan kecewa?
Apa ada rencana lain? Ia tak tahu
Hingga lampu mati dan menyala kembali
Ia dan kekasihnya sudah terbaring
Tanpa rencana, tanpa busana. 


Waktu

1.
Tahun-tahun bagai ujung jarum
Menjahit terpal bumi
Tahun-tahun penuh nujum
Meramal yang tak teraih

2.
Mana tanganmu? Ujung jari pun
seperti jarum jam
di lingkar nadi
meraba waktu
kapan berhenti.

3.
Tahun-tahun penuh nujum
Meramal yang tak teraih
Tangan-tangan penuh jam
Dan teraih yang tak diramal.

Yamin

dari talawi ke tanah jawi
dari solo ke baciro
dari jakarta ke yogyakarta
pulau perca tanah airku jua

dari bahasa ke gajah mada
dari sejarah ke konstitusi
dari hukum ke ideologi
kantung jasku untuk semua.

dari wajah tembam arca arkeologi
dari sumpah pemuda ke proklamasi
dari sandjak tanah air ke soneta anak gembala
itu suara dan wajah masamku sendiri
nan tak kunjung jaya dinanti hari.

Cinta

marah serupa apa pun engkau, cintaku
kopimu tetap kusesap
tetap segelas berdua

di negara rumah tangga
aku presiden
dan engkaulah jendralnya

kau berperang tanpa menuntut balas
dan jika menang, semua untuk penghuni rumah
dan jika presiden bilang sudah
jendral mau apa?

engkau indah sejak kujumpa
bahkan sejak dilahirkan
matamu besar dan pipimu ranum
batu sungai

bila kau jinak
akan sejinak-jinaknya
bagai hendak menyelam ke telapak tangan

bila liar
telapak tanganku pun kau bawa mengudara
hingga aku lupa menyimpannya ke dalam saku
yang tak pernah penuh
dikisai debu

“serang!” katamu
“tidak,” kataku.
seperti chairil, serangan berlalu beku…

Penyunting Buku

1.
membicarakan kaum padri sebagai pembantai
tanpa membicarakan kolonial
yang mengambil-alih pembantaian
sama dengan bicara korban ‘65
tanpa menyebut sekelompok tentara
petualang, dan mata-mata.

2.
mencari dokter yang tepat di negeri ini,
sama sulitnya dengan mencari mursyid tarekat
yang paham penyakit tanpa banyak bertanya
apa sakit kita
yang tak banyak nasehat tapi hormat pada sanad
akrab pada kita.

3.
ia menyunting buku itu selayak mengaji kitab
hati-hati sekali dan awas
kadang seperti seseorang sedang mencari kutu
dan uban yang tak mengenal tempat
salah tumbuh

lalu memetik kembang duri
untuk ditambahkan satu-satu
di rambut dan baju  anak-anak kalimat
sehingga semesta buku itu terasa segar kembali
persis anak-anak melompat riang sehabis mandi.

/2020-2021


Penulis:

Raudal Tanjung Banua, telah menerbitkan dua buku puisi, Gugusan Mata Ibu dan Api Bawah Tanah. Tinggal di Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published.