Puisi
Puisi Tjak S. Parlan

Puisi Tjak S. Parlan

Sepanjang Gang Berwarna Terang

Kota ini kerap berandai-andai, menghapus
kerak lunyai dari paras tembok
gang-gang pelosok.

Maka dilaburkanlah warna-warna baru
lewat tangan-tangan seniman musiman. Tangan
yang menggambar seturut pesanan, tangan

yang menempatkan daun-daun waru, bunga-bunga,
jargon-jargon bikinan negara pada warna serupa:
terang, terang, dan hanya terang.

Maka ketika melintasi sepanjang gang ini,
paras Tempit sekilas lebih legit, dan Peresak
terasa tak lebih sesak.

Barangkali Kota telah lupa, kecuali warna
yang berdesak-desakan ini, kemiskinan tak bisa
dipugar begitu saja. Ia tak butuh banyak citra

untuk menutupi cacat luka—setiap lubang
yang menganga dalam tubuhnya.

Ampenan, 27 Februari 2022

 

Jam Makan Siang Telah Berlalu

Bayang tubuh anakku menyusut di hamparan pasir. 
Seekor anjing melintas pelan. Di kejauhan, lanskap
kota meleleh—kota dengan gradasi abu dari masa lalu.
Lalu sirine ambulan menyayat hingga ke sisi selat, ke tepi

muara yang payau ini.

Anjing itu mengendus di antara bangkai lokan, cabang,
dan batang yang tersingkir saat rob terakhir. Perburuan
yang sia-sia—tak ada yang tersisa dari kota.

Anakku menyesap teh dingin, sesapan penghabisan
dari bekal perjalanan. Di langit, matahari putih
memanggang. Pohon-pohon waru pesisir
sedikit meneduhkan. Bayang-bayang
sedikit memanjang. Dan angin
menjadi lebih tenang.

“Mari berkemas,” kataku. “Jam makan siang telah
berlalu. Ibu pasti menunggu dengan cemas yang baru.”

Anakku menoleh ringan. Ditinggalkannya istana pasir
yang rentan. Sebelum beranjak dari muara, kami
menatap anjing itu sekali lagi—anjing yang tak mau
kalah, terus berjalan membidik kampung nelayan.

Ampenan, 2 Februari 2022

Pakansi

— Dari Film “Love in Thoughts”, Achim von Borries 
“Kita akan menjalani hidup dengan senyuman,” katamu.

Itu rencana yang megah. Mungkin juga semacam
permufakatan nakal di masa liburan sekolah.
Semua telah dipersiapkan: teman kencan,
rumah musim panas dengan sebuah
gudang anggur, sepucuk senjata,
juga hasrat  muda yang
mengancam.

Tapi ketika tua,
kau tak bisa mempercayakan cinta
pada anak sekolahan. Cinta lebih mencurigakan
ketika tumbuh pada jam-jam pelajaran.

Dan cinta—lewat laki-laki bermata
penuh kantuk— telah tumbuh subur di meja dapur
sebagai bentuk kehadiran setiap pagi
antara susu cokelat, kopi, juga roti.

“Kita akan melanjutkan hidup dengan senyuman,” katamu.

Lalu sebuah peluru—sebuah senyuman yang lain
menembus kepalamu.

Ampenan, 17 September 2019

Sebelum Kelas Dimulai

Untuk Kigo Bhanu Samarkand

Sebelum kelas dimulai,
barangkali kita bisa pergi ke pantai,
memandang bagian-bagian kota yang
pernah dijarah dan terbengkalai.

Ada sisa-sisa peradaban yang pernah disulap—dan
sia-sia–dengan sedikit program tambahan, atau apapun
agar kota selalu terlihat lebih tekun membangun.

Kota ini sudah lama hidup,
kota yang terkadang menguarkan aroma balsam
dan kerap menjauh dari ide-ide restorasi (atau revitalisasi?)
Atau apa saja agar kota tetap apa adanya, agar koran
yang kerap kehilangan oplah, bisa memberitakan kemajuan
yang lamban—dan memujanya ketika ada iklan pesanan.

Sebelum kelas dimulai,
sebelum terancam menjadi apa saja yang instan
di hadapan jam-jam pelajaran,
ada baiknya pergi ke pantai.

Memandang sisa-sisa bandar lama
dengan mata kanak-kanakmu yang segar,
dengan pikiran-pikiran pagi hari:
gambar matahari, gelombang tenang, sampan nelayan,
atau apa saja yang bisa membuat kita lega
sebelum sarapan—sebelum persoalan sehari-hari.

Ampenan, 23 Desember 2021

 

Kepada Ohlsdosfer Tua

—Dari film “The Turin Horse”, Bela Tarr

Di hari ke empat, sumur itu mati.
Kutukan yang lain, setelah kawanan gipsi
mampir menjarah air dan menggoda anak
gadismu—dan kau mengusirnya dengan sebatang kapak.

Tapi bukankah kau tahu,
matahari nyaris padam sejak hari pertama?
Dan gurun—sebentang lahan sekarat dan terpencil
itu—telah dirampas kabut debu dan amuk puyuh

hingga tak ada satu pun yang layak tumbuh.
Tak ada yang bisa kau sangkal,
tak ada yang benar-benar sanggup menyangkalnya
hingga setiap bangun pagi, kau menyadari
tangan kananmu telah lama lumpuh. Dan batuk-batuk
mengi itu tak akan bisa mengalahkan semua deru:
maut yang senantiasa menyeberang dari arah gumuk.

Sementara, tak ada yang bisa membawamu pergi.
Kuda piaraanmu memilih diam di kandang dan
menolak apa saja bahkan ketika cambukan demi
cambukan mendera tubuhnya.

(Kau tahu, hanya kuda sejenis inilah yang pernah membuat
seorang filsuf bersedih dan hilang kewarasan di akhir hayatnya)

Barangkali sedikit palinka—dua atau tiga sloki di setiap pagi
yang tandus dan dingin—bisa memberimu keyakinan
bahwa hidup memang pengulangan-pengulangan,
nasib malang sendiri-sendiri, lapisan kerak kebosanan,
hukuman-hukuman berat tak terperi. 

Dan kau akan terus melawannya, bahkan jika tuhan telah hilang
dari ingatan semua orang.

Bahkan jika sepanjang hidupmu, makan malam
hanyalah sebiji kentang rebus hambar, hanya agar
kau terlihat wajar masih bisa merasakan perihnya lapar
di depan wajah anakmu yang dingin.

Tapi tak ada yang bisa kau sangkal, tak ada
yang benar-benar bisa menyangkalnya, bukan?

Waktu menyusut. Langit tak membentangkan apa-apa
selain mara bahaya. Api telah padam dari lentera dan
perapian. Nyala telah reda dari dadamu yang remuk itu.

Ampenan, 29 Januari 2022

Yang Lebih Karib dari Magrib

Di sini, apa yang lebih karib dari Magrib?
Bau garam selepas ombak mengantar debur,
ingatan sebujur pulau selepas kapal mengangkat sauh,
atau kenangan masa muda yang berdesir-desir
di tengkuk—sisa dermaga yang itu-itu saja,
yang tak pernah takluk dihantam-hantam usia?

Di sini, apa yang lebih dekat dari lengang?
Matahari pulang ke palung petang,
suara-suara dari surau, atau
mesin sampan yang bergetar parau?

Di sini, suara-suara
tak akan mengubah apa-apa—getar hatimu
tetap hening tak pernah pangling
pada laut yang berubah warna
pada apa saja yang terisap usia. 

Ampenan, 18 Desember 2021


Penulis:

Tjak S. Parlan, lahir di Banyuwangi, Jawa Timur. Menulis cerita pendek, puisi, esai, resensi, sejumlah feature perjalanan, dan novel. Sejumlah bukunya telah terbit, antara lain Kota yang Berumur Panjang (Basa-basi, 2017—Kumpulan Cerita Pendek), Berlabuh di Bumi Sikerei (Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, 2019—Feature Perjalanan), Sebuah Rumah di Bawah Menara (Rua Aksara, 2020—Kumpulan Cerita Pendek), Cinta Tak Pernah Fanatik (Rua Aksara, 2021—Kumpulan Puisi). Selain menulis, ia menekuni perwajahan (desain) buku dan media cetak (koran, majalah, bulletin, jurnal, zine). Saat ini mukim di Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.