Resensi Buku
Lelaki-Lelaki yang Berusaha Berdamai dengan Dunia

Lelaki-Lelaki yang Berusaha Berdamai dengan Dunia

Judul Buku: Lelaki-Lelaki Tanpa Perempuan
Penulis: Haruki Murakami
Penerjemah: Ribeka Ota
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit: April 2022
Tebal: v + 262 halaman

Pada awal 2022 film Drive My Car garapan Ryusuke Hamaguchi mendapat penghargaan Film Internasional Terbaik di ajang Academy Award atau Oscar. Selain itu, film berdurasi tiga jam tersebut juga dinominasikan dalam sejumlah kategori lain. Setelah Parasite pada 2019, Drive My Car boleh dibilang menjadi film Asia yang paling menarik perhatian dunia. Namun, saya tidak akan berbicara lebih jauh soal film atau menganalisis film itu. Yang ingin saya kemukakan adalah fakta bahwa film tersebut berasal dari buku yang akan sedikit saya ulas. Drive My Car tak lain adalah film yang diadaptasi dari cerpen Haruki Murakami berjudul sama ditambah sejumlah improvisasi (antara lain dengan bumbu berupa potongan cerpen Murakami yang lain berjudul “Syahrazad). Kedua cerpen itu—”Drive My Car” dan “Syahrazad”—termaktub dalam kumpulan cerpen Lelaki-Lelaki Tanpa Perempuan yang baru saja terbit dalam edisi bahasa Indonesia. Kesuksesan film Drive My Car secara tak langsung berutang pada buku Lelaki-Lelaki Tanpa Perempuan, dan itulah mengapa pembicaraan perihal buku ini perlu digaungkan.

Ada tujuh cerpen dalam buku ini, tujuh cerpen sangat panjang (rata-rata lebih dari tiga puluh halaman per cerpen) yang barangkali akan membuat sebagian pembaca cerpen-cerpen pengarang Indonesia terheran-heran dan kelelahan. Kekhasan Haruki Murakami yang peduli pada detail dan karakterisasi memang mau tidak mau membuat cerpen-cerpennya menjadi panjang. Namun, panjangnya cerpen dalam buku ini bukanlah sebuah kelemahan, malah sebaliknya. Dengan cerita-cerita yang panjang dan menyeluruh, kita dapat lebih memahami motif tindakan para tokoh sekaligus gejolak emosi mereka dalam merespons peristiwa-peristiwa yang terjadi. Lagi pula, gaya tutur Murakami yang sederhana, lincah, serta diselingi humor serta refleksi di sana-sini membuat cerpen-cerpennya enak untuk dinikmati.

Sebagaimana judulnya, cerpen-cerpen dalam buku ini terikat pada satu tema perihal kehidupan “lelaki-lelaki tanpa perempuan”. Meskipun judulnya begitu, bukan berarti semua cerpen bercerita tentang kesepian Adam sebelum Hawa diciptakan atau tentang para lelaki yang terpencil di suatu pulau tanpa penduduk perempuan. Tidak demikian. Para lelaki dalam buku ini pada mulanya justru adalah lelaki-lelaki yang hidup bersama perempuan. Namun karena berbagai alasan, mereka harus berpisah atau ditinggalkan perempuan-perempuan yang mereka cintai. Bagaimana respons mereka setelah tidak lagi hidup bersama perempuan-perempuan yang mereka cintai, itulah yang menjadi topik utama dalam Lelaki-Lelaki Tanpa Perempuan.

Cerpen pembuka yang sempat saya singgung di awal, “Drive My Car” berkisah perihal kehidupan Kafuku—seorang sutradara sekaligus aktor teater—selepas kematian istrinya. Kafuku sangat mencintai istrinya, bahkan ia tetap mencintai istrinya sekalipun ia mengetahui istrinya pernah tidur dengan sejumlah pria lain. Tentu saja Kafuku merasa sakit hati, tapi ia lebih memilih untuk menyembunyikan fakta bahwa ia mengetahui istrinya selingkuh ketimbang menegur istrinya. Sebab Kafuku tidak mau hubungannya dengan sang istri akan retak atau rusak jika ia membahas perselingkuhan itu. Soal perselingkuhan istrinya itu tidak Kafuku ceritakan kepada siapa pun sampai istrinya meninggal dan ia berjumpa dengan Misaki—sopir pribadi Kafuku yang merupakan seorang perempuan muda yang terbiasa hidup keras. Cerita banyak bergulir dalam bentuk percakapan antara Kafuku dan Misaki selama perjalanan mereka di dalam mobil. Apa dan bagaimana sikap Kafuku terhadap kematian istrinya dan perselingkuhan istrinya menjadi pokok bahasan cerpen ini.

Kisah-kisah mengenai lelaki yang diselingkuhi perempuan yang dicintainya juga maujud dalam tiga cerpen lain: “Yesterday”, “Organ Mandiri”, dan “Kino”. Walaupun dipertalikan oleh perempuan-perempuan yang berselingkuh, respons tokoh-tokoh lelaki dalam cerita-cerita itu beraneka ragam. Secara umum para lelaki itu menerima apa yang menimpa mereka. Tetapi apa yang saya maksud “menerima” di sini bukan berarti menyambutnya dengan tangan terbuka sambil tersenyum. Penerimaan para lelaki itu lebih bermakna penerimaan terhadap takdir, terhadap kehendak perempuan-perempuan mereka, yang apa boleh dibuat tidak bisa mereka paksa atau kendalikan sesuka hati.

“Bukankah mustahil bagi kita untuk bisa mengerti sepenuhnya apa yang dipikirkan oleh kaum perempuan?” (hlm. 35)

Kitaru yang slengekan dan humoris dalam “Yesterday” merespons rasa perih yang dialaminya dengan melanglang buana ke tempat-tempat jauh. Dokter Tokai yang bersahaja dalam “Organ Mandiri” mengurung diri di dalam rumah dan tidak makan berhari-hari sampai hari kematiannya setelah tahu perempuan yang ia cintai mengkhianatinya. Sementara itu, Kino dalam “Kino” memutuskan pindah rumah dan membangun bar seusai mendapati sang istri main serong dengan rekan kerjanya. Tidak ada di antara para lelaki itu yang memendam dendam kesumat atau melampiaskan sakit hati mereka dengan melakukan tindakan abusif terhadap perempuan-perempuan mereka. Bagaimanapun, mereka masih mencintai perempuan-perempuan itu. Tapi, cinta toh tidak cukup membuat suatu hubungan jadi abadi. Lagi pula, mencintai perempuan adalah perkara rumit. Para lelaki itu menanggapi hal rumit itu dengan cara pergi, menjauhi perempuan-perempuan yang mereka cintai tapi menyakiti mereka. Tapi biarpun sudah terpisah jauh, kadang-kadang mereka terkenang terhadap para perempuan itu dan mereka sadar hidup tidak lagi sama seperti saat masih bersama perempuan-perempuan yang mereka cintai.

Tiga cerpen lain (“Syahrazad”, “Samsa Jatuh Cinta”, dan “Lelaki-Lelaki Tanpa Perempuan”) tidak secara khusus mengisahkan para lelaki yang menjadi korban perselingkuhan, tapi masih membahas perkara relasi lelaki dan perempuan. Dalam cerita-cerita ini, lelaki selalu menjadi objek, menjadi pihak yang kebingungan dan kelimpungan ketika perempuan yang mereka harap selalu bersama mereka tiba-tiba pergi atau melakukan sesuatu yang sukar dipahami. Usaha-usaha para tokoh lelaki untuk memahami perempuan seperti terhadang tembok besar, yang mustahil mereka tembus sekeras apa pun upaya mereka kerahkan.

Pada akhirnya, apa yang bisa “lelaki-lelaki tanpa perempuan” lakukan ini hanyalah menerima segalanya dan berusaha berdamai dengan dunia. Berdamai dengan dunia kedengarannya memang terpuji dan mudah dilakukan. Namun cerpen-cerpen dalam Lelaki-Lelaki Tanpa Perempuan menunjukkan bahwa berdamai dengan dunia tidak segampang kelihatannya. Sebagaimana memahami perempuan, berdamai dengan dunia perlu usaha keras. Kadang-kadang usaha itu malah tidak membuahkan hasil sama sekali. Tetapi karena tidak ada lagi hal lebih baik yang bisa dilakukan, mereka tetap melakukannya. Dilihat dari sisi ini, buku Lelaki-Lelaki Tanpa Perempuan bisa juga dibaca sebagai buku pengembangan diri untuk membantu kita bersikap terhadap hal-hal rumit, hal-hal sulit, hal-hal yang mungkin tidak akan bisa kita tangani dan mengerti.

“Aku berdoa, meski tanpa aku semoga M bahagia dan tenang bersama musik elevator yang tak kan pudar selama-lamanya. Sebagai salah seorang dari lelaki-lelaki tanpa perempuan, aku berdoa demikian dari lubuk hatiku. Sepertinya tak ada yang bisa kulakukan selain berdoa. Setidaknya saat ini. Mungkin.” (hlm. 262) []


Penulis:

Erwin Setia lahir pada 14 September  1998. Penulis lepas. Menulis cerpen dan esai. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Jawa Pos, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, dan Detik.com. Cerpennya terkumpul antara lain dalam antologi bersama Dosa di Hutan Terlarang (2018) dan Berita Kehilangan (2021) Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected]

Leave a Reply

Your email address will not be published.