Esai
Misi Puisi, Tradisi, dan Keabadian Cinta

Misi Puisi, Tradisi, dan Keabadian Cinta

MEMBAHAS ihwal sejarah, cerita rakyat, mitos, dongeng dan kemudian membacanya terkait perihal keabadian, ketakterhinggaan, kemahaluasan kemungkinan tafsir, tentu sesuatu hasrat besar, kompleks, bahkan mungkin mustahil dapat memaknainya dengan bajik.

Namun, tak ada ikhtiar memahami yang mustahil dari sebalik misi puisi sebagaimana dikatakan bahwa misi puisi adalah; membingungkan, rumit, tidak jelas, sulit dan aneh. (Adonis, 2012 Jilid 4: 13-14).

Deret kalimat di atas adalah parafrasa dari judul buku antologi puisi A. Syauqi Sumbawi Waktu Pintu Batu (2022). Buku puisi yang boleh dikata merayakan cinta—adakah hajat hidup, juga puisi yang menghindarkan diri dari cinta?  Setidaknya nukilan perihal cinta ini sebagaimana diteguhkan di lembar pembuka buku.

jika perintah pertama, bacalah!
maka berikutnya, tulislah!
aku ingin menulisnya dalam cinta.

Dengan kata lain, Syauqi telah mengibarkan panji tradisi—Al Quran, Surat Al Alaq ayat 1—yang mapan dalam pemaknaan, yang menjadi otoritas kebenaran tunggal.

Parafrasa dari judul tersebut, pendeknya perihal waktu yang dalam kosa kata tasawuf; wilayah batin sebagaimana ruang-waktu nyata sekalipun dilenyapkannya oleh subjek. Tanpa wujud, alias palsu, fana. Wujud yang sebenarnya, yang abadi hanyalah batin, jiwa. Lantas, jika jendela adalah visi realitas kegaiban, maka pintu adalah jalan keluar-masuknya ikhtiar mendapatkan pengetahuan masa depan. Tentu ini mengingatkan idiom “pintu hati,” “pintu batin,” Syekh Abdul Qadir Jaelani. Sedangkan Imaji batu, tampaknya lebih pada wilayah imajinasi—ketakterhinggaan. Inilah yang disebut Victor Hugo, romantisme; ketakterhinggaan dan dalam kegaiban. Kerinduan terhadap kekekalan.

Parafrasa semacam itu dalam tradisi puisi kita, mengingatkan sejumlah pendapat pasal wilayah pertama dan muasal puisi modern kita, sejak S. Takdir Alisyahbana (STA).  Yakni; Peristiwa, Bunyi, dan Imaji.

Dapat dikatakan pula ini parafrasa lain dari buku Syauqi Sumbawi tersebut. Mula-mula adalah peristiwa, dan kata adalah pemulihan dari itu—juga nada, bunyi, (Hartoyo Andangdjaja, penyair angkatan 66 menulis buku berjudul buku Dari Sunyi Ke Bunyi, Sapardi Djoko Damono dalam sebuah wawancara dengan Najwa Shihab mengatakan puisi adalah bunyi). Dan puisi dibangun atas kata termasuk di dalamnya imaji—penanda sesuatu, dan juga tabir, dan dengannya puisi dalam bahasa Derrida “menyanyikan dirinya tak putus-putusnya dan tak henti-hentinya menghilang melalui lubang-lubang pintu yang bersinar terang seperti cermin dan terbuang ke dalam sebuah labirin.” (Goenawan Mohamad, Puisi dan Anti Puisi, Hal: 50)

Parafrasa serupa ini ditulis ringkas oleh Syauqi Sumbawi dalam nukilan dari sebuah puisinya;


telah kudengar kisah lainnya, peristiwa
yang tak pernah sempurna, hanya suara-suara
saling sahut di balik selimut, kabut
narasi pohon tumbuh

cabang dan dahan
ranting dan daun
beda dan ragam selalu

(Darasa, Hal. 44)

Visi keabadian ruang waktu peristiwa, ketakterhinggaan pintu kegaiban, kemahaluasan imaji tafsir, bertebaran sebagaimana dalam  puisi pertama, buku ini, Dongeng Batu Yang Menunggu (Hal 2).; “waktu menyentuhkan jadi batu,” “waktu batu diriku, waktu pintu dirimu,” “tapi penantianku batu, tapi penantianmu pintu.”

Perihal Kebebasan dan Eksistensi
Dalam sebuah pengantarnya yang ditulis sendiri oleh Syauqi Sumbawi (?) tentang “makhluk puitika” hal ini mengingatkan pada sepenggal tradisi riwayat puisi, bahwa puisi pertama di bumi dilisankan Adam, baru kemudian Jin dan Malaikat. Dengan kata lain, Syauqi penganut tradisi riwayat ini.

Menarik untuk ditelisik, diulik dan tentu saja diperdebatkan, katanya, puisi-puisi dalam buku pemenang Sayembara Manuskrip Puisi Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) 2021 ini menampilkan penggalan sejarah, cerita rakyat dan kearifan lokal dari waktu ke waktu.

Setidaknya dalam bingkai puisi menerbitkan pertanyaan perihal penafsiran, pemahaman, pemaknaan teks.  Apakah teks sejarah yang dimaksudkan terhubung dengan metode, kode etik sejarah, ataukah dekonstruksi sejarah, sejarah baru misalnya, sejarah sebagai sastra dan sastra sebagai sejarah? Juga cerita rakyat, dongeng yang terang begitu banyak dalam judul-judul puisi yang tampaknya juga berbaur dalam sejarah maupun cerita rakyat dan dongeng itu sendiri? 

Kepelikan dan karut marut hadirnya teks dalam mitos—sastra sebagai mitos—bagi pembaca, dalam kacamata kredo Stephane Mallarme “karya yang murni mengandung sirnanya sang penyair sebagai pembicara,” amat menguntungkan, inspiratif. Sebaliknya, bagi penyair mengundang pertanyaan besar terkait dengan sikapnya atas tradisi. Apakah ia melestarikan, ataukah memodernkan, mendekonstruksi—mengacaukan, demi karya baru yang lebih segar yang nyaris tak bisa mengambil keputusan makna? Tak lain inilah kebebasan kreatif di antara teks-teks lain, intertekstualitas, dan seperti kata Jacques Derrida, semua adalah teks.

Seorang yang disebut-sebut sebagai pioner Realisme Sufisme, Jibran Kahlil Jibran, tentang kebebasan ia menyebut memiliki anak-anak;  mati tersalib, mati karena gila, dan belum dilahirkan (Adonis, 2012 Jilid 4: 185) Dengan kata lain, kebebasan hanya bisa tercapai dengan penyaliban dan gila. Tanpa tujuan kebebasan, eksistensi manusia tidak akan pernah ada.

Mungkin, Syauqi Sumbawi tak berpretensi menulis puisi dalam buku ini atas nama tasawuf, sufisme, atau dunia batin. Terlebih, dalam pengantarnya ia mengungkai ihwal kearifan lokal, yang tak lain mirip sikap romantik yang mendasari STA, dan dibahasakan sebagai ‘bersimaharajalelanya perasaan dan fantasi.’

Made Supriyatna dalam suatu tulisan pendeknya, mengingatkan untuk patut mewaspadai. Bahwa: Kearifan lokal adalah romantisasi dari sesuatu yang lokal, yang sesungguhnya hanya ada dalam imajinasi dan tidak pernah dipraktikkan. Ia laku dijual dan laku untuk menipu orang yang tidak paham karena kandungan eksotismenya.

Mengkonkretkan Wujud Batin
Puisi Darasa, dan yang sebagai parafrasa judul telah dikutip di atas, memperlihatkan kompleksitas visi batin-kegaibannya, adalah salah satu dari puisi yang sebagian besar ber-simbol, ber-isyarat makrifat sebagai suatu syarat—memang tak ada bahasa biasa paling efektif apalagi komunikatif untuk memindahkan pengalaman batin. Mari cermati simbol daun, dahan, cabang, ranting,  akar (dan juga pada puisi Kisah Pohon, Hal.50).

di sepanjang batas dan antara
telah kudengar nama-nama
dahulu pernah diajarkan

sebelum lupa
sebelum lepas daun-daun (Hal.43)

…..
namun yang tereja hanya samar
seperti namaku, darasa

yang terus belajar
yang mencari tahu
:rahasia semesta (Hal.45)

Meski jalan cinta dalam puisi ini adalah melalui simbol-simbol makrifat namun demikian penyair tak mendekonstruksi tradisi. Pencarian aku lirik atas rahasia semesta dilakukannya dengan men-daras (mengaji, seringkali merujuk tradisi-otoritas kitab suci). Serta menutup sajaknya dengan pencapaian ideologis seorang nabi atau malaikat di langit keempat—sebagai mitos yang merujuk surat At-Talaq ayat 12. Hal yang serupa pada puisi Hikayat Biru yang mengkonstruksi kisah cinta yang tak sempurna dua putra Adam, yakni takdir Qabil dan Habil (QS Al Ma’idah 5:31). Syauqi menutup puisinya dengan pesan: tulislah warna duka, bukan getah, bukan darah (Hal. 47).

Puisi-puisi yang terkumpul dalam fragmen kedua; Hujan Tanah Lumpur, barangkali dimaksudkan untuk memberi pembeda ruang pembacaan, meski berbingkai sesuatu yang kurang mengena; kearifan lokal. Puisi Kisah Pohon, misalnya, secara gamblang merepresentasikan simbol yang mengacu pada tasawuf. Tepatnya Kitab Sirr al-Asrar karangan Syekh Abdul Qadir Jaelani. Syariat adalah pohon, tarekat adalah rantingnya, makrifatnya daun, hakikat adalah buahnya.

nikmati buah dan keabadian
senikmat waktu yang tercipta
–sebelum dosa—

pada sebatang pohon, dahan dan ranting
bergetah, seperti luka yang mongering
bersama angin, daun-daun menutup wajah

melayangkan kesadaran
bayangan dosa

(Kisah Pohon, Hal. 50)

Entah mengapa, Syauqi tidak banyak mengeksplorasi buah, dari sejumlah puisi yang menampilkan imaji-imaji simbol pohon. Penyair banyak bergelut dengan tanah, bumi, bengawan, hujan, angin, rumput, lumpur. Meski demikian, terang puisi-puisi Syauqi sedang ikhtiar mengkonkretkan abstraksi-abstraksi wujud batin yang yang benar-benar ada, melalui diksi “rasa”—hati, batin, hidayah. Sebagaimana puisi Kisah Pohon sendiri ditutup dengan “pijaklah bumi rasai manusia bersama waktu daun-daun.”

Ihwal serupa, sejumlah puisi lainnya, tercatat;

pada kuning warnanya, kulihat manusia
        memanen rasa
musim-musim sebelum bongkah
dan remah yang tanah
(Remah Tanah, Hal. 52)

kubaca juga, seorang petani memanen
rasa, dalam hening, dalam bening
yang menerima segala warna
(Ritual Bumi, Hal. 61)

Di antara sedikit puisi yang menampilkan diksi dan simbol buah, adalah;

di sekitar pematang
runduk padi menguning
adalah buah segala cinta
(Hijau Sekitar Pematang, Hal 62)

seekor ular diam-diam mendekati pohon
tempat berteduh, menikmati bekal
     dari rumah, juga buah
     yang terjatuh dari tangkainya
(Seekor Ular dan Bocah-bocah di Lumpur Sawah, Hal. 64)

Buah, boleh dikata jika patut disebut sebagai ‘kosmologi,’ adalah pusat pengetahuan dan cinta sekaligus. Tujuan akhir, atau tujuan tiada akhir oleh karena ketakterhinggaannya. Bila dunia materi adalah wujud keberadaan indrawi manusia, peristiwa adalah bukti keberadaan pikiran, akal, maka cinta adalah wujud sejati hati, batin, rasa manusia, keabadiannya. Cinta dalam arti ketiadaan diri dan kebersamaan dengan Yang Abadi. Inilah suasana, situasi, kondisi, perilaku, hakikat “kebersamaan” “penyatuan” dengan Yang Abadi. Dengan demikian Puisi Cinta artinya puisi suasana. Puisi yang berani mengasingkan jiwa-jiwa demi atas nama hakikat penemuan kembali sang penyair. Suasana, yang mengingatkan pada ‘peristiwa pembacaan’—nya Derrida. Peristiwa bukanlah metode, langkah, atau tahapan sejenis syariat, tarekat, hakikat, makrifat.

Lantas, sudahkah puisi-puisi Syauqi Sumbawi memiliki keberanian pengasingan jiwa tersebut dan bisa dikenali, dirasakan dan dikomunikasikan melalui bahasa simbol dan isyarat?

Antara Puisi, Esai, Uraian Filsafat
Masalah sejarah, cerita rakyat, dongeng oleh karena panji-panjinya telah dikibarkan oleh sang penyair, sebagaimana atas kitab suci maka penting untuk menjadi perhatian, kehadiran dan ketidakhadirannya sebagai suatu teks tradisi. Teks yang kehadirannya dan pertanyaan atasnya penting dijawab dimapankan, diperkaya, ataukah dimodernisasi, diubah, didekonstruksi. Terlebih begitu bertebaran dalam puisi-puisi di fragmen satu.

Tampaknya penyair lebih banyak mengukuhkannya, yang dalam bahasa Adonis merayakan kemapanan—baik dalam memahami maupun mengevaluasi, (dalam pemaknaan) menjadi otoritas epistemologis.

Dan puisi memuluskan posisi teks tradisi ini. Dengan kata lain, dalam antologi ini yang kehadiran teksnya demikian penting, namun menjadi tidak penting apakah itu sejarah, cerita rakyat, dongeng, mitos, agama, dan sebagainya. Intertekstualitas yang lebih banyak menghadirkan masa lalu, katakanlah romantisme tradisional, untuk ditimbang gerak cepatnya untuk masa kini dan masa depan. Sebagai sebuah tradisi, lebih cenderung mapan, alias mandeg ketimbang berlari atau berjalan ke depan.  

Kiranya itulah sebabnya Raudal Tanjung Banua mencatat, sekalipun citraan sosok-sosok wiracarita dalam puisi, seperti Ranggalawe, Kertanegara, Calon Arang, Jaka Tarub, Nawang Wulan, Candra Kirana,hingga Nyi Ageng Pinatih, demikian kuat hal itu banyak celah untuk digugat.

Lantas, benarkah puisi memuluskan posisi teks tradisi? Sebaliknya, apa yang dihadapi puisi terkait dengan misi puisi seperti dicatat di atas? Kutipan berikut ini barangkali bisa menggambarkannya;

yang tertengara pada peta
yang terekam dalam cerita
yang pernah tidur bersama mimpi

buruk, pasukan beribu kapal
ngluruk dari daratan utara

…..
juga perang saudara
atas nama kebenaran, atas nama keadilan
     adipati ronggolawe, melawan dan tenggelam di aliran
     sungai selatan
mengalirkan nasib manusia
darah dan pekat tanah

…..
seperti juga aku yang beranjak pergi
     bersama waktu
     juga ingatan
     yang kian dangkal

(Dongeng Sebuah Pelabuhan, Hal. 5-6)

Kutipan pertama melesakkan teks sejarah, yang potensinya justru menerbitkan sepotong esai pada kutipan kedua, sekalipun ditutup kutipan ketiga dengan kecamuk batin di hadapan ingatan, masa lalu. Sebuah esai cenderung sebagai lukisan pikiran-pikiran meski cerdas dan memikat. Esai bukan puisi yang pada dirinya penanda, tabir, sekaligus nyanyian dan gema. Sebuah esai beresiko meruntuhkan puisi ke dalam semacam Puisi Esai sonder catatan kaki (?).

Boleh jadi, selain esai, uraian semacam filsafat eksistensial, metafisika kecemasan, kesepian, takdir, cinta, menjadi alasan serupa bisa tampil dalam puisi Dongeng Tarub Wulan (Hal. 7-12). Bahkan puisi ini ditutup dengan sepotong pesan;

dan ingatlah, ketika purnama tiba
dongengkan dia, di amben depan rumah
tentang ibu
     yang menyapa dengan cahaya
     yang menunggu bersama doa-doa.

Hal serupa diperlihatkan oleh puisi Filosofi Empat, Drajat (Hal. 31-34). Boleh jadi ini termasuk pula yang disebut-sebut puisi kuat dalam kearifan lokal, sebagaimana pada puisi Dongeng Kupatan, di Paciran (Hal. 29-30).  Dua puisi ini menebar mitos-mitos tentang langgar, pasar, ruas jalan, rumah, lalu perihal lebaran, leburan, luberan, laburan.

Pada puisi Dongeng Tongkat di Drajat (Hal.35-37) sejumlah teks tradisi, mitos yang hadir di antaranya riwayat tentang tongkat Musa, brandal Lokajaya, serta salah satu nasihat terkait tongkat dalam catur piwulang, Sunan Drajat; wenehono teken marang wong kang wutho—berilah tongkat kepada yang buta. Penting untuk dikutip karena dalam kontek pembicaraan tafsir atas tradisi puisi ini cukup menarik;

duh, gusti pengeran
     terdengar isaknya
     putus asa 

lalu kau memapahnya, ke padasan
lalu kau menuntunnya, duduk di pelataran
     di hadapan orang-orang
kau pun mengulurkan sebuah tongkat
kepadanya, tongkat yang sama
seperti mereka punya
     untuk perjalanan
     pulang 

dalam
rahasia jadi
entah apa

Betapa puisi ini amat memikat di antara berbaurnya mitos, sejarah, dongeng, cerita rakyat, dengan tafsir anyar, tradisi dan pembaruan, masa lalu dan masa depan, yang lahir maupun batin, indrawi maupun mata hati.  Tampak sekali penyair berhasil mengasingkan diri, dengan tongkat yang sama di masa lalu, juga dengan wujud yang nyata di masa lalu. Pendeknya menembus suatu rahasia—yang tetap menjadi rahasia. Puisi yang mulus memasuki wilayah cinta, batin, hati di antara kepungan begitu banyak tradisi, jarak dan ruang waktu begitu nyata dan menganga.

Melebur Horizon Pemaknaan
Ikhtiar penyair mengasingkan diri untuk menemukan wujud batinnya dalam setiap puisinya sebagian besar tercium jejaknya. Agak sulit menguraikan oleh karena kompleksitas visinya. Barangkali dapat disederhanakan; jika saja kerja menulis puisi adalah suatu pembacaan atas teks: memahami, menafsirkan, memaknai, memberi arti, A. Syauqi Sumbawi, penyair Antologi Puisi Waktu Pintu Batu (Rumah Semesta Hikmah, 2022) ini merangkum kerja rekonstruksi, produksi horizon makna, sekaligus dekonstruksi.

Agaknya, penyair berlatar pendidikan sejarah ini, peraih sejumlah penghargaaan KSI Award 2013, Payakumbuh Poetry Festival 2020 dan 2021, Anugerah Sotasoma Balai Bahasa Jawa Timur 2021, kerja kepenyairannya lebih cenderung mirip tafsir Hans-Georg Gadamer. Ia mengerahkan segala pengetahuan sebagai horizon-horizon yang kemudian dilebur demi menjangkau horizon masa silam teks untuk memahaminya secara lebih kreatif dan kaya. Sebagaimana puisinya memberi ruang untuk itu ketimbang betul-betul mempertahankan makna asli intertekstual yang dihadirkan atau memporak-porandakannya.

A. Syauqi Sumbawi sebagai penyair yang merangkap novelis, cerpenis, esais, kritikus sastra dan seni, barangkali cukup bisa dijadikan sebagai petunjuk akan kecenderungannya tersebut.[]


Penulis:

S. Jai.  Lahir di Kediri, 4 Februari 1972.  Pengarang sejumlah novel. Yang terbaru, Ngrong (2019), masuk 10 besar penghargaan sastra nongkrong.co award 2021. Novelnya Kumara, Hikayat Sang Kekasih memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jatim (2012). Penerima Penghargaan Gubernur Jatim (2015), Peraih Penghargaan Sotasoma dari Balai Bahasa Jatim untuk buku kritik terbaik, Postmitos (2019).  Tinggal di Ngimbang, Lamongan.

Tags :

2 thoughts on “Misi Puisi, Tradisi, dan Keabadian Cinta

Leave a Reply

Your email address will not be published.