Cerpen
Perempuan di Bangunan Sebelah

Perempuan di Bangunan Sebelah

PERLAHAN mata Gafo terbuka. Kesadarannya setengah-setengah. Bayang-bayang pecahan gelas dan darah-darah di genggaman tangannya, wajah pelayan yang panik, dan obat-obatan yang berserakan, terus berputar-putar di kepalanya. Lalu Gafo melihat di sampingnya seorang perempuan memakai jas putih berusia tiga puluhan sedang tersenyum kepadanya. Perempuan itu mengatakan semua baik-baik saja. Tidak perlu khawatir, dan jangan malas minum obat.

“Kau malaikat?”

“Aku Nataly.”

“Mau membantuku masturbasi?”

Perempuan itu hanya tersenyum. Dan setelah itu mata Gafo terpejam lagi. Ia akan tertidur lebih lama hari ini.

***

Ada dua pelayan dan satu perawat di rumah besar itu. Pelayan satunya seorang perempuan muda dua puluhan. Dia cukup gesit mengurus seluruh pekerjaan rumah, termasuk membuatkan Gafo sup jamur merang hampir setiap hari. Pelayan satunya lagi laki-laki yang rambutnya sudah mulai beruban. Ia mengurus kebun, listrik, saluran air, dan supir pribadi, termasuk mengantar si pelayan perempuan belanja ke pasar tradisional yang tidak begitu jauh dari rumah tersebut.

Sedangkan si perawat, dia adalah seorang laki-laki paruh baya seusia Gafo. Ia tampil segar dengan bola mata menonjol keluar dan mata itu berbinar. Perawakannya kurus. Sebagai perawat, pekerjaannya hanya mengurus Gafo seperti memberikan obat, membersihkan badan, termasuk bagian paling menjijikkan, yaitu urusan buang hajat.

Pelayan perempuan menaruh sup jamur merang berikut nasi beras merah dan air putih di meja tepat di muka jendela yang menganga. Uap mengepul dari mangkuk sup seolah terperangkap cahaya matahari pagi yang jatuh dari jendela yang seperti sengaja melingkari seluruh permukaan meja.

“Silahkan makan, Tuan. Biar kubantu pindah ke kursi roda.”

“Tidak usah membantuku melakukan hal-hal kecil semacam itu. Gerakan sekecil itu masih mampu aku lakukan sendiri. Tolong buatkan aku teh jeruk lemon saja. Selesai makan, aku mau minum itu.”

“Hmm. Baiklah, Tuan.” Pelayan itu berkata begitu sambil membungkuk pergi dengan menjinjing baki.

Gafo memang terlihat lebih semangat belakangan, tepatnya setelah rumah di samping diisi oleh penghuni baru. Seorang perempuan cantik paruh baya yang selalu melambaikan tangannya di jendela. Entah kenapa hal kecil itu membuat Gafo bergairah dan mempunyai semangat hidup kembali setelah bertahun-tahun ia tak berdaya digerogoti penyakit, tidak lama setelah perayaan ulang tahunnya yang kelima puluh.

Pada malam itu, setelah semua tamu pulang dan tinggallah Gafo bersama beberapa petugas catering yang sedang berbenah—juga dua orang pelayan pribadinya—tiba-tiba saja ia pusing luar biasa, lalu begitu cepat setelah itu. Ketika sadarkan diri ia sudah terbaring di rumah sakit. Seluruh badannya lemas, terutama kakinya.

Gafo yang sebatang kara benar-benar kehilangan gairah hidup. Seolah jiwanya sudah mati sejak saat itu. Ia lebih banyak menyendiri dan menghabiskan waktu dengan melamun di balik jendela, di atas kursi rodanya. Lalu, sejak perempuan itu muncul, perlahan hidupnya mulai bergairah lagi.

Gafo memandang keluar jendela, ke arah bangunan di samping. Jendela kamar itu terbuka. Si perempuan cantik merekahkan senyum sangat manis. Gafo membalas senyumam itu sambil melambaikan tangan.

Tiba-tiba pintu kamar Gafo terbuka. Pelayannya datang dengan segelas teh jeruk lemon yang mengepul.

“Hei, mengapa tidak mengetuk pintu dulu?”

“M-maaf, Tuan.”

Pelayan itu menaruh teh jeruk lemon dengan tergesa di meja dekat jendela.

“Bantu aku pindah ke kursi roda. Ya, memang aku bisa. Hanya saja aku ingin lebih cepat.”

“Baik.”

Pelayan itu melingkarkan tangan Gafo di pundaknya. Dengan begitu Gafo bisa bergerak dan memindahkan tubuhnya ke kursi roda.

“Maaf sekali lagi, Tuan melihat rumah itu?” tanya perempuan itu sambil mendorong kursi roda ke muka jendela.

“Jangan banyak bicara! Cepat keluar!”

“I-iya.”

Dengan tergesa, pelayan tersebut pergi.

Di sana, jendela kamar itu masih terbuka, tapi perempuan cantik itu sudah tidak ada. Gafo menghela napas panjang sambil meraih mangkuk sup di meja.

***

Esoknya Gafo bangun lebih pagi. Ia tidak berteriak memanggil pelayan. Semalam sengaja ia tidur dengan jendela terbuka. Ia meminta pada pelayan dan semua orang di rumah supaya tidak menutup jendela, meski ia sudah tertidur.

Gafo langsung melihat ke arah bangunan itu. Di luar dugaannya, sepagi ini bidadari itu sudah bangun. Ini seperti keberuntungan. Sang perempuan sedang berolahraga kecil di balkon kamarnya. Gafo memperhatikan dengan seksama, betapa indah setiap lekuk di tubuhnya. Gafo menelan liur. Ketika si perempuan melakukan gerakan-gerakan kecil, dia terlihat begitu seksi. Udara dingin membuat pikiran Gafo liar. Celana dalamnya tiba-tiba sesak.

Perempuan itu menoleh. Dia lantas seperti biasa melambaikan tangannya ke arah Gafo. Lalu, ia menulis sesuatu di meja. Entah itu papan atau karton, perempuan itu mengangkatnya tinggi-tinggi. Gafo bisa membacanya dengan jelas karena ditulis dengan besar. SEMANGAT! Hanya satu kata itu saja, tapi cukup membuat Gafo gelagapan. Gafo senang bukan kepalang. Gafo ingin membalasnya, tapi keadaan kamarnya yang remang hal itu bukan ide yang baik.

Siangnya, setelah sarapan, Gafo meminta pelayan menyediakannya sebuah papan dan spidol.

***

Semua berjalan sesuai yang Gafo harapkan. Setiap hari di balkon, mereka saling membalas tulisan, sampai akhirnya mereka bertukar nomer ponsel.

‘Hai, Tuan. Mau sarapan lain’

‘Ada ide?’

‘Makanan pedas. Mau?’

‘Sebenarnya aku tidak suka pedas.’

‘Coba saja, tapi jika itu mengganggu kesehatanmu, tidak usah dilakukan.’

‘Aku akan mencobanya.’

Esoknya Gafo meminta dibuatkan masakan pedas. Pelayan sampai terheran-heran, tapi Gafo benar-benar melahap makanan pedas itu sampai habis.

‘Suka, gak?’ Perempuan itu mengirimkan pesan diakhiri dengan emoticon tertawa.

‘Sedikit aneh. Tapi, aku memakan habis semua.’

Perempuan itu mengirim tiga emoticon tertawa sekaligus.

‘Aku ingin bertemu denganmu. Aku akan berkunjung ke rumahmu kalau boleh. Lagi pula, kita tetangga dekat.’

Cukup lama, perempuan itu tidak membalas.

‘Aku anggap boleh, karena kamu diam.’

Gafo lantas berteriak memanggil pelayan. Beberapa detik saja si pelayan laki-laki sudah ada di hadapan Gafo.

”Apa yang Tuan butuhkan?”

“Aku ingin berkunjung ke rumah sebelah. Tolong bantu aku pergi ke sana.”

“Tapi, Tuan ….”

“Jangan membantah!”

“Baik, Tuan.”

Pelayan itu memindahkan tubuh Gafo ke kursi roda. Gafo juga meminta disemprotkan parfum ke sekujur tubuhnya.

Sesampainya di depan pagar rumah itu, si pelayan sangat gugup. Di depan mata, Gafo menatap sebuah rumah besar tak terurus. Dari sela-sela pagar ia mengamati rumput-rumput tinggi yang seakan tidak pernah tersentuh.

“Kita pulang saja. Ini hanya rumah kosong.”

“Bodoh! Ada seorang perempuan tinggal di sana. Mungkin kamu tidak tahu. Kami sudah saling kenal. Kami bahkan sudah berkirim pesan lewat ponsel.”

“Tidak ada, Tuan. Mohon maaf, itu hanya halusinasi Tuan karena sudah lama tidak minum obat dari Dokter Nataly. Sejak Tuan memecahkan gelas yang membuat tangan Tuan terluka dan Tuan membanting baki berisi obat-obatan, Tuan tidak pernah lagi minum obat. Mohon maaf. Ini kelalaian saya karena tidak bisa memaksa Tuan lagi sejak hari itu.”

“Omong kosong! Kami baru saja berkirim pesan online tadi.”

“Tuan bahkan tidak memegang ponsel sejak setahun terakhir.”

Suasana tiba-tiba gelap. Langit seolah mendung. Gafo masih membayangkan bagaimana perempuan itu mengedipkan mata sayunya setiap pagi. Gafo lantas merasakan sakit kepala luar biasa. Gafo berteriak sekuat tenaga. Si pelayan panik bukan kepalang.

~ 2022.


Penulis:

Galuh Ayara adalah penulis buku Nyanyian Origami. Beberapa karyanya dimuat di beberapa media.

Leave a Reply

Your email address will not be published.