Resensi Buku
Para Pemengaruh Buku: Kuasa dan Keterlibatannya

Para Pemengaruh Buku: Kuasa dan Keterlibatannya

Setahun yang lalu, Indah Santi Pratidina menerbitkan jurnal dengan judul “The Appetite for Revenge and Murder in Translation: Japanese Mystery Novels and their Social Media Savvy Indonesian Readers”. Fokus utama penelitian itu untuk melihat sejauh mana animo pembaca Indonesia atas terbitan buku-buku bertema misteri karya penulis Jepang: novel Girls in The Dark karya Rikako Akiyoshi dan Confessions karya Minato Kanae. Dan sebagai penelitian yang menggabungkan dua pendekatan sekaligus, yaitu studi penerjemahan dan studi media dalam konteks media baru, penelitian tersebut menghasilkan sesuatu yang menarik.

Indah menyimpulkan, ada pergerakan baru yang digerakkan para pelaku perbukuan dalam mengenalkan karya terbitan mereka. Media sosial, dalam hal ini, adalah perangkat penting yang menjadi kunci dari suksesnya pendekatan mereka. Penerbit dari dua karya terjemahan tadi, Penerbit Haru, sadar betul bahwa untuk menggaet minat para pengikutnya, mestilah dilakukan sejumlah interaksi yang kelak mendorong terbentuknya ikatan antara karya, penerbit, dan pembaca itu sendiri. Dalam kasus Confessions karya Minato Kanae, misalnya. Terbitan itu dimaksudkan untuk mengenalkan salah satu subgenre misteri di Jepang yang biasa disebut “Iya-Misu”. Adapun arti “Iya-Misu” sendiri, pendeknya, subgenre ini berarti karya yang menyoroti sisi terkelam manusia sekaligus menyinggung isu-isu yang terjadi di masyarakat.  

Awalnya, ada ketakutan dari sisi penerbit atas ketidakyakinan kalau pembaca Indonesia tidak bisa menerima karya dengan subgenre itu. Namun, melihat kebanyakan pembaca Indonesia sudah lebih dulu akrab dengan karya bertema sejenis, yakni karya-karya Akiyoshi Rikako, penerbit Haru tetap optimis. Judul novel itu diumumkan di kanal Instagram mereka, berikut sejumlah informasi yang mengundang perhatian para calon pembacanya. Potongan-potongan bagian dari cerita, baik yang berisi informasi penulis dan penerjemahan maupun isi dari cerita di dalamnya, tak luput dimunculkan sebagai salah satu bentuk strategi mereka. Dan saat melihat itu, tentu tak sedikit dari pembaca kita yang tertarik dan penasaran. Terbukti, sejak kali pertama diluncurkan sampai bulan November tahun kemarin, novel itu sudah  enam kali mengalami cetak ulang. Ya, pembaca kita menerimanya.

Apakah kesuksesan itu semata berkat upaya dan strategi dari pihak penerbit saja? Penelitian yang Indah lakukan menunjukkan hal lain. Kesuksesan sebuah buku hingga diterima di masyarakat, bagaimanapun, juga ditunjang oleh iklim di luar pelaku perbukuan itu sendiri. Di sini, para pembaca menunjukkan peran yang tak bisa diremehkan. Dengan pancingan dari pihak penerbit, berupa tantangan membaca dan penulisan ulasan, pemberian hadiah cuma-cuma, dan sejumlah forum dialog bertema perbukuan, sinergi di antara para pembaca pun terbentuk. Hasil dari pembacaan mereka tidak berhenti untuk diri mereka sendiri, sebab dengan membagikan ulasan atau kesan mereka di dua media utama, yaitu Instagram dan You Tube, mereka turut menyebarkan gagasan ataupun opini yang berkaitan dengan buku tersebut.

Hasilnya, komunikasi yang terjalin tidak satu arah atau mandek, tetapi terus berlanjut dan menyebar tanpa adanya sekat yang berarti. Sekian ribu orang yang menonton atau melihat postingan mereka, sangat mungkin tergerak untuk turut melirik buku yang sedang dibahas. Mereka menjadi bakal baru dari pembaca yang penasaran, melahap bacaannya, sampai kemudian membagikannya lagi. Dan rantai ini, semakin panjang adanya. Kesinambungan antara penerbit, karya, dan pembaca pun makin erat. Kendala bahasa asing yang tadinya membatasi sekian pembaca untuk mengkonsumsi karya-karya seperti milik Minato Kanae ini runtuh. Kini kita melihat geliat penerbitan karya terjemahan kian gencar dilakukan. Apa yang disuguhkan di hadapan pembaca yang haus bacaan pun semakin banyak ragamnya. Tahun ini saja, novel ketiga Minato Kanae, Ferris Wheel at Night, baru dirilis dan tidak terlihat penyurutan minat pembaca yang menantikan karya dari penulis tersebut.  

Posisi Para Pemengaruh Buku
Tidak bisa kita pungkiri, para pemengaruh buku atau bookfluencer menjadi fenomena sekaligus penanda perubahan dalam perkembangan arus perbukuan di dunia. Kalau dahulu kita sebatas mengenal pengulas buku di media massa atau majalah, kini kita dihadapkan pada kehadiran para pengulas buku di media sosial (khususnya Instagram). Di mata sebagian orang, keberadaan mereka mungkin terlihat sepele saja, tidak lebih dari seorang yang membagikan hasil pengalaman membacanya di postingan mereka, dan bisa terkesan bukan pelaku penghasil tulisan berbobot—kalau kita membandingkannya dengan tulisan yang rilis di media massa yang cenderung harus melewati proses kurasi yang ketat, misalnya. Namun begitu, tidak berarti mereka tidak memiliki keberfungsian yang besar dalam peta penyebaran buku di tanah air, bahkan di skala dunia sekalipun. Sebab, keberadaan mereka dewasa ini justru menempati posisi yang penting baik bagi pelaku perbukuan sendiri maupun masyarakat secara umum. Mereka, sebagai pembentuk budaya partisipatif (participatory culture) melalui sosial media, adalah perpanjangan dari upaya penyebaran gagasan, opini, informasi, dan kebermanfaatan lainnya bagi masyarakat luas.

Kita bisa melihat salah satu contohnya dalam upaya mengenalkan karya penulis Jepang yang dilakukan penerbit Haru tadi. Mereka memiliki keinginan untuk menghadirkan karya dengan kecenderungan yang lebih beragam lagi. Spesifiknya, mereka ingin nama Minato Kanae dan sub-genre misteri yang melatarinya, yakni Iya-Misu, dikenal baik oleh para pembaca di Indonesia. Dengan pengalaman mereka yang sukses mengenalkan nama Rikako Akiyoshi, mereka pun menggunakan strategi yang serupa. Media sosial menjadi medium utama penyebaran informasi dan ruang pemantik diskusi terkait karya yang hendak dikenalkan tersebut. Sementara para audiensnya, atau para pembaca, sebagai penerima informasi itu pun meresponsnya, kemudian turut menyebarkannya hingga menjadi rantai yang tak putus.

Kendati begitu, tak selamanya para pemengaruh buku dengan berbagai macam platform-nya ini menghadirkan kebermanfaatan dengan membuat ekosistem yang adem-adem saja. Sebab tak jarang, timbul perselisihan di antara mereka dan melibatkan tidak hanya antarpemengaruh buku semata, tetapi juga penulis bahkan pihak penerbit sekalipun. Sebagai contoh, sekitar bulan Juni yang lalu, dalam pemberitaan di Publisher Weekly yang berjudul “Readers Angered over Anne Frank Reference in New Hilderbrand Novel”, kanal Instagram di Amerika ramai dengan perbincangan mengenai kasus buku milik Elin Hilderbrand yang berjudul “Golden Girl”.

Singkatnya, ada seorang pemengaruh buku yang mengunggah hasil pembacaannya berikut bagian novel yang dinilainya bermasalah. Bagian itu ia nilai tak patut, sebab seolah mengolok-ngolok sejarah Anne Frank dan perjuangan kaum Yahudi di masa lalu. Seorang pembaca itu menilai barisan dari novel itu terkesan Anti-Semit. Tak disangka, penulis novel ini merasa tak terima dengan unggahan tersebut, dan ia mempermasalahkannya. Sejak itu, perbincangan soal mendukung kubu si penulis atau pembaca tadi pun menyeruak dan banyak dilakukan oleh para pelaku pemengaruh buku lainnya. Kasus itu pun berakhir dengan permintaan maaf dari si penulis, ia berjanji akan meminta penerbitnya untuk menghilangkan baris yang dinilai bermasalah itu dari cetakan terbaru bukunya.

Contoh tadi mungkin berakar dari permasalahan yang sepele saja, sebab kalau kita pikir ulang, itu hanya perkara perbedaan perspektif antardua orang terhadap suatu objek (baca: buku) yang ia konsumsi. Dan kalau mau membela salah satu pihak, kita mungkin bisa saja berdalih bahwa “tak sepatutnya penulis mencampuri interpretasi pembaca atas bukunya dan mempermasalahkan hal tersebut”. Namun, masalahnya, penyebaran opini atau wacana mereka dilakukan melalui sosial media, dan bukan rahasia umum lagi, kita ketahui, bahwa sosial media adalah tempat yang pas untuk memantik perdebatan. Karakternya yang mudah diakses, tanpa sekat, dan terus bergerak, membuat kebisingan kerap kali menjadi penanda utamanya.

Contoh lain, bisa kita perhatikan di sosial media lain seperti Twitter. Ini sosial media yang paling sering menjadi ruang perdebatan para pembaca atau peminat buku di Indonesia. Perkaranya pun macam-macam, dari mulai memperkarakan minat bacaan (genre A lebih baik dari genre B, misalnya), penguasaan opini pribadi (pendapat si A tak bisa dibantah oleh si B, C, atau D), sampai book shaming dengan segala keturunannya. Bahkan soal ini, seorang pernah berujar, “Kalau mau melihat perkembangan situasi perbukuan tanah air, pergilah ke Twitter. Di sana kau bakal menemukan hal-hal yang beragam jenisnya, dari mulai yang baik-baik sampai yang bikin kita ingin gigit jari.”

Yang Sedang Kita Hadapi
Barangkali, orang lain telah sering mengatakan ini: media sosial dengan segenap isi dan orang-orang di dalamnya, tak lebih seperti dua sisi mata pisau. Ia membuat kita memperoleh hal-hal baik, juga memancing kita menyebarkan hal-hal yang sama baiknya. Namun, ia pun kerap menggoda kita dengan segala intriknya, juga memancing kita untuk turut serta dan meramaikannya. Di situlah, saya rasa, kita perlu menahan diri, atau fokus saja ke hal-hal  (yang menurut kita) baik saja. Apa yang ada di hadapan kita toh tempat yang diisi beragam jenis orang dengan isi kepala, pengalaman, latar belakang, dan preferensi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Terkhusus mengenai orang-orang yang menjadi peminat buku, pembaca, atau pemengaruh buku sekalipun, kiranya kebijaksanaan ini pun perlu ditanamkan. Pada akhirnya, ini perkara perlu atau tidak untuk bergabung bersama barisan mereka. Sosial media, terkhusus Instagram, setidaknya telah membuktikan “seperti apa” efek yang ditimbulkan dari keterlibatan pembaca (dalam hal ini para pemengaruh buku) terhadap suatu karya dan penulisnya. Ada karya yang dilejitkan, ada pula yang dijatuhkan habis-habisan. Inilah gambaran dari pergerakan ruang kritik baru yang ada di hadapan kita. []


Penulis:

Wahid Kurniawan, penikmat buku, mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.