Puisi
Puisi Dzikron Rachmadi

Puisi Dzikron Rachmadi

Menyekar di Suatu Fajar
: TMP Pare, MMXVI

Telah purna hingar kota menjelma kesunyian.
Pada sepat mata kita yang lebam—usai dibuahi malam—
masihlah kantuk; begitu tulus mengelus pelupuk.
Celik mata kita yang nampak murung
pun telanjur tambat pada merah lembayung.
Lantas, gegas kemudian kita hikmat pada cahya fajar
yang telah mekar menyemburkan semburat sinar.

Beranjak kemudian kita susuri trotoar—pematang bulevar
—menuju taman makam persemayaman. Usai sampai,
sudilah kita hantar diri membuka gerbang ingatan
perihal perjuangan para sesepuh-luhur silam.

Serupa bejana menganga, kepada veteran kita;
tadahkan tangan akan Kebaureksaan-Nya.
Lalu, dari kelima reranting jemarimu-
kaugugurkan jua bunga-bunga itu. Sebab
kita tahu, dari wewangi sarinyalah yang setia
menghantarkan percik nyala-nyala doa
—ialah suar damar-damar penerang
bagi perjalanan baka arwah-arwah cinta,
yang dahulu telah begitu purna: berjuang
demi menuai harum kemerdekaan bangsa.

Pare, 2021

Menghitung Suhu Makam Kampak
: Mangoenredjo-Toeloengredjo, MMXV

“Sementara, pada terik mentari yang semakin mengguyuri bumi;
adakah kini genangan awan melayang-layang di atas kami?”
Barangkali, jarak nun jauh tiada kuasa kami tempuh,
bila enggan kami pangkas rasa malas yang memanas-lepuh.
Gegas kemudian langkah-langkah kami jejakkan di jalanan,
melintasi aspal berkerak, hingga pematang setapak,
menuju makam Kampak. Kami ambil jalur kiri setelah
kami menata hati di dada sendiri, lantaran, di makam-
musti kami simpan segala senda dan gurauan.
Ketika datang, seketika kami tambatkan pandang
pada akasia tua nan rindang—dedaun rimbun yang
memayungi ulayat makam—juga ladang, dan selokan;
yang mengalirkan kehidupan ikan-ikan. Namun begitu,
barang tentu masih tiada kami menahu perihal suhu,
sedang, menghitung suhu kiranya tak semudah
menemukan hantu, lantaran, kadung- sungkan yang
begitu segan telah kami haturkan kepada juru penunggu,
yang tak tampak sedari dulu. Sintru makam: mengundang
angin semilir ringan, bertandang dalam wadak suhu dingin
di sekeliling akasia rindang; menyemat ingat ke benak kami
tentang persemayaman di liang makam: menghitung bekal
kehidupan. Searah kemudian, benak kami menguarkan
pengetahuan, semacam pengertian; akan terik mentari
yang semakin mengguyuri ubun kami. Sehinggalah kami
mengetahui, bahwa- masihlah ubun kami yang paling
mengerti: perihal suhu yang semakin tinggi. Maka
“Pada terik mentari yang semakin mengguyuri ubun kami;
masihkah kini genangan awan tiada melayang-layang di atas kami?”

Pare, 2021

Kala Senja Tenggelam di Pertigaan Lamtana
: English Village, MMXXI

“Siam masih manyapih jiwa kerontang
dari segala macam gejolak dan godaan.”

Menjelang waktu berbuka, lebih dulu
kubuka dada yang ku punya—
pintu kembara ku menuju jazirah kota
—menuju pertigaan Lamtana.

Sebelum menghadang jalan bercabang,
tubuhku bersauh di pinggir aliran dam
—samping pertigaan.

Kusaksikan langit senja menggenang
di sepanjang aliran dam.
Dam mengalirkan sungai dari selatan,

di selatan ada jembatan merentang,
di timur terhampar jembar lapangan
: di wajahmu terpancar pijar harapan.

Meski demikian, di sungai- wajahku
seakan mengambang; lalu memburam,
dan sungai kian sempurna jadi cermin
: memantulkan cahaya langit yang kian hitam.

Pare, 2021

Capung Taman
: Kili Suci, MMXV

Demi menghindar dari hingar-bingar jalan,
kami seberangkan diri ke selatan, lantaran
di suatu pagi yang tenang, mandat telah diberikan
: tangkap capung dengan jaring berlubang.

Riang kami saksikan si capung taman
begitu mesra mencumbui kembang
sebelum kami tangkap dengan jaring berlubang.

Kami bidik sebagaimana kami telah dididik,
sebelum capung terbang ke semak-semak belukar
juga pohon-pohon rindang.

Capung bertebaran setelah melihat kami datang,
“Ayunkan tangan berulang-ulang, meski berkali-kali
hanya menjaring angin yang tengah asik semilir kemari;
yang seakan sejuknya perlahan mampu merasuki relung hati.”

Namun, lagi-lagi, kembali
capung menunggang di badan kembang,
lantaran- kembang sangatlah menawan
: sebagaimana si dia yang sering disebut-sebut idaman.

Hingga harapan kami kandas dan mengusang,
lantaran yang kami dapatkan
tiadalah sumbut dengan bayangan.

“Hitung capung dengan benar,
lepaskan kemudian seusai keperluan,
agar mereka pun tidaklah mati terkapar,
agar Tuhan pun jugalah makin sayang
: kepada kita ciptaan-Nya sekalian.”
~
Sedang, tahun-tahun kian berlari,
kembali kami nyalakan ulang ingatan-ingatan
yang kadang hidup – kadang mati; perihal
capung taman, kembang, juga si idaman hati

: lantaran ingatan itu dahulu begitu mematri,
selepas kami hirup hangat-sinar-pagi di Kili Suci.

Pare, 2021

Jalan Temu
: Dahlia Street

Di kafe ini, kabel ingatan telah putus,
tiada lagi selain kita: yang menyala
di kepala. Tersebab, pada jam-jam
berikutnya- kita serupa gugusan
gemintang selepas menetas dari
cangkang malam. Pijar cahya di antara
kerenggangannya; seumpama jarak
pijar tatapan kita, yang begitu
enggan membuncahi pijar purnama.

Dada basah seketika mereguk makna
asmara; dari perasaan-perasaan yang
berulang-ulang kita tuang ke dalam
gelas. Lantas, seketika juga kita berulang-ulang
menuang harapan: dari mata ke mata, seirama
menuang rahsa: dari sukma ke sukma.

Maka, kepada pelayan di depan;
kita akan memesan ulang sebuah jalan
yang kelak menuntun kita kembali
: menuju sebuah pertemuan.

Pare, 2021-2022


Penulis:

Dzikron Rachmadi, ‘Pengarang dan Pembaca Buku’ ini lahir dan berdomisili di Pare, Kabupaten Kediri. Pernah belajar di PAI FTIK IAIN Kediri. Dapat disapa melalui IG: @_dzikroch.

Leave a Reply

Your email address will not be published.