Resensi Buku
Upaya Menghidupkan Cerita-Cerita Kecil

Upaya Menghidupkan Cerita-Cerita Kecil

Judul Buku: Persembunyian Terakhir Ilyas Hussein dan Cerita-Cerita Lainnya
Penulis: Muhammad Nanda Fauzan
Penerbit: Buku Mojok
Tahun Terbit: Maret 2022
Tebal: vi + 180 halaman

Dalam salah satu wawancara dengan DW Indonesia, sastrawan kawakan Indonesia Martin Aleida pernah berujar, “Saya cuma punya satu sikap, bahwa sastra itu harus berpihak kepada korban.” Sikap Martin itu termaktub dengan jelas dalam karya-karyanya yang banyak bercerita tentang nasib nahas yang menimpa korban tragedi 1965. Tentu saja bukan hanya Martin, tetapi banyak penulis dari pelbagai belahan dunia yang memiliki sikap demikian. Mereka menyuarakan keberpihakan terhadap korban (kolonialisme, rasisme, militerisme, pelecehan, diskriminasi, dst.) dalam karya-karya mereka. Dan itulah salah satu fungsi sastra—memberi ruang untuk yang lemah atau tak mampu bersuara.

Dalam buku perdananya Persembunyian Terakhir Ilyas Hussein dan Cerita-Cerita Lainnya, Muhammad Nanda Fauzan memiliki intensi serupa. Ia berusaha menyodorkan cerita-cerita kecil, cerita-cerita tentang pihak yang tak banyak dilirik, padahal penting untuk dibahas. Di antaranya dalam cerpen “Tando” dan “Meruwat Laut”. Di cerpen pertama, Nanda Fauzan mengemukakan dampak kedatangan segerombolan orang asing berseragam hijau terhadap suatu kampung. Gerombolan orang asing itu (yang mewakili citra pemerintah) bersitegang dengan penduduk lokal. Dalam cerpen ini Nanda Fauzan secara tegas berada di pihak Sulaiman Jango, pihak yang dirugikan oleh kedatangan gerombolan asing. Cerpen ini ingin mengungkapkan bahwa kedatangan perwakilan pemerintah untuk melakukan suatu hal sering kali secara semena-mena, tanpa musyawarah atau pendekatan yang layak dengan penduduk setempat, sehingga tak jarang berujung pada terzaliminya penduduk setempat. Sementara cerpen “Meruwat Laut” dituturkan dalam sudut pandang Marauleng, seorang perempuan setengah baya yang tetap ingin mengadakan upacara meruwat laut, kendati kondisi ekonomi sedang memburuk dan orang-orang mulai meninggalkan tradisi tersebut. Marauleng menjadi lambang keteguhan tradisi lama melawan pengaruh-pengaruh luar yang hendak membenamkan tradisi.

Ketegangan antara pemerintah vs. penduduk lokal atau tradisi vs. modernisme memang bukan barang baru. Namun, dalam cerpen-cerpen di atas Nanda Fauzan menyajikannya dengan cara yang berbeda. Misalnya dalam cerpen “Meruwat Laut”, selain bercerita tentang sosok yang teguh pada tradisi, eksistensi tokoh perempuan yang bercita-cita menjadi pelaut seakan ingin menumpas tabu bahwa yang mampu menjadi pelaut hanya laki-laki. Upaya untuk menyelipkan nilai-nilai renik tapi perlu semacam itu bertebaran di dalam buku yang memuat delapan belas cerpen ini.

Keistimewaan lain buku ini adalah kehendak pengarang untuk bermain-main sudut pandang. Setidaknya ada tiga cerpen yang mencolok dalam urusan sudut pandang. Pertama, cerpen “Fianchetto di Buitenzorg”, sebuah kisah perihal seorang tukang kebun pribumi bernama Sadra yang jago catur pada masa kolonial. Dituturkan oleh narator yang berposisi sebagai jurnalis sekaligus pemain catur yang menjadi rekan lama Pieter van Morten—majikan Sadra—cerpen ini menggambarkan banyak hal penting. Melalui narator yang notabene pihak asing, kita bisa mengetahui pikiran culas macam apa yang ada di kepala pihak kolonial. Di satu sisi mereka meremehkan orang-orang pribumi, tapi di sisi lain mereka tetap memanfaatkan pribumi (dalam hal ini kepandaian Sadra dalam menggerakkan bidak-bidak catur) untuk kepentingan pribadi mereka.

Kedua, cerpen “Kutuk Banaspati: Empat Cerita pada Satu Malam”, sebuah tragedi berbalut mitos yang dituturkan dalam empat sudut pandang, yakni seorang anak yang ibunya mati, pemburu katak, perempuan yang terpaksa tinggal bersama lelaki yang tak ia inginkan karena keluarganya terlilit utang, dan penggali kubur yang menyaksikan kemunculan banaspati. Cerpen yang kompleks ini menjadi lebih bisa dipahami sekaligus memperluas ruang interpretasi lantaran diceritakan lewat empat pasang mata berbeda. Ketiga, cerpen “Kagum 5 Juta”. Kontroversi angket Majalah Monitor yang digagas Arswendo Atmowiloto—pemimpin redaksi Majalah Monitor saat itu—pada 1990 ini digubah dalam bentuk cerpen yang segar. Alih-alih berbicara tentang nasib Arswendo yang dituding menghina Nabi Muhammad karena namanya berada di atas Nabi Muhammad dalam angket tersebut, cerpen ini berkisah tentang pencarian seorang anak terhadap keberadaan ayahnya yang hilang sejak mengikuti demo memprotes angket Majalah Monitor tersebut. Sang anak adalah narator cerpen ini. Cerpen “Kagum 5 Juta” membuat kita paham bahwa di balik sebuah demonstrasi, ada drama-drama yang berceceran tentang orang-orang yang hilang dan ditinggalkan.

Secara umum tidak ada tema tertentu yang mengikat cerita-cerita dalam buku ini. Sekilas cerpen-cerpen ini seperti dikumpulkan secara acak belaka. Akan tetapi, kalau diperhatikan lebih lanjut, kita bisa menemukan kesamaan yang membuat delapan belas cerpen dalam buku ini layak disatukan. Kesamaan itu tidak berada di dalam isi cerita itu sendiri, tetapi dalam cara si penulis menyampaikan cerita.

Dalam buku ini ada cerita tentang hantu-hantu, anak kecil yang main komunis-komunisan, pengembaraan Tan Malaka, hingga orang yang memiliki saudara berkelakuan ganjil. Ceritanya beragam, tapi cara penulis menyampaikan cerita boleh dikatakan identik—keberpihakan kepada orang-orang kecil, keinginan menyampaikan kisah-kisah sederhana tapi penting, hingga cara penulisan cerita yang berirama dan rapi. Meskipun dalam beberapa bagian ada yang masih perlu diperbaiki (misalnya sebuah stereotipe dalam cerpen “Kau atau Topengmu yang Menjadi Pembunuh Malam Ini” yang menggambarkan orang berjanggut, bercelana di atas mata kaki, dan rajin beribadah sebagai ekstremis—walaupun ini tidak dikatakan secara langsung), secara keseluruhan terbitnya kumpulan cerpen ini patut disambut dengan gembira. Setidaknya cerpen-cerpen dalam buku ini lebih bagus daripada kebanyakan cerpen yang terbit di media Indonesia beberapa waktu belakangan. Dan itu kabar bagus, bukan? []


Penulis:

Erwin Setia lahir pada 14 September  1998. Penulis lepas. Menulis cerpen dan esai. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Jawa Pos, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, dan Detik.com. Cerpennya terkumpul antara lain dalam antologi bersama Dosa di Hutan Terlarang (2018) dan Berita Kehilangan (2021) Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected]

Leave a Reply

Your email address will not be published.