Esai
Identitas Sastra dan Hibrida Kultural

Identitas Sastra dan Hibrida Kultural

GENERASI baru sastra Indonesia mencipta teks sastra dengan kegelisahan yang menandai pencarian “identitas sastra” zamannya. Memang mereka masih berobsesi pada  mitos dalam penciptaan teks sastra. Kekuatan mitos itu pula tercermin dalam novel Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga (Kepustakaan Populer Gramedia, 2021), pemenenang ketiga Sayembara Novel DKJ 2019, yang kemudian terpilih sebagai novel terbaik Kusala Sastra 2021. Novel ini kuyup dengan mitos, menyingkap pergolakan batin melawan hegemoni kekuasaan kolonial dan bangsa sendiri.

Dengan menghadirkan latar perkebunan cengkih Desa Kon, Erni Aladjai menyingkap sisa-sisa kekejian hegemoni kekuasaan kompeni yang menjelma menjadi tragedi pada masa Orba. Memang juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2019 menurunkan catatan bahwa novel ini tak terjebak eksotisme, tetapi sesungguhnya, Erni Aladjai sedang memanfaatkan mitos untuk menyingkap perlawanan terhadap hegemoni kekuasaan. Ia bersama-sama para generasi muda sastrawan Indonesia, seperti Muna Masyari dengan novel Damar Kambang (Kepustakaan Populer Gramedia, 2020) dan Faisal Oddang dengan novel Dari Puya ke Puya (Kepustakaan Populer Gramedia, 2015) melakukan eksplorasi penciptaan teks sastra yang berakar dari kekayaan mitos masyarakatnya, untuk mencapai “identitas sastra”  generasi terkini.

Dalam pemahaman saya, mitos diangkat sebagai kesadaran untuk mengikuti cara bernalar tokoh-tokoh novel ini secara keseluruhan. Mitos diangkat dari akar tradisi masyarakat yang melingkupi kehidupan sastrawan, bangkit dari sifat nirsadar dari fenomena sosial. Mitos-mitos  itu berasal dari kehidupan sehari-hari. Di sinilah ditemukan identitas sastra, yang membangkitkan imajinasi yang memberi warna struktur narasi. Mitos diekspresikan untuk menghindarkan penciptaan teks sastra sebagai bagian “hibrida” kultural. Kepercayaan diri menemukan identitas sastra serupa ini menjadi gejala menarik para sastrawan muda kita.  

*** 

Kekuatan mitos dan latar etnik memberi warna perlawanan terhadap  hegemoni kekuasaan yang menindas pribumi. Setidaknya, novel ini menjadi menarik karena tokoh-tokoh yang memiliki keinginan yang tak disadari untuk melakukan pembebasan terhadap hegemoni kekuasaan. Pertama, perlawanan terhadap kekuasaan kerajaan yang memungut upeti terhadap rakyat. Kedua, perlawanan terhadap hegemoni kaum kolonial Eropa yang berkepentingan terhadap cengkih. Ketiga, perlawanan terhadap kaum kolonialisme Jepang yang merenggut ketenteraman kehidupan rakyat dengan dominasi kekuasaan kamp romusha. Keempat, perlawanan terhadap hegemoni kekuasaan Orba, putra penguasa yang menyengsarakan petani cengkih.   

Kehadiran mitos dalam novel ini juga mengalirkan struktur narasi untuk mencapai keutuhan kisah perlawanan hegemoni kekuasaan. Pertama, mitos telah menjadi bagian dari latar yang mencipta atmosfer spirtitualitas tokoh-tokoh novel. Kedua, mitos memberi sugesti cara bernalar dan kesadaran tokoh-tokohnya untuk menyingkap hal-hal mistis. Ketiga, mitos telah merasuk ke dalam konflik batin para tokoh dan menjadi bagian perlawanan hegemoni kekuasaan kolonial. Keempat, pengarang memanfaatkan mitos—dengan mengisahkan kehadiran arwah Madika Ido—untuk mencipta kilas balik struktur narasi masa silam tentang perlawanan terhadap dominasi kekuasaan kolonial, bahkan perbudakan, yang menumpas para petani cengkih.

Unsur lain yang saya rasakan sangat kuat mewarnai perjalanan tokoh-tokoh novel ini adalah spiritualitas yang bangkit dari mitos dan perlawanan hegemoni kekuasaan. Spiritualitas menjadi cahaya bagi tokoh-tokoh untuk menghadapi konflik yang keras, kadang tak manusiawi. Novel ini diwarnai banyak kematian tokoh-tokohnya dalam melakukan pembebasan hegemoni kekuasaan dan pergulatan menghadapi pergulatan nasib. Spritualitas menjadi kekuatan yang terus menyala dalam diri dua tokoh utama novel ini: Haniyah dan Ala.

Spiritualitas itu memberi jiwa yang pantang menyerah, jiwa yang tak mau ditundukkan kekuatan koersif, memberi warna karakter tokoh-tokoh novel ini. Spiritualitas itu terus membawa perenungan-perenungan baru dalam dialektika konflik yang dihadapi para tokoh dan membuka berlapis tafsir bagi pembaca. Peristiwa-peristiwa mengalir dalam nuansa warna yang membangkitkan kompleksitas penafiran.   

Antara mitos, perlawanan hegemoni kekuasaan kolonial, dan spiritualitas tokoh jalin-menjalin mengalirkan struktur narasi, yang kadang memanfaatkan cerita berbingkai, untuk mengisahkan tragedi masa silam. Kolonialisme telah membekas dalam banyak persoalan kehidupan di Desa Kon, memberi warna karakter tokoh-tokohnya, dan konflik kekuasaan kolonial yang menajam hingga tahun 1950, ketika novel ini mulai dikisahkan, sampai kekuasaan Orba pada 1990.

***  

Pencarian “identitas sastra” yang mempresentasikan ciri-ciri kultural dan ciri-ciri literer berkembang secara bersama-sama dalam novel ini. Erni Aladjai menjelajah obsesi yang lebih intens: jati diri penciptaan teks sastra. Yang mengasyikkan, pengarang berobsesi pada ekspresi bahasa yang mengemas persoalan-persoalan kemanusiaan dan kultur yang berakar pada tradisi kehidupan masyarakatnya. Ia juga tidak mencipta novel sebagai “hibrida” ciri kultural dan ciri literer sastrawan dunia. Ia mesti dipahami secara khas dengan ekspresi identitas sastranya sendiri.     

Kelebihan novel  ini dipertegas dengan kemampuan pengarang menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan eksplorasi diksi dan nilai rasa bahasa yang berakar dalam kehidupan tokoh-tokoh novelnya. Bahasa dimanfaatkan pengarang untuk memberikan empatinya pada narasi kecil—mereka yang tertindas dan teraniaya.  Nilai rasa bahasa, baik dalam deskripsi, narasi, maupun dialog mempertegas empati pada rakyat yang tertindas, teraniaya, bahkan terkucilkan.      

Ia menemukan “identitas sastra” yang berpijak dari atmosfer bahasa yang berakar dari kehidupan masyarakatnya, sebagaimana dilakukan Muna Masyari dan Faisal Oddang. Teks sastra mereka menandai kegelisahan kreativitas generasi baru sastrawan kita pasca-Ayu Utami. Intensitas penelitian terhadap teks sastra mutakhir akan menyingkap temuan tentang “identitas sastra” yang berbeda dengan kecenderungan penciptaan sastrawan dekade sebelum ini. []


Penulis:

S. Prasetyo Utomo, sastrawan, doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes.

Leave a Reply

Your email address will not be published.