Puisi
Puisi Anindita Buyung

Puisi Anindita Buyung

Nama

Setiap pagi kau menjelma berita
mengenai masa lalu yang tinggal
di belakang kepala.
Sementara koran yang kubaca masih hangat
seperti secangkir kopi dan singkong rebus,
yang kebul asapnya adalah rindu
yang segera menguap ke udara.

Di atas meja itu rindu segera tersesat
mencari kabar kepulanganmu
di lautan kata-kata.
Pada koran yang terbuka, di dalamnya
kupercaya ada jarak yang sulit dilipat.

Kopi yang lekas saja kuseruput pahit sepinya
meneteskan noktah hitam
tepat jatuh di buram namamu,
menjelma nisan yang gelap dan sepi,
yang barangkali terlalu janggal untuk kuziarahi.

Magelang, Juli 2022

 

Alamat

Bagaimana aku bisa menerka
di mana kau berada kini
sementara alamat yang kau tuliskan
pada selembar kertas ini
hanya bertuliskan kata pulang?

Bagaimana aku tahu
waktu kedatanganmu kepadaku
sementara kau hanya menitipkan suara
pada hujan yang jatuh membelai mata
dengan sebisik tunggu?

Magelang, Juli 2022

Jendela

Jendela tak pernah menangis.
Lantas, mengapa ia berkaca-kaca?
Apakah hujan adalah air mata langit
yang jatuh sebab ratap yang luruh
dari doa-doa yang kau panjatkan?

Magelang, Juli 2022

Jarak

yang membentang antara punggungku dan punggungmu
adalah bocah kecil yang menanti ibunya dari arah
yang tak pernah ia tahu asal dan tujunya

yang membentang antara dekap dan rentang pelukku
adalah nama lain sepi yang lebih diam dari diam,
lebih resah dari resah; endap didekap gelap

yang membentang dari matamu dan mataku
adalah jarak yang menjelma udara, meniupkan kata-kata,
membiak sajak yang tak sempat kau baca.

Magelang, Juli 2022

Rahasia

Di ujung pelangi yang tak pernah menyentuhkan ujungnya
di bumi itu, Kirana, kutitipkan seikat rindu yang tak pernah kau tahu.
Sebab hujan sore tadi begitu piawai menyembunyikan rasa
yang kujuduli rahasia di sampul amplopnya.

Di ruang lengang yang tak pernah usai disinggahi gerimis itu, Kirana,
kusibak diksi-diksi picisanyang selalu saja pandai
menggambarkan paras ayumu. Namun tak cukup lihai
untuk menebak isi hatimu yang samar dan teka-teki.

Magelang, Juli 2022


Penulis:

Anindita Buyung, lahir di Banyumas tinggal di Magelang. Menulis puisi dan cerpen di sela kegiatannya sebagai pengajar di sebuah sekolah menengah atas di kota Magelang. Beberapa cerpen dan puisinya pernah dimuat di beberapa media cetak, daring, serta antologi bersama. Penulis bisa ditemui melalui akun Instagram @aninditabuy dan surel [email protected]

Leave a Reply

Your email address will not be published.