Resensi Buku
Duka dalam Imaji Penyair

Duka dalam Imaji Penyair

Judul Buku  : Kita+(Duh)-Kita
Penulis        : Marwanto
Penerbit      : Pusakaku kerjasama Madani Berkah Abadi, Yogyakarta
Cetakan      : Pertama, Maret 2022
Tebal           : x + 70 halaman
Ukuran        : 13 x 19 cm
ISBN          : 978-623-5592-89-3

Judul buku ini unik. Kita pun menafsir: apakah kita+(duh)-kita itu satu kata? Atau, rangkaian dari tiga kata dengan penghubung tanda (-) dan (+)? Persangkaan saya, kita+(duh)-kita menyiratkan makna bahwa secara acak kita berduka. Ya acak, karena ada sebagian (-), bukan termasuk kita, yang tidak berduka.

Tafsiran tersebut tercermin di puisi “Takdir Tuhan”: untuk keseimbangan/di sela-sela duka yang teriris/pandemi belum habis/ada yang asyik mendulang cuan/ (hlm. 27). Keliru atau benar sangka, di hati cerdas penyair ini telah membuahkan 33 judul puisi. Jumlah yang  tergolong sedikit, apalagi tidak semua puisi di buku ini panjang. Bahkan ada puisi yang bisa dibilang pendek, simak puisi “Imun”: //hhh… hahaha… haaahaaahaaa//bawalah tawa hingga ke surga//.  

 Lalu di (puisi) mana imaji duka sang penyair? Saya menemu di puisi “Sejak Duka Diciptakan”: kapan alam raya dibentangkan/sawah ladang dihamparkan/laut dibirukan/langit dibentangkan?// … kapan cinta mulai dibisikkan/oleh adam dan hawa yang kasmaran?// … ayat pertama dalam/kitab suci puisi menyebutkan/sejak duka diciptakan//(hlm. 25). Di puisi ini, duka dan cinta seakan menyatu berkelindan. Duka di sini harap dipahami dengan kecerdasan religi. Bukan dalam artian kamus –KBBI semata.  Duka itu saudara dekat musibah: sabaha yusabbihu musibatun, wazan fa’ala yufa’ilu failun. Duka, musibah, berarti suci: menyucikan.

Jadi tatkala sedang menerima musibah, berarti lagi disucikan. Terbabar pada puisi, yang kemudian dijadikan judul buku ini: “Kita+(Duh)-Kita”: ketika adam dan hawa/ dihempaskan dari surga ke dunia fana/… (hlm. 59). Disucikan agar bisa memberi keturunan di muka bumi. Manusia sebagai khalifah, terlebih dulu harus disucikan dengan (menerima) musibah.

Pada diri Marwanto, pegiat sastra dari Kulonprogo itu selain penyair juga seorang cerpenis. Selain tiga buku kumpulan cerpen: Kado Kemenangan (2016), Hujan Telah Jadi Logam (2019), Aroma Wangi Anak-anak Serambi (2021), sejumlah cerpennya memenangi lomba. Bahkan ia juga menulis esai. Esai-esainya dapat kita simak di buku Demokrasi Kerumunan (2018) dan Byar: Membaca Tanda Menulis Budaya (2019). Beragam genre yang ia tulis memengaruhi warna puisi-puisinya –setidaknya di buku ini.

Puisi-puisinya terasa enak disimak. Asyik direnungi. Mengalir di sungai yang jernih dan lancar. Di buku ini, hal itu terlihat pada puisi pembuka. Simak puisi berjudul “Apa Kabar”:  //hai, apa kabar?/ke mana saja hari ini berselancar//. ….. //lalu, sunyi berkabar ingar/kanal media sosial dahsyat bergetar/terdengar kabar ia dicakar gawai/senyum getir tak akan usai//

Puisi tersebut berkait erat dengan puisi “Bumi Kita Cinta”. Di puisi kedua ini, penyair menyampaikan dua ide sekaligus: //bumi ini bumi kita/untuk manusia dan melata/…. Garis urut bisa disimak pada akhir puisi (kesimpulan?): //inilah bumi kita/yang tak pernah sesak/selagi kita tak berjarak/dari cinta//.  Bumi dan alam seisinya adalah tempat berselancar bagi manusia dan melata, dengan segala suka duka dan perih getirnya. Dan sesungguhnya duka dan getir itu tak ada selagi kita tak berjarak dari cinta.

Masih bertitik pijak kedukaan, satu puisi menjalar ranah sosial-politik. Puisi “Wabah di Negeri Antah Berantah” membawa kita pada penyikapan wabah di negeri yang terbelah. Negeri yang membuat bungah karena penghuninya ramah, mendadak bikin jengah karena orang ramai-ramai muntah: memuntahkan kecintaannya yang buta/memuntahkan kebenciannya yang lara/ (hlm. 24). Puisi yang membuat merinding gemas. Ada perbantahan unik heroik, terutama  halaman 38-39, dan klimaks di halaman 40.

Tak luput, kelangkaan minyak goreng diangkat dalam puisi yang berjudul “Menu Masakan di Musim Pandemi: Digoreng atau Dioseng Lidah Kami Hanya Merasakan Asin, Asing dan Aseng…” Puisi panjang tersebut mengajak pembaca bertamasya ke masa silam khasanah masakan nusantara yang kaya kelezatan meski dimasak tanpa minyak. Namun, /kini, kelezatan itu tak kami rasakan lagi/kira-kira, siapa yang telah mencuri?/  (hlm. 24).

Tapi, sejatinya buku ini menyuarakan optimisme yang nyaring. Buku yang desain covernya lukisan digital karya penyair Dedy Tri Riyadi ini di bagian akhir bersuara lugas: //pada suatu hari nanti/kita tak perlu tampil angker/karena aneka ragam gengsi/dari merk arloji hingga masker/pelan-pelan akan pergi diarak angin/tenteram, lebur bersama musim//. Demikian sekilas ulas Kita+(Duh)-Kita, karya puisi musim pandemi yang membuat //aku_kau, telah menyatu//membunuh jarak, menikam waktu// (hlm. 68).


Penulis:

Marjuddin Suaeb, pernah berproses di Persada Studi Klub (PSK) Yogyakarta asuhan Umbu Landu Paranggi tahun 1970-an. Alumni IKIP Yogyakarta (sekarang UNY).  Aktivitasnya kini selain sebagai penyair, juga petani dan sopir pocokan. Buku puisi terbarunya: Teka-Teki Abadi (Tongggak Pustaka, 2021).

Leave a Reply

Your email address will not be published.