Cerpen
Tarapek Japa

Tarapek Japa

Tarapek Japa, teman kuliah sekaligus atasan saya di kantor, mati tak sampai seminggu setelah ia dengan pongahnya mengatai-ngatai saya sebagai ‘kawan yang tidak tahu terima kasih’, ‘kufur nikmat’, dan ‘sok bersih’. Bukan karena korona ataupun jenis virus mematikan lainnya. Maut menemuinya di toilet rumahnya, saat ia sedang berak, dan begitu sang istri datang, ia sudah kaku, setengah telanjang, dengan posisi kepala nyungsep ke dalam lubang kakus.

Kalau bukan karena kepentingan penyelidikan, perempuan itu tentu tak akan menceritakan detail memalukan seperti itu kepada siapa pun. Dari keterangan yang diberikan istrinya kepada polisi pulalah saya kemudian tahu bahwa ternyata Tarapek telah lama mengidap penyakit aneh yang membuatnya susah mengendalikan emosi, sehingga kerap berteriak-teriak tidak jelas, meninju-ninju dinding, membenturkan kepalanya ke westafel, dan tingkah aneh lainnya, terutama saat ia sendirian di kamar mandi.

“Jika masih ada orang di sekitarnya, ia bersikap biasa saja, normal. Namun, begitu ia berada di suatu tempat sepi, sendirian, untuk beberapa lama, maka ia mulai bertingkah aneh.” Demikian istrinya bercerita. “Dokter ahli jiwa yang memeriksa, anehnya, tak menemukan gejala apa pun, dan mengatakan suami saya sehat lahir batin.”

Istri Tarapek juga bercerita bahwa ketika mereka bersama, suaminya tak pernah menunjukkan tingkah yang di luar kewajaran. “Bahkan, ketika bertengkar sekalipun—ya, maksud saya pertengkaran biasa antara suami istri—dialah yang lebih dulu bisa menenangkan diri, lalu berusaha mengendalikan suasana. Ia lebih banyak mengalah. Tak sekali pun ia meneriaki saya, apalagi main tangan.”

“Bagaimana dengan Anda sendiri? Apa Anda suka main tangan ketika bertengkar dengan suami Anda?” Polisi, masih berdasarkan cerita yang saya dengar dari perempuan itu, juga bertanya demikian kepada istri Tarapek.

“Tak pernah sekali pun saya melakukan kekerasan fisik kepada almarhum. Bagaimanapun, dia adalah suami yang harus saya hormati,” jawab istrinya.

Ada perasaan ganjil yang susah saya jelaskan begitu mendengar kabar kematian teman saya itu. Di satu sisi saya sungguh merasa kasihan demi mengingat caranya mati bergelimang tahinya sendiri, pun dengan ‘penyakit’ yang ia derita itu. Tapi di sisi lain, di lubuk hati saya yang berkerak, yang masih menyimpan rasa sakit karena kata-katanya tempo hari, saya tentu tak bisa untuk tidak tertawa puas.

Itulah balasan bagi orang tak tak berperasaan sepertimu, Tarapek! Tuhan mengabulkan keinginanku! Oh, kata-kata itu seolah keluar begitu saja dari diri saya yang masih terluka oleh pisau kata-katanya. Dan, bukankah cara mati seperti itu yang saya harapkan terjadi pada Tarapek? Bukankah itu harapan yang terselip dalam serapah yang saya pendam kepadanya tempo hari?

Tak baik mengingat-ingat – apalagi menyebarkan – keburukan orang yang sudah mendahului kita, demikian kalimat surgawi yang pernah saya dengar. Tapi, untuk seorang Tarapek, apa hal-hal baik yang mesti saya kenang darinya? Betul, dialah yang mengajak saya bekerja di tempat ini, memperkenalkan saya kepada atasannya dengan segenap puja-puji agar proses penerimaan saya dipermudah, tapi bukankah justru kebaikannya itu pulalah yang kemudian selalu ia jadikan senjata agar saya selalu mengiyakan semua perkataan dan tindakannya?

“Kalau bukan karena aku, menggelandang kau sekarang!” Berloncatan air liurnya ketika menyemburkan kata-kata ke muka saya. “Ingat itu, Jon! Belajarlah jadi orang yang tahu terima kasih!”

Sebenarnya jika saya ingin beragumentasi dengannya, saya bisa saja mengatakan bahwa memang dia yang memberitahu saya mengenai lowongan pekerjaan di kantornya, lalu memperkenalkan saya kepada atasannya, yang mungkin dengan demikian – menurut Tarapek – proses penerimaan saya jadi mulus.

Saya berani taruhan, andaipun ia tak memperkenalkan saya kepada atasannya, saya akan tetap diterima bekerja di kantor itu. Jadi, apa yang ia katakan jelas tak mempunyai nilai kebenaran sama sekali.  Kasarnya, dia hanya pembawa kabar, sementara keputusan diterima atau tidaknya saya di tempat saya bekerja sekarang tak ada sangkut pautnya dengan Tarapek.

Bukan Tarapek Japa namanya kalau tidak selalu menyebut-nyebut jasanya kepada orang-orang di sekitarnya. Ia yang besar mulut tak akan pernah membiarkan orang-orang yang kebetulan pernah ia bantu – tak peduli seberapa kecilnya bantuan tersebut – merasa bangga atas pencapaian mereka.

“Alah, kalau bukan karena aku, kau tak mungkin bisa seperti sekarang,” katanya santai setiap kali ada rekan kerja yang pernah ia bantu tengah berbahagia atas suatu pencapaian di kantor.

“Kau pikir bos benar-benar memujimu?” Ia mencemooh rekan kerja lain yang presentasinya dinilai bagus oleh atasan kami. “Kalau bukan karena aku, sudah dipecat kau sejak dua bulan yang lalu! Kau masih ingat laporan kuartal ketiga kamu yang amburadul? Aku yang memperbaikinya sehingga bos tak jadi memecatmu!”

Ketika ada yang dapat bonus pada akhir tahun, ia akan dengan gampang bilang, “Ingat, kalau bukan karena bantuanku, tak mungkin kalian dapat bonus!”

Rekan kerja yang lain, khususnya karyawan yang secara pangkat ada di bawahnya, mungkin bisa menebalkan kuping mendengar kata-kata yang meluncur dari mulut Tarapek yang tak punya saringan itu. Mereka tentu hanya bisa mendongkol, lalu ketika berkumpul dengan rekan kerja senasib, akan membicarakan sikap buruk Tarapek.

Tentu akan berbeda ceritanya jika kalimat-kalimat bermiang itu ia lontarkan kepada saya.

“Kita memang sudah mengenal satu sama lain sejak lama, tapi bukan berarti itu kau jadikan alasan untuk bekerja sesuka hatimu!” Ia melabrak saya suatu hari ketika data dalam laporan bulanan yang saya buat dinilainya kurang akurat.

“Data itu sudah sesuai dengan laporan-laporan yang kuterima dari divisi lain. Apanya yang tidak akurat?” Aku masih mencoba membatasi percakapan di ranah kerja.

“Laporan dari divisi lain? Maksudmu, kau memasukkan data itu mentah-mentah ke dalam laporanmu?!”

“Tentu saja aku sudah melakukan kroscek!”

“Menyesal aku membantu kenaikan jabatanmu! Kalau aku tahu kemampuanmu cuma copy paste gini, tak mungkin aku akan menyodorkan namamu ke bos!”

“Tolong jaga kata-katamu!”

“Kalau kau bekerja dengan benar, kupuji kau!”

“Ah, tak perlu aku pujianmu! Cukup jaga kata-katamu!”

“Kecewa aku sama kamu, Jon! Kurang apa lagi aku membimbingmu? Bikin laporan, kau tinggal lihat dokumen lamaku. Bisa kau pelajari di sana gimana cara bikin laporan yang bagus! Bukan copy paste data kayak gini!”

Sungguh, kalau bukan demi mengingat posisinya di kantor dan susahnya mencari kerja belakangan ini, sudah saya layangkan ketupat Bengkulu ke mukanya yang menjijikkan itu! Atau sekalian saya hantamkan kursi ke kepalanya yang sok pintar itu!

Saya tahu kapasitas Tarapek. Sangat tahu. Andai ia menyadari hal itu, tentu tak akan seberani itu ia mengeluarkan kata-kata tajam dari mulut busuknya.

Sewaktu kuliah dulu, ia tidak bisa disebut sebagai mahasiswa yang berotak cemerlang sebagaimana yang coba ia citrakan di depan teman-teman sekantor. Meski ia bisa menamatkan kuliah tepat waktu, dengan nilai yang lumayan memuaskan, tapi saya tahu belaka bahwa banyak dari nilai yang tercantum di transkripnya itu ia peroleh dengan cara-cara yang tak patut. Selain membayar seseorang untuk mengerjakan tugas-tugasnya, ia juga kerap menyogok dosen-dosen di kampus. Jangan kau bicara tentang integritas, tak semua dosen-dosen di kampus itu semulia yang kaupikir!

Tarapek tahu betul akan hal itu. Pertemanannya yang luas di kampus memungkinkannya mengetahui informasi tertentu yang hanya tersebar di kalangan terbatas, termasuk daftar dosen-dosen yang bisa dibeli untuk mendapatkan nilai yang bagus.

Dan, perkara copy paste yang ia ributkan itu. O, sungguh saya ingin membekap mulutnya, mengikat kaki dan tangannya, lalu menyeretnya ke ruang kelas tempat kami kuliah dulu. Mungkin hanya dengan cara seperti itu ia akan ingat apa yang dulu pernah ia lakukan.

Tarapek, entah diperolehnya dari siapa, juga punya daftar nama dosen yang tidak melek teknologi. Jika mendapat tugas dari dosen-dosen seperti ini, ia biasanya akan mencomot artikel dari sumber tertentu, lalu menyalinnya ke dalam dokumen baru. Ia tinggal membubuhkan nama dan nomor mahasiswanya di bagian atas dokumen, dan tugasnya pun selesai!

Dia mungkin akan berkilah bahwa apa yang pernah ia lakukan semasa kuliah tak ada hubunganya dengan dunia kerja. Namun, kukatakan padamu Tarapek, sekali busuk, kau tetap akan menjadi manusia busuk! Bakat keparatmu sudah mendarah daging sejak dulu!

“Kau benar-benar tak tahu berterima kasih, Jon!” Itu kalimat yang ia hunjamkan ke ulu hati saya beberapa hari yang lalu. “Kufur nikmat!”

“Ini ada masalah apa lagi?” Saya tak bisa untuk tidak ikut meninggikan suara.

“Apa maksudmu mencoret data di sini?” Ia menyodorkan tabel berisi laporan keuangan.

“Ya, karena datanya tidak sesuai dengan catatanku!”

“Sejak kapan kau yang menjadi penentu pengeluaran dana di kantor ini?”

“Aku bertanggung jawab melakukan kroscek untuk semua data yang masuk ke mejaku. Bukannya itu yang dulu pernah kau ributkan?”

“Ah, sok bersih kau! Kalau bukan karena aku, sudah jadi gelandangan kau di Jakarta ini!” Ia menggebrak meja saja, lalu berlalu pergi.

Tahi! Babi! Keparat kau, Tarapek! Semoga kau mati berkubang tahi!

O, ingin sekali saya melesatkan kata-kata itu ke pangkal telinganya! Betapa ingin saya membuka satu per satu aibnya di masa lalu kepada semua orang di kantor. Betapa ingin saya membalas teriakan dan makiannya di hadapan orang-orang!

Meski tidak sepenakut rekan yang lain ketika berhadapan dengannya, tetap saja saya tidak bisa membalas caci maki Tarapek di kantor. Tetap saja saya harus memendam amarah saya, lalu melampiaskannya ke hal-hal lain yang sama sekali tak ada hubungannya dengan lelaki keparat itu.

Begitulah, hingga berita nahas itu sampai ke telinga saya. Dan, ketika mendengar cerita bagaimana hidupnya berakhir dalam lumuran kotorannya sendiri, perasaan saya jadi bercampur aduk. Sedih, senang, marah, puas – entah perasaan apa lagi yang jalin berlindan. Wajah Tarapek Japa hilang timbul dalam ruang ingatan, mengaduk-aduk perasaan saya.

Di hari pemakamannya, saya sengaja datang terlambat. Para pelayat, termasuk rombongan dari kantor, sepertinya sudah pulang sejak tadi. Setelah mengucapkan bela sungkawa kepada istrinya, saya pergi ke makam Tarapek. Sendirian.

Lama saya tepekur. Saya tabur bunga di sekitar nisannya. Saya baca doa-doa kebaikan yang bisa saya ingat.

***

Esoknya, begitu tiba di kantor, saya langsung menghampiri rekan-rekan yang kebetulan sedang berkumpul di ruang pantry. Apa lagi yang mereka percakapkan selain kematian Tarapek. Bagaimanapun, saya yakin, perasaan mereka juga campur aduk.

Begitu mendekat, seseorang di antara mereka berkata, ”Kasihan sekali Pak Jon harus mati dengan cara seperti itu…”

“Iya, padahal Pak Jon orang baik. Kenapa bukan Tarapek saja sih yang mati dalam lubang kakus!”

Apa saya salah dengar? Bukankah yang mati di lubang kakus memang Tarapek?

“Ehem, pagi-pagi udah panas nih suasana di pantry…” Saya berusaha mencairkan suasana.

“Eh, Pak Tarapek. Selamat pagi, Pak…” Mereka tampak kikuk.

“Tarapek? Saya Jon!” Saya menegaskan.

“Maaf, Pak. Bukan saya lancang. Tak baik bercanda membawa-bawa nama orang yang sudah meninggal.”

“Saya Jon!”

“Maaf, Pak Tarapek. Saya duluan ke depan ya…”

Mereka ngacir satu per satu.

“Hei mau ke mana kalian? Apa sih maksudnya mengatakan saya Tarapek? Saya ini Jon!”

Sungguh saya tak menduga mereka bisa selancang itu. Bukankah saya yang selalu membantu mereka memperbaiki laporan yang ditolak Tarapek? Bukankah saya yang membimbing mereka hingga bisa bekerja dengan baik di kantor ini? Kalau bukan karena saya, mereka tentu sudah lama dipecat!

Sungguh, mereka manusia-manusia yang tidak tahu berterima kasih!

Maninjau, 4 Januari 2022


Penulis:

Afri Meldam, lahir dan besar di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Menulis cerpen dan puisi. Buku kumpulan cerpennya, “Hikayat Bujang Jilatang” terbit pada 2015. Tengah menyiapkan penerbitan kumpulan cerpen kedua. Sekarang bekerja sebagai guru BIPA.

Leave a Reply

Your email address will not be published.