Puisi
Puisi Budhi Setyawan

Puisi Budhi Setyawan

Kita yang Selalu Sangsi pada Suasana

kita adalah pejalan
yang enggan beranjak dari tempat berangkat
dan waswas pada ranah tujuan

kamar menjadi petarangan
dan kita tak ubahnya telur yang berhasrat
segera menetas
meski kita belum tahu asal dari apa
dan akan menjadi apa

angka angka pada kalender
seperti tiarap dan tak memberi isyarat
kapan detik detik perubahan
yang bukan hanya kumal perulangan

ruang di luar sana
apakah terbuka bagi siapa saja
atau hanya bayang bayang
yang tak memberikan apapun

hanya diam yang kita bisa
sambil menahan keasingan di dalam kepala
segala suara menjauh
juga kata kata yang biasanya riuh

kita adalah sosok yang selalu sangsi
pada bermacam suasana
bahkan kita masih terus bertanya
apakah kita benar benar ada

Bekasi, 2022 

Kopi Begadang

baru saja kupesan segelas kopi hitam
dari sebuah warung pinggir jalan
di sebuan persimpangan
yang menyerupai kesangsian
untuk memilih jurusan

dari sebuah radio kecil
terdengar lagu yang lantang:
begadang jangan begadang
kalau tiada artinya*

rhoma irama seperti sedang mengajakku
untuk mengakrabi malam
dengan larik lirik yang seolah larangan

bukankah begadangku teramat keren
karena aku bekerja keras setiap malam
rajin membayangkanmu apakah dirimu
juga sedang membayangkanku
berulang dan menjadi semacam kewajiban
bagi seorang urban yang terjebak
di fragmen berjauh jauhan

kita belum sempat menemukan titik sua
bagi perbedaan yang menjalari tahun tahun
dan kita bertahan seperti alir sungai
dengan licin hijau tebal lumutnya
yang tekun membelah lebat hutan

masih nyaring suara lagu itu:
begadang jangan begadang
kalau tiada artinya*

tetap kutolak kantuk
maka aku perlu kopi hitam
seperti tinta yang akan menuliskan
kisah kita yang diselingi beberapa kesah
di lembaran kertas daur ulang
dan mungkin nanti masih terbaca perajin malam
seratus tahun kemudian

Bekasi, 2021
Keterangan: cetak miring & tanda *, petikan lirik lagu Begadang – Rhoma Irama.

Sudut Perpustakaan

stasiun kereta, ruang kafe, tempat wisata
menjadi halaman dari buku perjumpaan
tanpa sampul dan seadanya
yang diam diam kita selundupkan
ke dalam perpustakaan

di antara rak berjajar
dan debu waktu yang terhampar
buku kita terselip
di sela bacaan tebal yang isinya rumit
tulisan sederhana kita betah
memberi berulang pendar
dan ngiang percakapan sehari hari
begitu nyaring terdengar

kita nafikan lambaian tangan
karena kita tak pernah sepakat tentang jarak
dan kita bariskan kata kata
yang memuat elegi menjadi peta kota
kerap kita singgahi
dan lembar lembarnya terbaca
dengan penerangan cahaya dari jendela
yang pengertian pada bahasa rasa

Bekasi, 2021 

Puisiku Joget Tiktok

dikejar deadline lomba
kukirimkan puisiku yang baru setengah jadi padamu
tampak kurus dan kusut
tak ubahnya ciumanku yang tergesa
tapi kamu ketagihan dan selalu minta

ayo kamu bantu dong
kasih ide apa gitu
misal tambahkan diksi dan majas bergizi
biar puisiku jadi lebih seksi

aku capek mikir
untuk mempertemukan penyair dan era digital
karena sebagian dari mereka sama sama gengsi tinggi
sering banget beda pendapat
meskipun tak sampai gelut

akhirnya selesai juga ini puisi
ah, terima kasih sayang
telah kau dandani puisiku
lewat peraman pelukmu yang tanpa teori
hingga ia pun lebih percaya diri
dan siap tampil all out di social media

puisiku kini sudah terlihat padat dan montok
katanya nanti juga mau joget tiktok
menghibur para penyair dan netizen
yang kebanyakan, konon malas membaca
doakan dan ikut promosikan sampai viral ya
agar dapat like dan komentar jutaan, tra la la

dan kalau puisiku juara, nanti kutraktir kamu
kubelikan cilok sepuas puasnya, kalau perlu
segerobak gerobaknya
tapi jangan sebut sebut lagi cashback, malu tahu

Bekasi, 2021 

Akun Medsos Hot Spicy

ya kau gila padaku
dan kutahu bagian mana dariku
yang paling kau suka
tapi tak perlu kusebutkan itu

berapa kali kau zoom fotoku
di medsos setiap harinya
atau mungkin sudah banyak kau simpan
poseku di smartphone-mu

status telah menjadi jarak
yang jancuk
meski kita tak seharusnya juga
patah cerita

masih ada videoku di akun ig
kau bisa buka kapan saja
racun yang bikin nagih
oh ya, masih banyak persediaan

sampo mentolmu bukan?

Bekasi, 2021 


Penulis:

Budhi Setyawan, atau yang lebih akrab dipanggil “Buset“, kelahiran Purworejo, 9 Agustus 1969. Mengelola komunitas Forum Sastra Bekasi (FSB) dan Kelas Puisi Bekasi (KPB). Saat ini tinggal di Bekasi, Jawa Barat. Blog: https://budhisetyawan.wordpress.com, akun Instagram: busetpurworejo.

Leave a Reply

Your email address will not be published.