Puisi
Puisi Ilham Wahyudi

Puisi Ilham Wahyudi

Salik
Ia tak membawa bekal apa-apa selain teriakan kerinduan yang terus menyembur dari bagian paling sunyi dalam dirinya. Iktikadnya pada hal yang lampau telah kembali dan memintanya untuk segera bertemu kepada pembuka pintu keterlupaan. Setiap langkah pencariannya—serbuan serta rongrongan suara kiri-kanan-depan-belakang tak putus-putus menghalaunya. Kridanya begitu tekun berhati-hati, seperti iringan semut hitam di atas batu kelam pada malam tanpa bulan; tapi ia tetap teguh—terus berjalan. Betapa jubahnya sungguh telah kotor dan penuh lubang koyak; ia bangkrut namun kerinduan selalu membuatnya kembali kaya. Ia mengingat jalannya di belakang, semata agar ia tahu bahwa jalan itu pernah dilalui seorang umi yang padanya kerinduan juga dicurahkan. Dan ia semakin teguh—bahwa ia hanya pengikut jalan. Bukan penemu jalan—jalan yang sunyi lagi menggetarkan.
Kalibata, 2022

Suluk Pengrajin Kata
Ia hanyalah pengrajin kata; bukan penemu kata. Ia tidak mengetahui apa-apa selain yang diajarkan kepadanya. Tabahnya dalam menyusun kata adalah geliat cacing dalam tanah; mengumpulkan yang terserak menjadi kata-kata, agar kelak mudah belaka kau hidu makna tanda. (Tapi janganlah berhenti pada menghidu, sebab tidak selamanya wangi sesungguhnya) Ia jahit bibirnya supaya yang ia dengar bukan lagi teriakan prajurit prasangka dari mulut nalarnya. Ditebasnya pohon-pohon angan biar semua waham gugur bagai pasukan Abu Jahal pada perang Badar. Ia giat bersafar menggenapkan zikirnya. Kadang acap pula ia meniru kebiasaan Daud, semata ingin kemurnian kata mudah tersingkap—dan ia berlega hati setelahnya. Untuk itu jangan pernah menunggu sabdanya—itu sia-sia. Ia bukan raja, tetapi kata-kata atau kalimatnya hanya untuk—demi—sang raja. Pernahkah kau bertemu raja? Raja paling raja dari raja? (O, pengrajin kata, jadikanlah kata sebagai tanda, agar kami lalui jalan kata yang begitu sunyi; sekaligus ramai belaka)
Kalibata, 2022

Hudhud
Bukan lantaran besarnya istana Sulaiman, ia betah bersiul mengabarkan yang memang seharusnya diuritakan kepada sang raja. Baginya cukup setangkai dahan untuk menunjukkan betapa kokoh paruhnya bersetia. Ia tak pandai membual sebab itu tak satu pun kata berhasil dicuri si pencuri dengar yang akan membuatnya ingkar. Baginya Sulaiman adalah raja sekaligus karib yang kental. Elokkah membelokkan warta kepada sang karib? Dicatuknya tanah sebagai bukti patuhnya ia tatkala sang raja kewalahan mencari sumber air (syaitan coba menarik air itu kembali ke tanah) dalam sebuah safar bersama bala tentara yang teguh. Bila ia tak terpandang mata Sulaiman (mungkin sedang berkeliling ke negeri-negeri jauh) gelisahlah hati sang raja; seumpama seorang pecinta yang ditinggal pergi kekasih. Dan ketika ia kembali, terbitlah senyum dari bibir yang selalu berzikir. Ia juga salik bagi kawanan burung, tatkala kedalaman cintanya pada sang raja menuntunnya mencari sang Raja sejati di balik gunung Kaf. Ia tak lelah mengingatkan si Bulbul bilamana kembali dijerat cinta sang mawar. Ia ceritakan banyak amsal, semata agar Bulbul serta burung-burung lain tetap teguh mencari di mana singgasana Simurgh. Oleh karena itu, masihkah kau ragukan jambul di kepalanya adalah bukti ia bermahkota?
Kalibata, 2022

Bulbul
Adakah yang lebih merdu mengumandangkan nyayian cinta selain ia yang selalu meratap di hadapan Daud yang mesra mencintai Tuhan? Sungguh, hanya ia yang pantas berada di dalam taman cinta yang penuh bunga-bunga. Dan betapa mawar, anggrek, serta melati begitu mengaguminya; masing-masing kelopak bunga menyeru, “Bulbul…Bulbul…Bulbul, teruslah nyanyikan syair cintamu! Kami sebenar-benar mabuk akannya.” Sebab itulah ia sabar berlama-lama di dalamnya; sekadar cuma mengharapkan rahasia cinta dari kelopak bunga yang gugur ke tanah—agar tak menyebar keluar dari dalam taman. Ia bukan tak ingin melanglang buana ke negeri jauh serupa Hudhud, namun kelopak rahasia cinta setiap bunga selalu membuatnya lupa akan hal-hal di luar taman. Ia seperti terpenjara tetapi kunci kebebasan sesungguhnya ada di kedua sayapnya. Ia sudah terlampau tenggelam; terlibat cinta kepada bunga. Pikirannya, hatinya, bahkan jiwa raganya senantiasa merindukan rahasia-rahasia cinta yang menyembur dari tiap-tiap kelopak bunga. Tapi sumpah, pada mawar saja ia keras hati kepayang. Sehingga apabila mawar berbunga seratus kelopak, ia pun merasa tercukupi—penuh hatinya. Maka tatkala seruan Hudhud mencari Simurgh berkumandang, murah percuma ia menampiknya.
Kalibata, 2022

Nuri
Hei, paruh siapakah yang berlumur gula itu? Alangkah manis lafal madahnya, elok sungguh bulu-bulunya bagai permadani hijau hamparan bumi. Sehingga terbitlah keinginan memilikinya dari seorang biadab buta hati. Ia dikurung dalam sangkar emas (bukankah setiap makhluk fitrahnya adalah merdeka?) supaya tak seorang pun selain si biadab yang mahir menikmati taklimat kicaunya. Lihatlah yang melingkar di lehernya, itu lengkung leher baju kencana dari istana Namrud yang megah. Dan Ibrahim sahabat Tuhan telah membakar istana dunia itu dengan kobaran api dari neraka. Dan ia pun menjadi sahabat Ibrahim pula. Sahabat yang padanya telah diberikan sebuah jubah kehormatan; yang begitu layak dipakai dalam taman surga. Namun sayang sungguh teramat sayang, sangkar emas telah menjadikannya memimpikan sesuatu yang mustahil; yakni air sumber kebakaan yang dijaga oleh Khaidir dari si pencuri dengar pembangkang. Sebab itu ia pun menjelma rajin bersenandung lagu kerinduan; menunggu sesiapa saja yang akan membawanya ke pundak Khaidir. Tetapi Hudhud menyadarkannya, bahwa yang baka hanyalah Ia sang Raja sejati—yang menyukai perjalanan dengan hati senang lagi lapang.
Kalibata, 2022

Merak
Duh, kuas siapakah yang begitu indah melukiskan mata pada setiap ujung bulunya? Bila ia berjalan ke sana-kemari, maka ingatan pada pengantin muda akan muncul, dan kau pastilah merasa bangga jika ia sebenar nyata berjalan di sisimu sebagai mempelai. Ia begitu masyhur hingga yang bertelur dari puaknya, rela belaka berbagi kasur. Ketika waktu berahinya tiba, ekornya pun mekar bak kipas raksasa; sungguh ia teramat sempurna dengan mahkota kipas pula di kepalanya. Ia dipenuhi berbagai macam perlambangan: keperkasaan, keindahan, kebijaksanaan, kekayaan, dan mungkin hal-hal lain yang enak didengarkan telinga. Namun ia sungguh teramat ramah, yang membuatnya begitu percaya rayuan ular buana. Oleh karena itu, ia pun menjadi serupa Adam; terusir dari surga dunia. Kini ia begitu gelisah; menantikan datangnya si penunjuk jalan. Tirakatnya hanya untuk lepas dari penjara gelap yang menjerat kedua kakinya, sampai ia melupakan surga yang sesungguhnya; menemukan istana sang Raja sejati. Dan Hudhud mengingatkannya, “Jalan yang lurus ialah jalan menuju istana Simurgh. Istana itu tempat tinggalnya jiwa; pemukiman hati, dan tempat duduknya kebenaran. Maka, tinggalkanlah selokan dunia dan menceburlah ke dalam lautan maha raya milik sang Raja!”
Kalibata, 2022

Merpati
Kadang-kadang kami memanggilmu Dara, meskipun kau bukan semata betina. Elok nian ragamu Tuhan ciptakan, sehingga kau sering pula kami bayangkan seorang puan. Melalui rupamu Roh Kudus turun ke atas kepala sang Penebus Dosa; lihatlah sampai sekarang, gambarmu masih kokoh di kepala sang Gembala. Tidakkah hatimu gembira, wahai Dara? Dan masih kami ingat betul wartamu kepada Nuh—lelaki yang ditertawakan lantaran membuat bahtera—tentang daratan melalui selembar bukti daun zaitun. Betapa kau rajin belaka mengantar pesan: ribuan mungkin juga ratusan ribu nyawa terselamatkan. Engkau juga rajin menghafal; sedangkan kami teramat betah mendengkur di bantal. Maka nyayikanlah kidung pengharapan, sebab lengkung leher baju keimanan begitu anggun engkau kenakan. Sungguh bila kau tempuh jalan pertobatan, air kehidupan pastilah akan kau dapatkan. Serupa Khaidir yang mencintai Tuhan.
Kalibata, 2022

Elang
Bila gigimu mahir menggigit, maka paruhnya kuat mengoyak. Apabila kukumu panjang kau potong; kukunya lengkung tajam mencengkeram. Ia memandang setajam pisau; kau membayang-bayangkan emas berkilau. Ia mengintai menjaga marwah; kau membantai lantaran amarah. Ia memangsa musuh semata; kau buat binasa saudara semena-mena. Ia bertelur menjaga zuriahnya agar anak-cucumu senang belaka membicarakan buasnya. Ia tamsilkan hidup merdeka; kau praktekkan jiwa terpenjara. Ia tekun-tabah menanti sulungnya meninggalkan sarang; kau susah-payah mengajari bungsumu berbenah. Betapa banyak perbedaan sekiranya puisi ini menjelaskan. Tapi apa untungnya lagi dijelaskan, kalau kau buta sungguh diri sendiri.
Kalibata, 2022.


Penulis:

Ilham Wahyudi. Lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang juru antar makanan di DapurIBU dan seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Puisi-puisinya ada yang ditolak redaksi ada yang dimuat redaksi. Buku kumpulan puisinya “Pertanyaan yang Menyelinap” akan segera terbit. Akun Media Sosial: FB Ilham Wahyudi. Akun IG : ilhamwahyudi_ilham.

1 thought on “Puisi Ilham Wahyudi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *