Cerpen
Berita

Berita

SEJAK kena pehaka, saya sulit mendapat pekerjaan lagi. Pengalaman kerja sebagai office-boy  tak banyak menolong untuk mendapat pekerjaan lagi. Padahal saya tidak melamar dengan posisi yang lebih tinggi. Menjadi staf administrasi, misalnya.

Bagi saya bekerja dengan posisi yang sama – sebagai pesuruh kantor – pun sudah bersyukur. Saya menyadari pendidikan saya pas-pasan. Tak punya keahlian  khusus pula.

Boleh jadi saya tak diterima bukan karena tak punya pengalaman. Melainkan status saya sudah tidak lagi bujangan. Melainkan sudah punya istri dan anak. Padaha, saya yakin, saingan saya yang masih berstatus lajang. 

Setelah sebulan menganggur, saya menghubungi Lik Jarwo. Tukang batu yang pernah saya ikuti. Ya, saya pernah membantunya ketika ia bekerja merenovasi rumah.

Lik Jarwo adalah teman sekampung ayah. Hanya saja, ayah dan Lik Jarwo beda profesi. Ayah bekerja sebagai penjual roti keliling dan Lik Jarwo sebagai tukang batu.

Seminggu setelah ujian, ayah meninggal. Sedangkan ibu  meninggal tatkala saya masih duduk di kelas lima esde. Dan, ayah tak pernah menikah lagi.

Setelah ayah meninggal, mau tidak mau, saya harus mencari penghasilan sendiri. Sambil menunggu ijazah keluar saya diajak Lik Jarwo. Menjadi keneknya. Namun, tidak sampai setahun saya bekerja sebagai kenek tukang batu. Sebab setelah ijazah keluar saya mulai melamar pekerjaan. Kendati hanya sebagai office-boy saya diterima di sebuah perusahaan swasta.

Sejak menjadi karyawan, apalagi setelah punya isteri, saya tak pernah membantu Lik Jarwo. Namun, jika hari libur kadang-kadang saya menengok Lik Jarwo yang sedang bekerja. Apalagi jika tempat ia mendapat pekerjaan tidak jauh dari rumah kontrakan saya.

Sebagai seorang tukang batu, memang, lokasi pekerjaan Lik Jarwo tidak menetap. Jarang sekali ia mendapatkan pekerjaan membangun rumah. Pekerjaannya lebih banyak merenovasi atau memperbaiki rumah. Entah ada yang hendak mengganti keramik, menambah ruangan, mengganti pintu, membetulkan atap, mengecat tembok, atau yang semacamnya.

Lik Jarwo jarang menganggur. Bahkan tidak jarang ketika satu pekerjaan di satu tempat belum selesai sudah ada yang memesan tenaganya. Hingga lelaki yang sudah menduda dan belum punya anak itu benar-benar tak pernah menganggur.

Satu tahun setelah ikut Lik Jarwo lagi. Job Lik Jarwo tak seperti dulu. Tak jarang hingga berhari-hari tak ada yang memberi pekerjaan. Saya terkena imbasnya, tak ada pemasukan.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Aina saya suruh berjualan nasi uduk dan ketupat sayur. Usaha ini tak memerlukan modal besar. Cincin kawin yang melingkar di jari manis perempuan itulah yang kami jadikan modal awal berdagang yang digelar tiap pagi di depan rumah.

Lantaran jarang ada kesibukan – karena tidak ada pekerjaan –  tenaga saya selalu prima. Libido pun meningkat. Tragisnya, Aina justru sebaliknya. Seringkali ia menolak keinginan suami yang ingin menyalurkan hasratnya. Jika keinginan tidak tersalur dapat dipastikan saya akan mengalami mimpi buruk. Entah kenapa saya tak pernah mampu melampiaskan kekesalan jika mendapat penolakan semacam ini.

Anehnya, mimpi buruk itu nyaris sama. Ya, saya akan melihat Aina bergumul dengan lelaki lain dengan sangat bergairah. Saya menyaksikan perbuatan itu tanpa bisa berbuat apa-apa.

Di sebuah tempat yang sangat asing – seperti sebuah barak tantara yang pernah saya lihat di film perang – tiba-tiba saya melihat Aina sedang bergumul dengan seorang lelaki. Dalam peristiwa itu Aina sangat bergairah. Ia yang punya inisiatif melakukannya.

Ibarat menonton live show. Adegan menjijikkan saya saksikan sendiri. Celakanya yang menjadi pemeran utamanya adalah Aina. Saya tidak bisa tinggal diam. Secepatnya saya menghampiri mereka, hendak menghajar makhluk yang bertindihan itu. Suami mana tidak marah istrinya melakukan hubungan intim dengan lelaki lain? Apalagi disaksikan banyak orang.

Namun, sebelum saya sempat menghampiri dua makhluk itu, tiba-tiba beberapa tangan segera memegangi saya. Bahkan ada yang memiting leher. Suara saya tentu saja seperti orang tercekik. Napas terasa susah. “Ak…akkk…ak…” hanya itu yang terucap dari mulut.

Apabila sudah demikian, biasanya, Ayu akan membangunkan bapaknya. Mungkin ia mendengar igauan sang bapak. Karena kami memang masih tidur dalam satu ruangan. Rumah kontrakan yang kami tempati hanya ada satu kamar. Itu juga hanya sebutan bagi kami. Sebab ruangan itu bukan saja tak ada pintunya. Melainkan hanya disekat dengan tripleks. Ya, rumah petak yang kami tempati berukuran 3 x 10 meter itu disekat menjadi tiga. Dan, kami menyebutnya ruang tamu, kamar, dan dapur.

Jika saya sudah terbangun, gadis kecil itu akan bertanya tentang apa yang terjadi. Namun, saya tak pernah berterus terang. Saya katakan, bahwa bapakmu hanya mendapat mimpi buruk.

“Barangkali tadi bapak lupa baca doa sebelum tidur,” lanjut saya.

Sementara itu, Aina hanya membuka mata sebentar. Lalu tidur lagi.

Untuk kali yang pertama, Aina yang membangunkan saya. Ia bertanya penyebab saya mengigau di tengah malam. Padahal sudah belasan kali saya dibangunkan Ayu.

“Mimpi apa sih, Mas?”

Saya diam. Mimpi itu masih terbayang di pikiran. Napas saya masih ngos-ngosan.

Setelah berkali-kali melontarkan pertanyaan di atas. Saya tak memberi jawaban, kecuali diam. Lalu dengan nada ketus ia bertanya, “Mas tidak menganggap saya sebagai isteri?

“Memangnya, kamu masih menganggap saya sebagai suami? Berkali-kali kamu menolak ajakan saya. Kamu sepertinya tidak ikhlas melayani,” akhirnya saya terpancing dengan desakannya.   

“Kalau tidak ikhlas, ya saya tidak pernah melayani,” katanya. Ketus.

“Buktinya orang diperkosa. Orang  diperkosa akan melayani walaupun……”

“Orang diperkosa pasti lapor polisi,” potongnya, “Apakah  saya begitu?”

Saya diam. Kaget. Tak menduga kalau Aina akan memotong kalimat saya.

“Apakah saya pernah lapor polisi kamu menyetubuhi saya. Toh, orang pasti tahu kita melakukannya. Kalau tidak, mana mungkin kita punya anak?”

“Maksud saya bukan ….,”

“Lantas yang disebut ikhlas itu yang bagaimana?” potong Aina.

“Yang tidak terpaksa.”

Aina diam.

“Apakah pelacur ikhlas melayani lelaki? Apakah lelaki yang pernah menidurinya tak akan mengulangi lagi? Bukankah pelacur dan pelanggan yang sama bisa melakukan  berulangkali. Tetapi, mereka tak pernah lapor polisi. Bisa saja pelacur terpaksa. Terpaksa karena tidak punya pekerjaan lain selain menjual jasa seks?”

“Jadi, kamu menganggap saya pelacur?”

“Kalau pelacur tidak seperti kamu. Tidak pasif. Pekerja seks malah melayaninya dengan bergairah. Memberikan yang terbaik agar lelaki yang dilayaninya terpuaskan.”

“Jadi, kamu suka melacur?” tanyanya dengan, “Pantas! Tiap hari kamu pergi tapi tidak pernah kasih uang belanja. Rupa-rupanya selama ini uang itu kamu berikan kepada pelacur yang ….”

“Apa kamu bilang?” potong saya.

“Buktinya kamu tahu bagaimana cara pelacur melayani….”

Tanpa menunggu Aina menyelesaikan kalimatnya, sebuah tamparan keras saya layangkan ke wajahnya. Ia membalas. Saya makin kalap. Dan, saya tidak menyadari apa yang terjadi selanjutnya.

Saat itu, saya juga tidak ingat kalau punya anak. Sebab saat itu Ayu menginap di rumah neneknya.

Yang saya ingat, tiba-tiba para tetangga sudah berada di dalam rumah. Tak lama kemudian polisi datang. Aparat berseragam itu membawa saya. Dan, entah kenapa, saya layaknya robot tatkala  petugas itu memborgol kedua tangan saya. Saya tak berontak. Tak melawan.

Saya masuk berita kriminal pada siaran televisi swasta. Berita itu menyebutkan ayah dari seorang anak telah membunuh istrinya sendiri. Gara-gara sang istri tidak mau diajak berhubungan intim.

Saya melihat gambar Aina yang terbaring di rumah sakit yang diselingi dengan wawancara dengan seseorang yang saya kira itu Lik Jarwo. Gambar lelaki itu tidak begitu jelas terlihat. Sebab wajahnya diblur. Suaranya pun disamarkan.(*)


Penulis:

HUMAM S. CHUDORI,  lahir di Pekalongan, 12  Desember 1958. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit antara lain: Dua Dunia, Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Kita, Perkawinan. Novelnya: Sepiring Nasi Garam, Bukan Hak Manusia, Ghuffron, Shobrun Jamil, Rezeki, Hijrah, Kontradiksi di Dalam Batin. Kumpulan puisi: Perjalanan Seribu Airmata. Buku non fiksi: Membuat Tempat Tidur Sehat, Aneka Kerajinan Tripleks, Liku-liku Perkawinan, Modul Menulis dan Mendongeng (ditulis Bersama Gito Waluyo).

Sajak, cerpen, dan artikelnya – selain dimuat di media cetak (pusat dan daerah) – juga dimuat dalam buku antologi antara lain: Empat Melongok Dunia, Rumah yang Berkabung, Trotoar, Sketsa Sastra Indonesia, Antologi Puisi Indonesia 1997, Resonansi Indonesia – edisi dwi Bahasa (Indonesia-Mandarin), Jakarta dalam Puisi Mutakhir, Senandung Wareng di Ujung Benteng, Seratus Puisi Qurani 2016, Kebaya Bordir untuk Umayah, Gumam Desau dan Esai, Dalam Pelukan Sang Guru, Alumni Munsi Menulis, Cimanuk – Ketika Burung-burung Kini Telah Pergi, Batik si Jelita, Sepasang Camar, Jejak Kata, Tifa Nusantara 2, Ije Jela, Gelombang Puisi Maritim, Mengalir di Oase, Kristal-kristal Diha, Komunitas Sastra Indonesia – catatan perjalanan, Berbisik pada Dunia, Buitenzorg, Lima Titik Nol, Pujangga Face Book, Sang Apresiator, Kejernihan Cinta, Kota yang Bernama dan Tak Bernama, Matahari Cinta Samudera Kata, Sejuta Puisi untuk Jakarta, Ini Kali Tidak Ada yang Mencari Cinta, Laut dan Kembara Kata-kata, Raja Kelana, dll. Selain itu, ayah dari delapan orang anak ini, juga menulis prolog dan epilog sejumlah buku.

Your email address will not be published. Required fields are marked *