Puisi
Puisi Polanco S. Achri

Puisi Polanco S. Achri

Percakapan Danang Sutawaijaya
dengan Rara Lembayung

Rara Lembayung berkata begitu murung:

Duh, Kangmas Sutawaijaya, setiap malam purnama,
sambil mengelus perut berisi putra, yang kian hari
kian dekat masa lahir ke dunia, sahaya sering bertanya
pada terang bundar di angkasa: Duh, Purnama, mengapa
suami sahaya, kangmas yang sahaya cinta, air mukanya
tampilkan sedih berduka, tiada senang berbahagia?
Apakah karena pernikahan kami dijodohkan orangtua,
apakah sebab usia sahaya yang tiada muda dan jauh
berselisih dengannya, atau apakah sebab rupa sahaya
yang tiada jelita hingga tiada sedap dipandang mata
dan membuat Kangmas Sutawijaya bersedih, berduka,
dan juga tiada senang berbahagia kala bersama sahaya?

 

Danang Sutawijaya pun menggelengkan kelapa
sambil hangat menyentuh tangan istrinya.
Rara Lembayung menatap mata suaminya; dan
dengan berkaca bertanya soalan mengapa:

Lantas, kenapa Kangmas
berwajah muram seperti ribuan derita
menghujam-menikam begitu teramat dalam?

 

Danang Sutawijaya pun menjawabnya:

Ada sahaja, dan selalu ada sahaja, Nimas,
yang meminta dan memaksa Kangmas, supaya
tenggelam dalam duka-derita nestapa. Betapa
Kangmas bukanlah Ibrahim; sama sekali bukan;
meski Nimas mendekati Siti Sarah yang bijak
dalam berlaku bertingkah; meski Nimas dekati
Siti Hajar kala dapati derita-ujian yang mana
terlampau suka datang mengakar-menjalar . . .

 

Rara Lembayung mendekat
dalam dekap—lantas berucap:

Apa Kangmas akan meninggalkanku
dan ini anak dalam kandungan? Sungguh
kesepian telah menjelma gumuk pasir
yang terlampau luas, Kangmas, telah menjelma
gurun yang menolak hujan. Dan, akankah
airmataku kelak jadi zamzam yang bisa puaskan
putra kita bila haus datang di mungil itu telak?

 

Danang Sutawijaya pun
erat mendekap dan kian dalam berucap:

Aku tahu, aku sudah berdosa—sehingga layak
dihukum kini dan juga nanti. Akan tetapi,
ada suatu yang memaksa, meminta bersegera.

 

Rara Lembayung pun jatuhkan tangis
di dada Sutawijaya, lantas terisak berkata:

Apakah kuasa-tahta memang suka memaksa?
Apa kuasa-tahta tiada izinkan kita bersama? 

 

Danang Sutawijaya lembut menghapus
tangis istrinya—dan lirih berkata:

Ya, Nimas. Kuasa dan takhta memang
terlampau suka memaksa; tiada genap izinkan
Kangmas guna bertanya mengapa atau kenapa.

(2020—2024)

 

Percakapan Rara Lembayung dan Jaka Umbara

 

Ibu, kenapa aku dinama Jaka Umbara?
Apa benar karana aku ialah putra
yang dibuang terlantarkan Ayahandanya?

 

Kekuasaan memang telah menelantarkanmu,
tapi tidak dengan Ayahandamu, tetapi tidak dengan suamiku.

 

Memang, siapakah Ayahandaku, Ibu;
siapakah suami-garwa daripada Ibu itu?

 

Ayahandamu, Anakku, ialah pemilik alun-alun, ialah
pemilik tanah luas yang buat orang jadi tertegun—

(2020—2024)

 

 

 

Percakapan Danang Sutawijaya dan Jaka Umbara

Apakah Ayahanda membenci sahaya dan juga Ibunda?
             Tidak.

 

Lantas mengapa Ayahanda meninggalkan kami berdua?

Aku bukanlah Ibrahim. Aku tiada punya
genap jawaban yang bijak dan juga hakim.
Aku hanya lelaki kesepian yang terjebak
dan dijebak takhta-kekuasaan—yang
pada akhirnya hanya bisa jawab tanyamu
dengan berkata: Aku terpaksa dan dipaksa.

 

Apa Ayahanda akui sahaya sebagai anak, sebagai putra?

Ya, aku selalu mengakuimu sebagai anak;
tiada pernah ingin menolak. Akan tetapi, kini,
pulanglah dahulu, jagalah Ibundamu dahulu—
sebab datang sebuah sasmita yang bagai tajam keris:
kabar yang begitu mengiris membawa tangis. Dan
bila keris telah berbaju warangka, maka kembalilah
dirimu ke sini, datangilah dia, Panembahan Senopati.

(2020—2024)

 

Sepulang dari Jumpa Pertama dengan Ayahanda

Ayahanda memintaku menemani Ibu.

Ya, Anakku. Meski nantinya banyak warta yang bekata
bahwa Ayahandamu tiada mau menjengukku, tetapi
kuharap kau tiada membenci Ayahandamu, tiada benci
Danang Sutawijaya putra Ki Ageng Pamanahan bernama.
Betapa, Ayahandamu memintamu menemaniku supaya
tiada sendirian kala alami perpisahan—dengan kehidupan.
Sungguh, Anakku, tahta telah merantai kaki-tangannya,
hingga tiada bisa ke sini menemaniku menuju Sana.
Ibunda percaya, Anakku, bahwa dia begitu mencintaiku.
Apakah Ibundamu ini layak jadi istri Danang Sutawaijaya
yang kini bergelar nama Panembahan Senopati ing Ngalaga?

 

Ayahanda berkata, Ibu lebih dari istri bergelar nama;
Ibu ialah garwa Ayahanda, ialah sigaraning-nyawa.

Anakku, Cah Bagus, Jaka Umbara,
apakah dirimu mau menjadi seprti Ismail?

Ibu, aku hanya ingin jadi anakmu yang mungil;
anakmu yang senang memancing dengan sebuah kail.

Anakku, apa di kehidupan nanti
dirimu masih mau menjadi anakku?

Tentu, Ibu, tentu. Apabila Gusti memberi suatu restu.

(2020—2024)

 

Dari Jaka Umbara Bernama
ke Pangeran Purbaya Begelar

Di hadapan seluruh punggawa istana, di hadapan para abdi negara,
Panembahan Senopati bersabda, bertitah kepada Jaka Umbara:

Duh, Ananda, namamu kini, ialah Pangeran Purbaya—

 

Dengan trapsila, menjawablah itu pemuda:

Sahaya terima, duh, Ayahanda. Akan tetapi, oh, Ayahanda,
meski sahaya putra pertama, izinkanlah sahaya meminta
janganlah sahaya dijadikan sebagai seorang putra mahkota.

 

Panembahan Senopati ing Ngala pun bertanya alasan mengapa;
meminta sampaikan kepada sekalian sidang bermuka. Jaka Umbara,
yang telah berganti nama Purbaya, dengan sopan lekas berkata:

Sahaya ialah outra Ayahanda, bukanlah putra raja penguasa;
sahaya ialah anak yang hendak mengabdi pada sang bapak,
bukan bidak caturangga yang bertindak sebab titah sang raja.

 

Panembahan Senopati ing Ngalaga pun kembali bersabda bahwa
Jaka Umbara, yang kini Purbaya bernama, mestilah menjaga
seluruh sanaknya, seluruh anak turun putra Senopati ing Ngalaga!
Saat hendak satukan tangan, saat hendak terima sabda jalankan,
terhenti sepasang tangan sang pangeran, lantas ajukan pertanyaan:

Ayahanda, apa sahaya
mesti menjadi-menjelma Bishma?

 

Mendekatlah Panembahan Senopati kepada
Pangeran Purbaya, lantas berkata:

Dirimu adalah anakku,
dan akan tetap jadi anakku, Ngger….

(2020—2024)


Penulis:

Polanco S. Achri lahir dan tinggal di Yogyakarta. Seorang lulusan jurusan sastra yang kini menjadi pengajar di sebuah sekolah menengah kejuruan di Sleman. Menulis sajak, prosa-fiksi, dan drama, serta esai-esai pendek. Adapun, beberapa tulisannya tersebar di media, baik cetak maupun daring. Dapat dihubungi melalui FB: Polanco Surya Achri dan/atau Instagram: polanco_achri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *