Esai
Keharmonian dan Kegentingan dalam Buku Puisi ‘Kata dan Batu’

Keharmonian dan Kegentingan dalam Buku Puisi ‘Kata dan Batu’

Pada pembacaan pertama lima puluh empat puisi yang termaktub dalam buku puisi Kata dan Batu karya Lailatul Kiptiyah, kesan harmoni begitu kentara muncul dari puisi-puisi ini. Harmoni, sendu, tentram, segelintir kata yang maknanya tak jauh dari situ dapat menjadi jawaban ringkas apabila ada yang bertanya perihal buku ini. Kesan semacam itu sudah dapat terlihat dari judul-judul puisi yang dipilih di mana menyuratkan dunia tumbuh-tumbuhan seperti Sirih Gading, Kenanga, Daun-daun Bambu, Kamboja, Ke Ladang Tebu, Jambu Batu, dan lain-lain. Selain itu fitur-fitur yang digunakan juga tak jauh dari ladang, tanah, daun, benih, langit, kantung air, matahari, kembang. Fitur-fitur yang apabila disatukan membentuk kesatuan harmoni yang mengantar pemandangan seperti sedang menikmati cuaca cerah dengan semilir angin sejuk.

Apakah kemudian pada pembacaan berikutnya yang lebih mendalam, kesan harmoni maupun ketentraman itu tetap terpancar? Saya membagi lima puluh empat puisi di buku ini ke dalam beberapa topik atau ide. Inilah hasil tilikan saya, bahwa fitur-fitur dari dunia ladang dan tumbuhan tersebut ternyata membawa pembaca ke ragam pembicaraan.

Pertama, paruh awal di buku ini berbicara tentang kematian. Bisa dikatakan “kematian yang telah selesai”, sebab di puisi-puisi awal ini tidak terbaca kematian dalam saat yang krisis atau berada di ambang. Tidak juga tentang kematian sebagai bagian dari eksistensial yang menggelisahkan. Kematian tiba ke pembaca lewat aktivitas berziarah. Melalui puisi-puisi berjudul Berita Duka, Nisan, Sirih Gading, Kenanga, Bermukimlah di Sini, aktivitas berziarah hadir sebagai sesuatu yang menampilkan sikap menerima, merengkuh yang berpulang dalam ketenangan sendu. Seperti yang ada pada larik-larik berikut, Sedang di tanah lapang/tangan-tangan kembang terulur/merangkum/yang berpulang// (Berita Duka) ; Kuusap kubersihkan nisanmu/sebuah nama yang diberkati bumi/mencairkan kesedihan pagi// (Nisan) ; Tak perlu kau peram duka/pada tanah merah/yang basah oleh embun-embun doa// Angin telah mengantarkan wangimu/pada pintu-pintu pusara// (Kenanga). Beberapa contoh larik kutipan puisi ini sebagai bentuk penegasan bahwa maut itu bukanlah sesuatu yang menimbulkan ketakutan maupun ketidakberdayaan, ia dianggap sebagai sesuatu yang niscaya dan telah selesai.

Kedua, bagian pertengahan buku ini berbicara tentang pertumbuhan atau kehidupan. Kehidupan maupun pertumbuhan itu diwakili oleh puisi-puisi yang berisi tentang aktivitas menanam tumbuh-tumbuhan di antaranya Kami di Sini Sekarang, Kusibukkan Diriku Menanam, Zinnia Elegans, Memisahkan Anak Aglonema, Memandangi Rumpun Portulaca, Ia yang Menanam Miana. Subjek yang dominan di sini adalah aku-lirik. Rasa optimisme dan sikap ketegaran sangat kelihatan di puisi-puisi tentang pertumbuhan ini. Seperti yang terdapat pada larik-larik berikut, Kami di sini sekarang, sebuah kamar kecil/namun selalu longgar/bagi kembang-kembang yang datang//angan dan mimpi kami membusung membubung/oleh tumpahan warna kelopak-kelopak portulaca,/ (Kami di Sini Sekarang) ; Di musim yang remang/kusibukkan diriku menanam/agar matahari menjulur ke punggungku/seperti anakku, lentur dan riang/ (Kusibukkan Diriku Menanam) ; kuteguhkan diri merawatmu/dengan kasih sayang penuh/kuatkan batangmu/kibarkan daunmu// (Zinnia Elegans) ; Seperti kanak yang menatap/keluar jendela/kukenalkan ia pada tanah lain/sebuah dunia paling ramah menyapanya// (Memisahkan Anak Aglonema) . Jadi terbacalah dari kutipan-kutipan larik tersebut suatu siratan semangat dalam menggapai hal-hal baik di kehidupan yang diwujudkan dalam aktivitas menanam tumbuh-tumbuhan.

Ketiga, puisi-puisi yang berangkat dari sebuah nama tempat serta orang-orang yang menghuni tempat itu. Berbeda dengan puisi kematian dan kehidupan, di puisi perihal tempat dan orang-orangnya ini pembaca bisa melihat nilai pandang aku-lirik. Aku-lirik seperti melakukan pergerakan keluar. Ia menampilkan sikap simpatik terhadap apa yang berada di luar dirinya. Puisi-puisi berjudul Blitar, Pagesangan, dan Pada Tanah Sedih Ini menampilkan sikap itu melalui larik berikut: di pematang orang-orang berselendang pelangi/di ladang sepotong senja bernyanyi//Di alun-alun kota/sepasang beringin tua melambai/pada sais tua yang menghela kuda menuju utara// Perempuan-perempuan berkebaya/dengan selendang terselempang di dadanya/menyimpan harum tembang dalam gelungan// (Blitar) ; sorot cahaya kaya warna yang sama/kulihat sampai,/dari mata para amaq kusir cidomo/ (Pagesangan). Berdasarkan  larik-larik tersebut dapat diamati kelindan perhatian aku-lirik kepada sais tua, para perempuan berkebaya,amaq kusir cidomo, ibu penjual jajanan, juga terhadap orang-orang pesisir seperti yang ditampakkan melalui puisi berjudul Pada Tanah Sedih Ini: Seberapa getir tembang-tembang itu dinyanyikan/dari orang-orang pesisir// Seberapa berat gubuk-gubuk rubuh ditegakkan/dari duka-duka yang tersampir//.

Keempat, puisi-puisi yang menyoal dunia kreatif yaitu menulis puisi dan menonton film. Berangkat dari dunia sastra ke sinema. Terkhusus puisi-puisi dari dunia sinema, pembaca dapat menandainya lewat catatan kecil di bawah puisi. Sebagian film yang diceritakan kembali ke dalam puisi itu sudah saya tonton, jadi saya pun merasa cepat terhubung dengan sosok yang dinarasikan dalam puisi-puisi itu. Bagi pembaca yang belum pernah menonton film Muhammad: The Messenger of God, The Willow Tree, The Spirit of The Beehive, dan lain-lain, saya kira tidak akan kesulitan untuk masuk ke dalam puisinya sebab mereka diikat oleh “empati yang sama”. Bila di puisi-puisi sebelum ini, aku-liriknya bergerak keluar dengan memandang simpati segala apa yang berada di sekitarnya, maka di puisi-puisi yang bertopik dunia kreatif ini, aku-lirik  melihat sosok yang sedang diceritakannya itu dengan lebih menukik ke dalam lagi, mewujud sebuah empati dalam merasakan kesedihan dan ketabahan sosok tersebut. Puisi-puisi berjudul Kata dan Batu, Kesedihan Roya, Ketabahan Fern, Keluarga Fernando, diikat oleh diksi-diksi bernada sama yang menyiratkan akan kesedihan, ketegaran, hingga keberhasilan sosok tersebut dalam melewati masa-masa sulit.

Ada pula tersirat semacam keyakinan bahwa dunia kreatif itu sebagai dunia yang dapat menampung segala keluh kesah maupun derita seperti yang tampak melalui puisi berjudul Belajar Mendengar Puisi dan Menulis Sajak Tiga Baris. Puisi Adalah kata-katamu yang sabar/ menunggu. sebelum menitik/ ke rahim buku.// Puisi adalah sesuatu yang agung menyusupi jantung,/pendengaran ini// (Belajar Mendengar Puisi).

Di bagian kelima, pembaca menemukan puisi-puisi tentang obituari dari sosok maupun peristiwa yang bisa kita cari rujukannya di dunia nyata. Tentang jurnalis bernama Jamal Khashoggi di puisi Gedung, tentang kasus Yuyun-seorang anak yang mengalami pemerkosaan dan pembunuhan- yang dulu beritanya cukup santer terdengar. Ada juga peristiwa Mei 98, lalu kecelakaan pesawat Air Asia QZ8501-. Baik topik keempat dan kelima ini diikat oleh rasa empati yang mendalam. Empati pada sosok fiksi dalam dunia sinema maupun sosok yang pernah ada di dunia nyata.

Perihal spiritual bisa dikatakan menjadi bagian yang mengisi puisi-puisi menjelang penutup buku ini. Bila harmoni atau sesuatu yang padu nan serasi demikian mudah kita temukan sepanjang awal pembacaan hingga tiba ke topik empat dan lima, di puisi-puisi menjelang akhir terasa ada muncul suatu kegentingan atau krisis yang perlahan-lahan muncul ke permukaan. Hal ini mulai terlihat di puisi berjudul Tiga Keluarga Burung. Bisa diperhatikan melalui larik-lariknya: Tiga keluarga burung kehilangan sarang/ketika tiga pijar api menghabiskan ladang// Sekeluarga terbang jauh, menempuh nyeri gurun/sekeluarga menyusur timur dusun/mencari naung di bawah segerumbul bentul// . Frasa-frasa kehilangan sarang, menghabiskan ladang, menempuh nyeri gurun, menandai dimulainya kegentingan tersebut. Situasi perubahan dari harmoni menuju kegentingan itu juga terlihat di puisi-puisi berikutnya. Frasa-frasa yang saya kumpulkan dari puisi-puisi setelahnya punya asosiasi terhadap kegentingan yang sama: sayap maut, berjuta panah, labirin tergelap, luka dalam kemiskinan, hitam pedih sebuah perang, kesepian memeluk, nyala zalim,melukai hingga sumsum terdalam, hitam serupa dendam, duka belum bernama, rumah bagi segala melankolia.

Kegentingan ini menghadirkan pendekatan spiritual bagi aku-lirik, di mana kemudian pembaca dapat menandainya melalui diksi-diksi yang berhubungan dengan spritualitas yang bermunculan di tengah kalibut krisis itu, seperti diksi Tuhan, doa, berpuasa, yang sendiri berkhalwat. Bila kita hubungkan setiap topik yang telah ditemukan di pembacaan ini, maka membaca buku puisi Kata dan Batu seperti menghamparkan pada kita meditasi ke dalam diri yang dilakukan subjek liriknya. Meditasi sunyi yang bergerak “keluar-masuk”, ditandai dari kegiatan berziarah dan menanam. Aktivitas menanam yang biasanya kita bayangkan di halaman depan rumah, lalu dari sana pembaca tidak langsung dibawa masuk, tapi dibawa keluar melihat pemandangan aku-lirik  tentang orang-orang yang menghuni tempat dalam puisi yang berbicara tentang tempat, kemudian masuk lagi, namun kali ini ke laku alam pikiran (dunia kreatif dan obituari), selanjutnya masuk lebih dalam lagi ke tengah krisis yang kemudian memancarkan kesadaran spiritual. Bak gelombang tinggi yang perlahan-lahan tenang, pembaca pun mendapati ketenangan aku-lirik di puisi-puisi menjelang penutup yang kembali menunjukkan harmoni, meski dalam nada yang lebih sendu.

Membaca buku puisi Kata dan Batu juga membawa kita pada pengalaman untuk melihat bermacam-macam pola kurasional yang diberlakukan dalam penyusunan buku ini. Seperti pemilihan topik puisi per bagian yang telah saya paparkan tadi. Kita menemukan beragam kemungkinan bagaimana puisi-puisi yang berbeda topik itu bisa disusun berdampingan tanpa membuat feel pembacaan terasa terlalu melompat. Dengan membedahnya seperti ini dapat dilihat bahwa penyusunan setiap puisi bisa dimulai dari segi judul yang berasosiasi sama, isi puisi bernada sama, bentuk perhatian aku-lirik, bait penutup setiap puisi yang larik terakhir atau kata terakhirnya pun dapat menjadi titik keterhubungan menuju puisi-puisi berikutnya.

Seperti laku meditasi itu sendiri, membaca maupun membedah buku puisi Kata dan Batu adalah perjalanan keluar-masuk, bercermin ulang, yang diliputi oleh kesadaran dan kemauan untuk selalu mawas diri. []


Penulis:

Iin Farliani, lahir di Mataram, Lombok, 4 Mei 1997. Menulis puisi, cerita pendek, esai, dan novel. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media baik cetak maupun digital serta terangkum dalam banyak buku antologi bersama. Buku tunggalnya yang sudah terbit adalah kumpulan cerpen Taman Itu Menghadap ke Laut (2019) serta kumpulan puisi Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi (2022). Tahun 2022, sebagai emerging writer, ia diundang mengikuti Makassar International Writers Festival (MIWF), serta Ubud Writers & Readers Festival (UWRF). Sejak tahun 2013 bergiat di Komunitas Akarpohon, kolektif sastra berbasis di Mataram NTB. Buku kumpulan cerpen keduanya bertajuk Mei Salon dalam waktu dekat akan diterbitkan Mizan Pustaka (Bandung).  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *