Buka

Hujan bahagia basahi tenda putih biru persegi itu. Semua orang bungah. Pagar ayu telah siap dengan gaun maron dan bunga tempel di kerudung, para tetangga sigap membantu ke sana-sini, dua hansip berkumis kelabu membenahi sabuknya siap berjaga.

Tabu

Lengan kekar secara reflek mengayun ke arah pipi gadis muda itu. Sontak, si gadis terduduk memegangi pipinya yang panas. Air matanya menggenang menahan sabak yang meruak. Namun demikian, hatinya lebih gusar menerima perlakuan kasar dari laki-laki itu.

Rumah Abu-Abu dan PI

Sering timbul pertanyaan dalam benakku pada Ferdian, namun pertanyaan-pertanyaan itu tak mampu aku lontarkan, lalu semua seperti menjadi teka-teki yang cukup menghantui sepanjang pertemanan kami, hingga akhirnya aku ingin mengungkapnya sendiri.

Menunggu As

Tanpa ba-bi-bu Asep menyeretku keluar rumah. Ia mengajakku menaiki motornya. Tentu sebelum pergi, aku kunci pintu rumahku dulu. Kami pergi ke suatu tempat yang tidak asing bagi kami. Sebenarnya aku tidak begitu yakin dengan saran Asep. Aku sudah tidak percaya dengan tempat yang Asep anggap dapat menyelesaikan masalahku.

Puisi Yang Tak Bisa Diplagiasi

Tepat saat jasad lelaki itu dikebumikan, sebuah tabung oksigen ukuran mini tiba di rumah duka. Dia memastikan cintanya seperti oksigen bagi kehidupan. Lelaki itu memesannya secara online ketika dirawat di rumah sakit. Dia membeli tabung oksigen menjelang langka. Lalu, dialamatkannya untuk istrinya.

Kotak Hitam di Hati Pramugari

Perempuan itu membanting tubuhnya ke tempat tidur. Memeluk bantal. Meleleh air mata. Bantal basah, ia buang ke pojok ruangan. Ganti menikam guling. Air matanya tetap mengalir. Kian deras. Dan teramat deras. Seakan tak akan kering. Dalam gundah, gawainya berdering: “Embuhlah, wong sinting!”