Nusa Yang Hilang: Narasi Sejarah dan Diskursus Pascakolonial

Narasi sejarah adalah kumpulan fragmen-fragmen peristiwa yang dipotret dari berbagai sudut pandang. Karena itu, peristiwa sejarah selalu tak sederhana dan bersifat kompleks. Sejarah selalu berupa jalin kelindan peristiwa yang rumit. Mencatat sebuah peristiwa berarti juga mengabaikan peristiwa lain. Maka, narasi sejarah selalu tentang siapa dan apa yang tercatat. Narasi sejarah seringkali hanya mencatat peristiwa-peristiwa ‘besar’. Namun, di sisi lain, selalu ada penggalan-penggalan ‘kecil’ yang tak tercatat dalam narasi besar sejarah. Ada banyak peristiwa yang terlupakan. Ada banyak nama yang terabaikan.

Apa Gunanya Menulis Puisi?

Saat seorang kawan bertanya, “apa gunanya menulis puisi?” Saya tentu tidak bisa menjawabnya secara langsung. Saya terkadang tidak mengerti mengapa pertanyaan itu dia ajukan kepada saya dan apakah itu pertanyaan yang benar-benar butuh jawaban atau sekadar mengharapkan respon lain dari saya. Kemungkinan-kemungkinan itu begitu liar di kepala saya.

Ambivalensi dan Absurditas dalam Kura-kura Berjanggut

PETUALANGAN mencekam sekaligus jenaka terhampar dalam novel Kura-kura Berjanggut karya Azhari Aiyub. Mengambil latar utama abad 16 dan 17, petualangan ini menyuguhkan gerombolan bajingan, bandit, bromocorah, pengkhianat, penjilat, bajak laut atau perompak, dan manusia licik lainnya dalam pusaran Kesultanan Lamuri. Tak pelak, ambivalensi muncul dalam Kura-kura Berjanggut yang menggurita pada tokoh-tokohnya.

Membaca Ōe: Diskursus Abnormalitas, Transparent Heroes, dan Rasa Kemanusiaan Kita

Cerita dimulai dengan sajian adegan pelemparan seorang lelaki bertubuh gendut, nyaris ke dalam kandang seekor beruang di kebun binatang, di Kota Tokyo, Jepang, dengan penanda waktu pagi hari, pada musim dingin. Secara tiba-tiba, narator kemudian menggeser pembicaraan pada kondisi psikis tokoh tersebut: ia, akhirnya terbebas dari belenggu obsesi lama. Obsesi apakah yang dimaksud?

Kesusastraan dan Lingkungan: Sebuah Refleksi

Dalam catatan editor World Literature Today edisi musim panas 2019, Daniel Simon menuliskan bahwa persoalan perubahan iklim telah berada di tengah-tengah panggung global. Kerusakan kolosal pada lingkungan, lanjutnya, telah menggerakkan para penulis untuk berakselerasi menciptakan dunia baru agar penyebab manusiawi dari kerusakan itu dapat ditekan.