Penyair Perempuan Indonesia

Narasi mengenai kepenyairan—baik taraf dunia maupun Indonesia—selama ini selalu didominasi kaum laki-laki. Kita bisa menelusuri, misalnya, melalui catatan penerima nobel sastra. Penghargaan paling bergengsi di bidang kesusastraan yang diinisiasi oleh Alfred Nobel melalui Swedish Academy itu didominasi penyair laki-laki. Atau jika dalam ranah keindonesiaan, tidak banyak penyair perempuan Indonesia yang masuk dalam angkatan-angkatan sastra.

Puisi dan Tantangan Kebermaknaan

“…Puisi memang tetap terasing. Tapi keterasingannya bukan karena ia berkhianat. Keterasingannya justru sebuah kesaksian, bagaimana di jaman ini, ketika kata bertebaran dan berduyun-duyun bersama kapital, orang mudah tak mengakui bahwa ada  fragmen-fragmen, ada peristiwa-peristiwa yang seakan-akan terdiam.” Kutipan tersebut merupakan pamungkas esai Goenawan Mohamad (selanjutnya: GM) bertajuk “Fragmen: Peristiwa” (GM, 2011:20).

Antara Feminisme dan Genderisme

Gerakan kaum perempuan yang diawali dengan gerakan emansipasi kemudian berayun menuju feminis lantas bermuara pada kesetaraan gender sesungguhnya adalah gerakan transformasi dan bukan gerakan balas dendam kaum perempuan kepada kaum laki-laki. Hal itu berarti gerakan perempuan harus dimaknai sebagai proses gerakan untuk menciptakan hubungan yang setara yang lebih humanistis dan lebih baik. Hubungan kesetaraan ini bisa meliputi ranah ekonomi, politik, sosial, kultural, pendidikan dan lingkungan.

Indonesia, Teruslah Berpuisi

Dalam setahun terakhir dunia sastra Indonesia, khususnya puisi, menunjukkan kegairahan dalam beraktivitas yang luar biasa. Fenomena kegairahan aktivitas berpuisi muncul justru karena dipicu (atau hanya kebetulan berbarengan saja?) oleh meninggalnya sejumlah sastrawan dan penyair andal.

Eksistensi Hegemoni Kekuasaan dalam Novel

Saya tulis esai ini setelah 100 hari Sapardi Djoko Damono meninggal, tetapi kenangan pada karya-karyanya masih terus bermunculan. Dalam pandangan banyak kalangan, Sapardi Djoko Damono menyegarkan perkembangan dunia sastra Indonesia modern. Kreativitasnya boleh dikatakan selaras dengan konsep eksistensi dalam paradigma Kristeva, yakni mencipta kembali puisi ke dalam wujud novel.

Cerpen Indonesia dalam Arena Sastra Pasca Perang

Kedudukan cerpen dalam arena sastra sebelum perang dianggap oleh berbagai pengarang–khususnya sastrawan pujangga baru–sebagai kerja sastra yang tidak cukup penting. Secara kausalitas, tema-tema cerpen yang diangkat dianggap stagnan dan hanya berkutat mengenai lelucon dengan tujuan untuk mengajak pembaca tertawa tanpa maksud lain. Terlebih saat itu, dominasi roman dan puisi masih terasa kental dan kuat. Tidak ada ruang bagi cerpen untuk bergerak leluasa.

Problematika Penulisan Sejarah Sastra dan Jebakan Kanonisasi

Beberapa waktu lalu jagat sastra Indonesia diramaikan dengan pro dan kontra pada sebuah rencana besar dari seorang sastrawan untuk menulis sebuah buku tentang 100 penyair Indonesia terkini. Tentu saja tulisan ini tak hendak ikut menyoal, apalagi jadi bagian pro atau kontra terhadap rencana ambisius itu. Esai ini hanya akan menakar problematika penulisan sejarah sastra dengan resiko jebakan kanonisasi di dalamnya.

Kyai Song: Relasi Sastra, Kearifan Lokal, dan Wisata Kasongan

Di tengah semakin merebaknya jumlah penyair perempuan di Indonesia, nama Umi Kulsum patut mendapat tempat tersendiri. Umi Kulsum (UK) sebagai penyair yang berkiprah di Yogyakarta dianggap penting. Buku kumpulan puisinya berjudul Lukisan Anonim, diterbitkan oleh penerbit Interlude, Yogyakarta, 2016, sangat tepat dijadikan materi kritik sastra yang terkait relasi sastra dengan kearifan lokal, pariwisata, dan ekonomi kreatif.