Sastra sebagai Penafsir Ulang Peristiwa Keseharian

Ada upaya penyublimasian cerita-cerita keseharian dalam kehidupan kita, setidaknya itulah hal pertama yang akan didapatkan ketika menamatkan buku fiksi ini. Hal-hal biasa, yang terlewat dari orang-orang yang terlanjur disibukkan oleh pandemi yang membawa efek domino ke semua sendi kehidupan, hingga hal tersebut luput, diabaikan, bahkan tak dipedulikan.

Lelaki-Lelaki yang Berusaha Berdamai dengan Dunia

Pada awal 2022 film Drive My Car garapan Ryusuke Hamaguchi mendapat penghargaan Film Internasional Terbaik di ajang Academy Award atau Oscar. Selain itu, film berdurasi tiga jam tersebut juga dinominasikan dalam sejumlah kategori lain. Setelah Parasite pada 2019, Drive My Car boleh dibilang menjadi film Asia yang paling menarik perhatian dunia. Namun, saya tidak akan berbicara lebih jauh soal film atau menganalisis film itu.

Madura: Spiritualitas, Tradisi dan Seni

Madura Niskala berupaya mengabstraksikan lanskap kebudayaan Madura yang condong berjalan dialektis, mengalami penyortiran, rekonstruksi, dan tukar tambah. Selain itu, Royyan Julian kerap membumbui esai-esainya dengan sesuatu yang jenaka dan segar untuk dinikmati, kita juga akan dibawa ke dalam cerita-cerita sejarah lokal masyarakat Pamekasan.

Mengamati Hidup Lewat Kisah

Apa yang diharapkan Ketika membaca sebuah cerita? Kisah seorang tokoh dengan segala hal yang melingkupinya semacam ketegaran, kebebalan atau kepasrahan atau alur cerita yang melingkar dengan meninggalkan sejumlah enigma tentangnya. Dan sebagaimana yang pernah diungkapkan Hasif Amini, sebuah kisah yang baik akan meninggalkan ingatan yang tak sudah akannya, yang tak pernah mati.

Donor Sperma dan Dilema Etis Perihal Melahirkan Anak

Dalam kehidupan nyata, adakah dari kita yang pernah merenungkan makna melahirkan anak? Adakah dari kita yang pernah berpikir bahwa anak yang kita lahirkan kelak akan menanggung penderitaan dan tekanan sosial atau mengalami kehidupan yang tak menyenangkan? Adakah dari kita yang pernah sekali saja mengatakan ‘Nak, maafkan kami karena melahirkanmu demi keegoisan kami’ sebelum atau sesudah anak itu lahir?

Di Tengah Kemelaratan dan Upaya Memerangi Uang

Idealisme memerangi uang dan kapitalisme menjadi jalan yang dipilih pria bernama Gordon Comstock. Kita menelisik kehidupannya sekitar tahun 1930-an. Melarat di sudut apartemen kumuh di kota London, ia berusaha hidup dengan bayangan jumlah uang di kantongnya, menghitung kepingan Corn dan beberapa Pound Sterling demi menyambung hidup esok hari atau demi sekotak rokok dan segelas bir murah. Ia melarat, tentu saja. Pekerjaanya hanya seorang penjaga toko buku sekaligus pustakawan yang gajinya kelewat sadis.