Gincu Sang Mumi: Dunia “Di Antara” dan Ruang Bagi Perempuan-Penulis

Apa yang mesti dimiliki perempuan yang ingin berkiprah dalam dunia tulis menulis di paruh awal abad 20-an? Pertanyaan ini akan langsung terbayangkan jawabannya manakala kita mengingat satu kuliah Virginia Woolf di hadapan mahasiswi Cambridge yang kelak kita baca dalam buku berjudul A Room of One’s Own (1929). Dalam ceramah itu, Woolf setidaknya menggarisbawahi bahwa bagi perempuan, ruang dan finansial diperlukan untuk menghasilkan mahakarya-mahakarya terbaik.

Duka dalam Imaji Penyair

Judul buku ini unik. Kita pun menafsir: apakah kita+(duh)-kita itu satu kata? Atau, rangkaian dari tiga kata dengan penghubung tanda (-) dan (+)? Persangkaan saya, kita+(duh)-kita menyiratkan makna bahwa secara acak kita berduka. Ya acak, karena ada sebagian (-), bukan termasuk kita, yang tidak berduka.

Menilik Motif Ideologis di Balik Wacana yang Tersembunyi

Siapa yang tak kenal dengan Rocky Gerung. Rocky Gerung mulai menampakkan dirinya dan menjadi perbincangan publik khususnya di jagad politik dunia maya ataupun nyata. Kurang lebih tiga tahun lalu di mana pada saat itu, tepatnya saat momen pilpres 2019 dan sampai saat ini Rocky Gerung secara konsisten terus menyuarakan suaranya dengan kemasan retorika yang membuat kuping pemerintah memerah.

Mrs. Dalloway: Lanskap Sebuah Mahakarya dan Dua Catatan Atasnya

Dalam perkembangan kesusastraan Inggris kontemporer, nama Virginia Woolf menjadi salah satu nama yang paling dikenal. Kekhasan citra kepengarangannya yang lekat dengan tradisi Stream of consciousness, atau yang kita kenal dengan Arus Kesadaran, menjadikan posisi Woolf sama pentingnya dengan pengarang sezaman lainnya—James Joyce atau William Faulkner, sekadar menyebut dua contoh. Di samping itu, sebagai pengarang modern yang berkiprah di abad 20-an, ada kesadaran lain juga menjadi ciri khas dari Woolf: Ketimpangan gender yang mesti dienyahkan.

Upaya Menghidupkan Cerita-Cerita Kecil

Dalam salah satu wawancara dengan DW Indonesia, sastrawan kawakan Indonesia Martin Aleida pernah berujar, “Saya cuma punya satu sikap, bahwa sastra itu harus berpihak kepada korban.” Sikap Martin itu termaktub dengan jelas dalam karya-karyanya yang banyak bercerita tentang nasib nahas yang menimpa korban tragedi 1965.

Seni Menjalani Hidup Penuh Aib

Hidupku penuh aib. Begitulah sepenggal kalimat yang mengawali catatan perjalanan sang tokoh utama dalam novel ini. Ia menyelamatkan diri dengan lawakan untuk menipu dirinya sendiri dan orang lain, sengaja membuat kesalahan agar orang lain dapat menertawakannya, serta dengan tekun terus berpura-pura untuk tampak naif di hadapan orang lain.

Para Pemengaruh Buku: Kuasa dan Keterlibatannya

Setahun yang lalu, Indah Santi Pratidina menerbitkan jurnal dengan judul “The Appetite for Revenge and Murder in Translation: Japanese Mystery Novels and their Social Media Savvy Indonesian Readers”. Fokus utama penelitian itu untuk melihat sejauh mana animo pembaca Indonesia atas terbitan buku-buku bertema misteri karya penulis Jepang: novel Girls in The Dark karya Rikako Akiyoshi dan Confessions karya Minato Kanae.