Kliping Sayembara dalam Majalah Sastra

Sejak dulu, Sapardi Djoko Damono meyakini bahwa keberadaan sayembara dapat memajukan sastra. Hal itu merupakan respons perihal maraknya sayembara yang digelar berbagai pihak, mulai dari novel, cerpen, puisi, hingga naskah drama. Keberadaan sayembara memang mewarnai perjalanan sastra Indonesia. Agaknya itulah yang dipahami Bandung Mawardi sehingga ia mengumpulkan lembaran saksi sejarah berupa majalah yang memuat penyelenggaraan sayembara.

Menengok Sumur Melalui Kacamata Sastra Hijau

Sumur menjadi judul buku karya Eka Kurniawan terbaru, karyanya fiksinya setelah kali terakhir ia merilis “O (Sebuah Novel)” yang terbit pertama tahun 2016. Eka bukannya absen sama sekali dalam hal menerbitkan karyanya, sebab dua tahun terakhir ia hadir di dalam buku kumpulan esainya “Senyap yang Lebih Nyaring (2019)” dan “Usah Menulis Silsilah Bacaan (2020)”. Dua buku itu diterbitkan oleh Penerbit Circa, salah satu penerbit indie di Yogyakarta.

Darah Kuli Asia di Suriname

Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname, novel berhalaman tipis, hanya 172 halaman, hasil kreatif Koko Hendri Lubis. Bertitimangsa Jakarta, Den Haag, Medan, 2016-2018. Isinya membuka wawasan pembaca akan zalim dan kejinya kekuasaan. Tidak berbeda dengan apa yang terjadi di Nusantara, begitu juga di Suriname.

Upaya Melestarikan Bahasa Indonesia

Selain bahasa daerah, bahasa Indonesia termasuk bahasa yang semestinya terus dilestarikan khususnya oleh para generasi muda bangsa. Jangan sampai kita sebagai orang Indonesia malah merasa “lebih bangga” menggunakan bahasa asing padahal posisi kita sedang berada di tanah kelahiran sendiri. Menguasai banyak bahasa memang penting, terlebih bagi mereka yang sering bepergian ke luar negeri. Namun keasyikan mempelajari bahasa asing jangan sampai membuat kita lupa dan abai untuk mempelajari bahasa ibu kita sendiri. Jangan sampai bahasa Indonesia punah dan tergantikan oleh bahasa lain.

Jakarta, Oh Jakarta

Cuma orang sakti yang bisa bertahan hidup di Jakarta, kata Ratih Kumala dalam salah satu novelnya, Wesel Pos. Seperti narasi-narasi yang sudah lebih dulu kita dengar, ibukota atau Kota Jakarta digaungkan sebagai magnet sekaligus medan juang yang tak ringan. Selain Ratih Kumala, paruh awal ’80-an juga terdapat film yang secara gamblang menggambarkan kengerian Jakarta. Film yang disutradarai oleh Imam Tantowi itu berjudul, “Kejamnya Ibu Tiri Tak Sekejam Ibu Kota”.

Mendekonstruksi Aroma Budaya, Tradisi dan Patriarki

Judul       : Rokat Tase’ Penulis    : Muna Masyari Penerbit  : Penerbit Buku Kompas ISBN        : 978-623-241-207-1 Tebal        : vi +178 hlm Edisi         : cetakan pertama, 2020 Muna Masyari melalui kumpulan cerpen Rokat Tase’ telah berhasil menarasikan sesuatu yang lain (the other) perihal Madura. Baik dari segi spiritualitas, tradisi, […]

Sejenak Bermain Resensi

Dunia literasi adalah dimensi yang penuh ambiguitas, mengingat segala interpretasi lahir dari setiap gagasan baru untuk kemudian menjadi terobosan dalam melakukan aktivitas yang progresif, agar memiliki relasi dengan masa sekarang sebagai bentuk pengabdian terhadap idiologi beragama.