Mengulik Jiwa Peradaban

Teror

“Tidak kawan. Itu guyonan. Lihatlah, ini hanya patung lilin.” Marto menenteng kepalanya sendiri di atas meja. Dilempar-lemparkannya ke atas gelondongan itu seperti bola kasti. 

SLILIT

Slilit. Barang sauprit sing senengane nylempit. Manggon ing sel-selane untu. Angger manjing ing untu mburi lan nancep gusi asring mbilaheni. Gusi abuh kena infeksi. Rasane clekat-clekit. Mahanani lara untu, banjur krasa cekot cekot. Slilit pancel nganyelake. Didudut angel. Dilalekna gawe perkara sing rumit. Mula slilit kudu dibuwang. Ing warung sate mesthi ana sogok untu. Wujude memper biting. Pucuke digawe lancip. Bubar mangan terus nyogroki slilit nganti tuntas ilang. Slilit ilang rasane plong, kaya lunas utange.

Mempertimbangkan Modernisme Chairil Anwar

Sayembara Kritik Sastra 2022 Dewan Kesenian Jakarta, yang diselenggarakan bertepatan dengan seratus tahun Chairil Anwar, mengambil tema “Modernisme Chairil Anwar”. Pemenang sayembara sudah diumumkan akhir Agustus lalu. Bukan naskah-naskah pemenang yang akan menjadi titik bahasan dalam tulisan ini. Esai ini akan membahas tema dari sayembara tersebut, yakni “Modernisme Chairil Anwar”.

Nahi Mungkar Jatuh Cinta

NAHI Mungkar duduk di sofa dengan gelisah. Ia terlihat seperti terpidana mati yang menunggu giliran eksekusi. Kakinya mendepak-depak lantai, jantungnya berdebar-debar tak karuan, dan pakaiannya basah oleh keringat. Padahal, cuaca saat itu sedang dingin-dinginnya. Seperti halnya setiap orang yang akan melakukan sesuatu untuk pertama kali, Nahi dibekap ragu atas apa yang hendak dilakukannya. Ia berkali-kali berpikir untuk pulang, membatalkan niatnya melepas keperjakaannya dengan seorang gadis yang tidak lagi gadis. Namun, ketika ia menoleh ke belakang, ia seperti melihat wajah mengejek teman-temannya yang tadi mengantarnya ke tempat ini.