Mengulik Jiwa Peradaban

Mantan Komandan

Malam itu saya pulang agak malam dari biasanya. Lantaran anjing milik Pak Warnogu, tetangga saya, menyalak 2 kali, saya tahu itu berarti pukul 2 pagi. Memang anjing itu sebagai penanda waktu, banyak orang kami menyebut anjing itu dengan nama Tawalam, atau tanda waktu malam.

Kota di Kepala Khanafi

Akar Hening di Kota Kering adalah buku puisi pertama Khanafi. Oleh Khanafi, ia diusung dengan corak estetika yang membungkus spirit eksistensialisme(?) Dalam sastra Indonesia, jejak itu kuat telanjur lekat pada novel-novel garapan Iwan Simatupang. Kita tahu, dalam catatan sejarah disebut, corak ini muncul sebagai reaksi etis dan sikap politik pascarevolusi. Bila ditarik pada rentang lebih jauh, kita akan sampai pada nama-nama besar dari Prancis itu. Sekiranya tak keliru, Khanafi cukup sering menyebut nama-nama wingit dari Eropa itu dalam diskusi-diskusi kami di warung kopi.

Sebuket Mawar di Kamar Madam Anna

MAWAR itu teronggok di atas meja, dan itu pula yang pertama kali dilihatnya tatkala kelopak matanya terbuka. Pagi yang sebenarnya sudah agak terlambat. Madam Anna terkejut. Belum sepenuhnya sadar, ia mencoba mengingat, apakah semalam seorang tamu datang dengan sebuket bunga?