Absurditas dalam Secuil Narasi Kematian

Berita kematian Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. yang belakangan menggema di ruang publik menggiring ingatan saya menuju kisah kematian dua polisi muda dalam cerpen berjudul Perdebatan Sebelum Senja karya Indah Darmastuti. Cerpen ini tergabung bersama 13 cerpen lain dalam sebuah buku kumpulan cerpen (kumcer) bertajuk Pengukur Bobot Dosa (Marjin Kiri, 2020).

“Darah” di Atas Kanvas Penceritaan Prosa

Telah jadi wawasan klise di dunia penulisan sastra, bahwa teks dan konteks merupakan dua sumber utama penggarapan karya bagi seorang pengarang–dalam hal ini baik penyair sebagai produsen dalam bidang puisi, cerpenis dan novelis dalam bidang prosa, maupun penulis naskah dalam bidang drama. Teks yang dimaksud bisa merujuk pada teks-teks yang telah terhampar sebelumnya, baik itu teks-teks sejarah, film-film dokumenter, sejumlah berita yang dimuat media massa, karya-karya sastra dari pengarang pendahulu, dan seterusnya.

Pathos dalam Karya Cerita

Meskipun hadir sebagai terminologi dalam dunia komunikasi berkaitan dengan kecakapan mengolah, merespons, hingga mendayagunakan emosi dalam diri manusia, baik secara personal maupun komunal, pathos memiliki tempat dan pengertian tersendiri dalam dunia cerita. Dalam dunia kepenulisan naratif, phatos adalah luka lama yang mengaliri darah karakter atau subjek.

Gincu Sang Mumi: Dunia “Di Antara” dan Ruang Bagi Perempuan-Penulis

Apa yang mesti dimiliki perempuan yang ingin berkiprah dalam dunia tulis menulis di paruh awal abad 20-an? Pertanyaan ini akan langsung terbayangkan jawabannya manakala kita mengingat satu kuliah Virginia Woolf di hadapan mahasiswi Cambridge yang kelak kita baca dalam buku berjudul A Room of One’s Own (1929). Dalam ceramah itu, Woolf setidaknya menggarisbawahi bahwa bagi perempuan, ruang dan finansial diperlukan untuk menghasilkan mahakarya-mahakarya terbaik.

Lapisan-Lapisan Makna dalam Sesudu Senyum-Senyum

Sebenarnya tidak ada yang baru dari cerpen Sesudu Senyum-Senyum karya Sasti Gotama yang terbit di Kompas (3/4/22). Jika kita buang setting dan gaya tutur yang membuat nuansa Maluku begitu terasa, cerita dalam cerpen ini semata adalah cerita cinta. Lebih spesifik lagi cerita cinta yang berakhir tragedi. Sudah terlalu banyak kisah cinta antara dua insan beda jenis kelamin yang ditutup dengan akhir yang tragis.

Lokalitas Sastra dan Silang Budaya

Buku lawas Linus Suryadi AG berjudul lengkap Pengakuan Pariyem (Dunia Batin Seorang Wanita Jawa), dipersembahkan kepada begawan kebudayaan berlatar Jawa—prosa lirik untuk: Umar Kayam—justru diberi komentar oleh dua orang laki-laki Batak, Ashadi Siregar dan Hotman M. Siahaan. Di backcover buku terbitan 1981 itu, Ashadi mengibaratkan Linus pujangga Jawa Lama, dengan kekuatan lirik mengungkap kisah dan pikiran Jawa. Senada, Hotman menyebut karya ini bicara banyak tentang gejala sosial, kultur dan manusia yang diwarnai pola kultur tersebut.

Identitas Sastra dan Hibrida Kultural

GENERASI baru sastra Indonesia mencipta teks sastra dengan kegelisahan yang menandai pencarian “identitas sastra” zamannya. Memang mereka masih berobsesi pada  mitos dalam penciptaan teks sastra. Kekuatan mitos itu pula tercermin dalam novel Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga (Kepustakaan Populer Gramedia, 2021), pemenenang ketiga Sayembara Novel DKJ 2019, yang kemudian terpilih sebagai novel terbaik Kusala Sastra 2021. Novel ini kuyup dengan mitos, menyingkap pergolakan batin melawan hegemoni kekuasaan kolonial dan bangsa sendiri.