Transendensi Narasi Lebaran

TIGA cerpen Triyanto Triwikromo, “Seperti Gerimis Meruncing Merah”, “Sayap Kabut Sultan Ngamid” dan “Malaikat Tanah Asal” menjadi sangat menarik di antara cerpen Celeng Satu Celeng Semua (Gramedia Pustaka Utama, 2013). Tiga cerpen itu berlatar Lebaran, dan menyingkap tabir transendensi dalam narasi fiksi. Hampir semua cerpen dalam buku ini menyingkap transendensi dengan kekuatan filosofi, imaji, dan struktur narasi.

Paradoks Mitos dan Spiritualitas

DARI buku antologi  Tjahjono Widijanto, Penakwil Sunyi di Jalan-Jalan Api (Pagan Press, 2018), saya menemukan puisi-puisi paradoks antara mitos dan  spiritualitas.  Latar kultur penyair yang memiliki keterlibatan pada berbagai mitos telah membuka mata air penciptaan yang bermuatan spiritualitas. Tentu saja, ia menyusupkan imaji, membangun kontemplasi, dan melakukan ekplorasi diksi untuk mencipta puisi-puisi liris tentang paradoks mitos dan spiritualitas itu.

Mitos dan Pembebasan Spiritualitas

DAYA TARIK mitos masih menjadi obsesi penyair. Mitos menjadi pijakan daya cipta, yang mengalirkan puisi hadir ke hadapan pembaca mutakhir. Dalam kumpulan puisi Jumantara (Pustaka Ekspresi, 2021), Wayan Jengki Sunarta sengaja menyingkap mitos-mitos yang menyelubungi atmosfer religiusitasnya sehari-hari ke dalam puisi-puisi panjang yang menghadirkan tokoh, latar, dan alur. Ia menyebutnya puisi prosa. Spiritualitas menjadi penjelajahan ekspresi daya cipta penyair, menyentuh dunia transendensi.

Narasi Konfrontasi Hegemoni Sori Siregar

KESAN saya tentang Sori Siregar persis sama seperti yang dirasakan Joni Ariadinata: lembut, suka humor, tak pernah menyakiti hati orang lain. Ia sangat ramah. Ia mencipta cerpen tak semata-mata fokus pada persoalan estetika, tetapi lebih pada persoalan manusia yang menjadi obsesi cerita: sosial, kultural, dan hegemoni kekuasaan.

Empati Kultural Puisi Toeti Heraty

SAYA tulis esai singkat ini dari sudut pandang lain mengenai puisi-puisi Toeti Heraty yang dikenal sebagai tokoh feminis. Kancah perhatian esai ini pada puisi-puisinya yang berempati pada peristiwa kultural. Tentu saja menarik memperbincangkan puisi-puisi dengan empati kultural, karena ia memilki kekuatan sudut pandangnya sendiri sebagai penyair kontemporer.

Eksistensi Hegemoni Kekuasaan dalam Novel

Saya tulis esai ini setelah 100 hari Sapardi Djoko Damono meninggal, tetapi kenangan pada karya-karyanya masih terus bermunculan. Dalam pandangan banyak kalangan, Sapardi Djoko Damono menyegarkan perkembangan dunia sastra Indonesia modern. Kreativitasnya boleh dikatakan selaras dengan konsep eksistensi dalam paradigma Kristeva, yakni mencipta kembali puisi ke dalam wujud novel.