Kafkaesque dalam Prosa Hiroko Oyamada

Kafkaesque dikenal publik sastra setelah penulis Jerman, Franz Kafka, merilis novela fenomenalnya itu, The Metamorphosis (1915) disusul karya lainnya seperti The Trial (1925). Istihal ini dipahami sebagai jiwa kritis Kafka yang ditiupkan dalam karya-karya, yang digambarkan dengan situasi buntu, menjebak, dan menekan tokoh-tokoh ceritanya.

Pengalaman, Puisi, dan Sejumlah Bacaan

Pada mulanya, adalah membaca. Penegasan itu disematkan selintas oleh penulis lewat dua paragraf blurb di halaman belakang buku. Kegiatan membaca terpahami sebagai jeda sekaligus arahan hidup. Sekian buku dan peristiwa usai dibaca oleh penulis dalam kurun waktu tertentu dan upaya mengekalkan interaksi tersebut terikat dalam sepilihan esai dan resensi yang ada di dalam buku ini. Esai dan resensi itu berbicara tentang hal-hal personal, baik terhadap isu-isu terkini yang bersinggungan langsung dengan penulisnya, maupun bacaan-bacaan yang dikonsumsi. Dari sehimpun esai dan resensi esai itu, satu judul pun dipilih menjadi judul buku, yaitu “Jorge Luis Borges, Realisme Magis, dan Filsafat.” Pertanyaannya, apakah pemilihan judul ini tepat dan dapat menggambarkan isi keseluruhan dari buku ini?

Kucing dan Upaya Memaknai Waktu

Sekilas, judul novel ini terdengar menggemaskan: “Jika Kucing Lenyap Dari Dunia”. Kita mahfum ada kata kucing yang memunculkan dugaan bahwa ini adalah kisah yang manis. Atau paling tidak, pasti ada adegan yang memperlihatkan hubungan platonik antara seseorang dengan hewan peliharaannya yang seekor kucing. Tidak, dugaan itu sebenarnya tidak salah-salah amat, sebab adalah benar kalau kisah dalam novel karya Genki Kawamura ini mengandung sesuatu yang manis, kisah yang hangat, dan itu memang melibatkan hubungan si tokoh utama, narator ini, dengan kucing yang dipeliharanya. Kendati begitu, ada hal lain yang justru membuat novel ini tidak sepenuhnya menjadi sebuah kisah yang hangat: Kematian.

Kitchen: Tentang Kesepian dan Upaya Menyembuhkan Luka

Kitchen menyapa pembaca Indonesia dengan proses penggarapan yang disiapkan masak-masak. Penerbitnya, Penerbit Haru, tampak mengerahkan kemampuan terbaik mereka dalam menghadirkan salah satu karya fenomenal kesusastraan Jepang ini. Melalui kanal sosial media mereka, mereka mengabarkan bahwa karya ini akan disuguhkan di hadapan pembaca tanah air, dan mereka pun mendapuk Ribeka Ota—penerjemah langganan karya-karya Haruki Murakami dan penerjemah untuk edisi bahasa Jepang dari novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan—sebagai penerjemahnya.

Mengusir Gulma, Menumbuhkan Keadilan

onflik agraria masih menjadi persoalan yang jamak didapati negara-negara Dunia Ketiga. Di dalam negeri sendiri, sengkarut antara masyarakat, tanah yang mereka tinggali, dan pemerintah atau perusahaan tertentu lebih sering menuai keuntungan sebelah pihak saja. Dalam kasus-kasus yang kita dapati selama ini, pihak masyarakat sekitar justru yang lebih sering memperolah kerugian.

Menengok Sumur Melalui Kacamata Sastra Hijau

Sumur menjadi judul buku karya Eka Kurniawan terbaru, karyanya fiksinya setelah kali terakhir ia merilis “O (Sebuah Novel)” yang terbit pertama tahun 2016. Eka bukannya absen sama sekali dalam hal menerbitkan karyanya, sebab dua tahun terakhir ia hadir di dalam buku kumpulan esainya “Senyap yang Lebih Nyaring (2019)” dan “Usah Menulis Silsilah Bacaan (2020)”. Dua buku itu diterbitkan oleh Penerbit Circa, salah satu penerbit indie di Yogyakarta.

Jakarta, Oh Jakarta

Cuma orang sakti yang bisa bertahan hidup di Jakarta, kata Ratih Kumala dalam salah satu novelnya, Wesel Pos. Seperti narasi-narasi yang sudah lebih dulu kita dengar, ibukota atau Kota Jakarta digaungkan sebagai magnet sekaligus medan juang yang tak ringan. Selain Ratih Kumala, paruh awal ’80-an juga terdapat film yang secara gamblang menggambarkan kengerian Jakarta. Film yang disutradarai oleh Imam Tantowi itu berjudul, “Kejamnya Ibu Tiri Tak Sekejam Ibu Kota”.