Cerpen
Pengantar Politik, Rezim, dan Revolver

Pengantar Politik, Rezim, dan Revolver

Beberapa minggu setelah menemukan dua eksemplar Pengantar Politik—yang penulisnya anonim—aku mendapatkan rumah mewah berpenjagaan ketat ini. Aku tidak tahu apakah Pengantar Politik memberikanku keberuntungan atau justru kutukan; dalam segala hal berbau politik, batas antara keberuntungan dan kutukan kupikir memang rada kabur.

Waktu itu—ketika Joni Sabung dan Marko Kobar sedang sibuk-sibuknya berkampanye untuk pemilihan presiden—aku hanyalah mahasiswa perantau yang mengambil jurusan ilmu politik, yang mampir ke sebuah perpustakaan buat mencari referensi untuk kebutuhan skripsi. Dari luar, perpustakaan itu serupa kastil tua yang pucat; ruang di dalamnya seperti labirin dengan dinding rak-rak buku, dan aku dapat merasakan debu di lidahku saban menarik napas lewat mulut. Di ruang dalam perpustakaan hanya ada aku dan si Pustakawan yang tampak berjuang keras melawan kantuk. Buku pertama yang segera menarik perhatianku adalah Pengantar Politik, sebab ketebalannya yang tak main-main; di samping itu, kupikir buku pengantar lumayan tepat untuk orang yang tak pernah membaca buku sedari awal kuliah. Terdapat dua eksemplar Pengantar Politik di rak, letaknya bersampingan; aku mengambil salah satu dan membawanya ke meja baca.

Reaksi pertamaku setelah membuka halaman satu Pengantar Politik adalah memaki dalam hati: halaman itu dipenuhi coretan bolpoin, sampai tak ada satu kata pun terbaca. Dengan cepat kubuka halaman dua, tiga, empat, dan seterusnya sampai akhir, dan kudapati hal serupa.

Aku langsung mengambil Pengantar Politik yang lagi satu. Dan aku bukan lagi memaki dalam hati ketika membukanya, melainkan refleks menyuarakan makian tersebut saking kagetnya: bagian dalam Pengantar Politik itu telah dilubangi sedemikian rupa sehingga menjadi peti penyimpan sepucuk revolver.

Melihat si Pustakawan menatap tajam padaku yang memaki, aku buru-buru menutup buku, membuka Pengantar Politik yang penuh coretan, dan pura-pura fokus membaca selama beberapa jenak. Dengan pura-pura tekun membaca, aku mendapati hal yang tadi luput kuperhatikan: di halaman tiga, ada satu kata yang tak terkena coretan sama sekali, yaitu kata kami. Aku lalu membalik halaman tiga dan mendapati kata butuh tak dicoret di halaman lima. Aku pun membuka halaman-halaman berikutnya dengan cepat sampai halaman terakhir, dan ternyata lumayan banyak kutemukan kata-kata yang tak dicoret. Aku segera menyimpulkan: seseorang hendak menyampaikan pesan rahasia.

Aku melirik si Pustakawan, ia sudah kembali berjuang keras melawan kantuk. Diam-diam aku memasukkan peti revolver ke tasku, sebelum mengajukan Pengantar Politik penuh coretan untuk kupinjam.

Di kamar indekos, aku mencatat kata demi kata yang tak dicoret dalam Pengantar Politik, dan aku menemukan pesan rahasia yang sedikit panjang. Pesan itu ditulis oleh salah seorang—dari sepuluh—korban penculikan presiden yang kini menjabat, Joni Sabung; beberapa di antara mereka adalah politisi, aktivis, jurnalis, dan sastrawan yang lumayan terkenal, sedangkan si Penulis Pesan hanyalah aktivis yang kurang terkenal, tapi memiliki pengaruh lumayan besar di perkumpulannya. (Orang-orang terkenal yang disebutkan di sana, seingatku, pernah diberitakan meninggal dunia beberapa tahun lalu.) Katanya, mereka sedang dikurung di suatu bangunan di pulau terpencil, dengan titik koordinat … ah, aku tak paham. Dilanjutkan dengan cerita tentang bagaimana masing-masing korban diculik, lalu disambung dengan penjelasan tentang bagaimana si Penulis Pesan, dibantu seorang interogator yang mengkhianati Joni Sabung, mendapatkan dua eksemplar Pengantar Politik, sepucuk revolver, dan enam butir peluru hingga akhirnya semua itu sampai di perpustakaan. Pesan diakhiri dengan harapan mereka agar Joni Sabung jangan sampai menjadi presiden lagi, dan agar pesan rahasia ini jangan sampai bocor ke pihak mana pun, atau akibatnya akan fatal—entah fatal yang seperti apa tepatnya.

Tidak ada pesan perihal apa yang mesti kulakukan dengan revolver itu. Namun, aku berasumsi bahwa si Penulis Pesan ingin aku menggunakannya untuk membunuh Joni Sabung ….

Seusai membaca pesan itu, aku merebahkan diri di kasur dan memejamkan mata karena kepalaku mendadak nyeri. Aku tidak ingin memikirkan apa pun, tetapi sejumlah pertanyaan merongrong kepalaku: Kenapa pesan rahasia dan revolver mesti susah payah disembunyikan dalam dua Pengantar Politik? Kenapa mereka berani menyerahkan pesan rahasia dan revolver kepada orang yang tidak pasti? Kenapa pula kedua Pengantar Politik mesti diletakkan di perpustakaan yang sepi, dan bukan diantarkan langsung kepada orang kepercayaan mereka? Apakah jadinya jika buku-buku itu, seumur hidup, tak pernah dijamah oleh siapa-siapa di perpustakaan? Apakah sebaiknya aku benar-benar tak membocorkan pesan itu? Bahkan sampai sekarang, sampai aku tinggal di rumah mewah ini, kesemua pertanyaan itu belum terjawab … dan aku tak berani mengharapkan jawaban apa pun.

Saking bingungnya, aku sempat memutuskan untuk tidak berbuat apa-apa terhadap revolver dan pesan rahasia itu, meski aku jadi gelisah setengah mampus. Namun, itu tak semudah yang kubayangkan karena hal-hal menyebalkan segera terjadi. Empat hari kemudian, saat aku kembali ke perpustakaan untuk mengembalikan Pengantar Politik penuh coretan, aku mendapati perpustakaan itu sedang kebakaran hebat. Mulai keesokannya, aku rutin diteror mimpi-mimpi buruk yang memiliki kemiripan satu sama lain—dan siksaan mimpi-mimpi buruk baru berakhir setelah aku tiba di rumah mewah ini. Mimpi-mimpi tersebut berupa kejadian-kejadian acak yang diakhiri dengan adegan wajahku ditembak menggunakan revolver, baik oleh seorang manusia tak dikenal, seekor alien, seekor siluman, ibuku, ayahku, mantan kekasihku, atau diriku sendiri.

Setelah sekitar seminggu rutin dihajar mimpi-mimpi buruk, aku mendapat kabar bahwa lusa Joni Sabung akan melakukan kampanye di wilayah di mana rumah indekosku berada. Kabar itu kudapatkan di tengah keisengan membuka sejumlah situs berita, ketika aku sedang duduk di warung internet untuk keperluan riset. Tanpa diriku sendiri duga, aku lantas membuka YouTube dan menonton video tentang cara menggunakan revolver.

Di hari kampanye, aku berdiri di balkon rumah indekos bersama para penghuni lainnya. Tentu mereka tak tahu bahwa sepucuk revolver tersembunyi di pinggangku, dan pikiran-pikiran ganjil—yang sulit kulukiskan—tersembunyi dalam kepalaku. Di bawah sana, para pendukung Joni Sabung berkumpul di pinggir jalan, bersiap-siap menyambutnya. Dan, terlihatlah pria itu, masih agak jauh: ia berdiri di bak truk yang melaju perlahan, melambai-lambaikan tangannya ke segala arah. Orang-orang berteriak kegirangan seperti kesetanan, terasa mengiris-iris gendang telingaku.

Ketika akhirnya truk itu melintas di bawahku, aku segera mengeluarkan revolver dan menembakkan keenam butir peluru secara bertubi-tubi ke arah Joni Sabung. Satu peluru berhasil melubangi kepalanya, sedang sisanya mengenai badan truk.

Sejak menyembunyikan revolver di pinggang sampai mengeluarkan benda jahat itu, aku tak memikirkan apa pun selain aku harus membunuhnya. Termasuk aku tak memikirkan cara menyelamatkan diri dari kejaran para polisi. Maka, dengan mudah, para polisi menangkapku di balkon rumah indekos.

Sesuai tebakanku, hakim menjatuhkan hukuman mati, dan hari-hari berlalu secara cepat di sel khusus, dan tahu-tahu saja aku telah berdiri di hadapan regu tembak dengan tubuh terikat dan kepala terbungkus. Lucunya, aku tak merasa gentar sedari ditangkap hingga berdiri di hadapan regu tembak itu. Tidak juga aku merasa tenang, tegar, atau semacamnya—aku hanya merasa kosong.

Instruksi untuk menembak pun terdengar. Dalam hati aku mengucapkan selamat tinggal pada mimpi-mimpi buruk sialan itu. Kemudian sejumlah letusan tembakan serempak terdengar, menyakiti pendengaranku.

Hanya menyakiti pendengaranku ….

Tidak dada maupun bagian-bagian tubuh lainnya ….

Awalnya kupikir seperti itulah rasanya mati seketika, mati yang tanpa sakit. Tetapi aku segera sadar bahwa aku belum mati ketika seluruh ikatan di tubuhku dilepas. Lantas aku digiring ke suatu tempat dengan tangan terborgol, dan dimasukkan ke mobil yang langsung saja melaju kencang—semua itu dilakukan dalam keadaan kepalaku masih terbungkus.

Borgol dan bungkus kepalaku baru dilepas setelah aku diturunkan dari mobil. Ternyata, aku sudah berada di halaman rumah mewah ini, halaman yang dikepung benteng tinggi, bahkan lebih tinggi sekitar lima kaki dari rumah bertingkat tiga ini. Saking tingginya dinding benteng, pada siang hari halaman rumah tampak remang.

“Rumah ini adalah rumahmu,” kata salah seorang pria yang mengantarku. Ia tampak sungguh perlente. Ia lanjut mengatakan bahwa segala kebutuhanku sudah tersedia di sini; dan seandainya habis, akan ada seseorang yang mengantarkan stok tambahan. Namaku, tanggal lahirku, tempat kelahiranku, orang tuaku, saudara-saudaraku, dan lain-lainnya bukan lagi seperti yang semula. Semua itu kini resmi berubah—aku yang lama sudah dinyatakan mati. Dan, satu hal yang mesti kuingat: jangan coba-coba keluar dari rumah ini sampai ada pemberitahuan lebih lanjut—entah kapan—atau para penjaga di luar dinding benteng akan menyakitiku.

Ragu-ragu, aku mengangguk seusai ia menjelaskan, lalu ia dan kawanannya segera memasuki mobil dan meninggalkanku sendiri; mobil keluar lewat pintu benteng yang terbuka, samar-samar di luar aku melihat sekelompok orang seperti ninja yang membawa senjata api.

Seperti kata pria itu, di dalam rumah terdapat segala hal yang kubutuhkan untuk bertahan hidup secara nyaman, tanpa bekerja. Namun, tak ada cara untuk bersentuhan dengan kehidupan di luar sana—sehingga aku bahkan tak tahu, Marko Kobar atau orang lainkah yang kini menjabat sebagai presiden. Komputer yang ada hanya bisa kupakai untuk memainkan berbagai game seru dan mendengarkan musik-musik instrumental. Bagaimanapun, di luar dugaan, kenyamanan di sini tak habis-habisnya kurasakan. Padahal kupikir kenyamanan ini akan menjadi hambar dalam satu atau dua minggu pertama. Hingga kini aku tak merasa tak sabar untuk menantikan hari di mana aku boleh keluar. Aku tak tahu apakah ini keberuntungan atau justru kutukan; dalam segala hal berbau politik, batas antara keberuntungan dan kutukan kupikir memang rada kabur. Sialan memang ….


Penulis:

Surya Gemilang, lahir di Denpasar, 21 Maret 1998. Buku-bukunya antara lain: Mengejar Bintang Jatuh (kumpulan cerpen, 2015), Cara Mencintai Monster (kumpulan puisi, 2017), Mencicipi Kematian (kumpulan puisi, 2018), dan Mencari Kepala untuk Ibu (kumpulan cerpen, 2020). Karya-karya tulisnya yang lain dapat dijumpai di lebih dari sepuluh antologi bersama dan sejumlah media massa, seperti: Kompas, Suara NTB, Bali Post, Riau Pos, Rakyat Sumbar, Medan Bisnis, Basabasi.co, Litera, Tatkala.co, dan lain-lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *