Resensi Buku
Kereta Malam: Melawan Keterbatasan dengan Keterbatasan

Kereta Malam: Melawan Keterbatasan dengan Keterbatasan

Judul          : Kereta Malam Menuju Harlok
Pengarang : Maya Lestari Gf.
Penerbit     : Indiva Media Kreasi
Cetakan     : Pertama, Januari 2021
Tebal          : 144 halaman
ISBN   : 978-623-253-017-1

Joni Ariadinata mengatakan, konflik dalam cerita, tak ubahnya lubang di tengah jalan raya. Pengarang bisa menambalnya perlahan secara rapi dan meyakinkan agar para pengendara (baca: pembaca) yang melintas; selamat dari kecelakaan. Sebaliknya, pengarang juga boleh memperluas dan memperdalam lubang itu agar semakin banyak pengendara yang terperosok ke dalamnya.*

Dalam novel Kereta Malam Menuju Harlok, Maya Lestari Gf.—sang pengarang—langsung memerosokkan pembaca sedari mula perjalanan: Tamir, anak difabel, hanya punya sebelah mata dan sebelah kaki, penghuni panti asuhan bobrok yang minim donatur. Pada malam takbiran, pengurus terakhir panti khusus anak cacat itu; kabur. Tidak lama, ketika hujan bah menghantam-robohkan panti, sebuah kereta datang, menerbangkan Tamir ke Harlok, salah satu kota misterius di negeri langit.

Di sana, Tamir mengalami banyak penderitaan, mulai dari dipaksa menjadi pekerja tambang batu seruni, dikurung dalam ceruk hukuman, sampai berhadapan dengan singa kabut. Tamir diuji: mau menyerah kepada keadaan atau melawan meski dibebat keterbatasan?

Mengutip David McClelland, pakar psikologi sosial dari Universitas Harvard, perilaku manusia dipengaruhi tiga dorongan: motivasi untuk berprestasi (n-ACH), motivasi untuk berkuasa (n-POW), dan motivasi untuk bersahabat atau berafiliasi (n-AFIIL).**

Dia meneliti cerita anak-anak lawas di Inggris dan Spanyol. Bacaan anak-anak Inggris bertema optimisme, semangat pantang menyerah, kepahlawanan, dan sikap mandiri. Sedangkan bacaan anak-anak Spanyol banyak yang berupa komedi, mengandung kelicikan dan tipu daya.

Di kemudian hari, bangsa Inggris meraih kemajuan gemilang, sementara bangsa Spanyol tertinggal jauh dibanding Inggris. Kesimpulannya, cerita anak-anak yang mengandung unsur motivasi, dapat membangkitkan semangat generasi mendatang. Maju-mundurnya suatu bangsa dipengaruhi bacaan yang dikonsumsi anak-anak di masa kecil.

Kereta Malam Menuju Harlok sendiri mengandung muatan petualangan, kemandirian, keberanian, kerja keras, tanggung jawab, persahabatan, dan kasih sayang. Tetapi—meminjam perkataan Soekanto S.A.—pengarang memberikan nasihat, tanpa menggurui. Ibaratnya memberikan obat yang bersaput gula. Dan inilah tantangan kebanyakan pengarang bacaan anak-anak sekarang: tidak cerewet menampilkan pesan secara gamblang lewat pidato maupun khotbah. Sebaliknya, perihal baik dan buruk disajikan lewat show, not tell yang indah, ringan, dan masuk akal. Dengan demikian, tidak terkesan pengarang merendahkan anak-anak karena menganggap mereka layaknya gelas kosong yang harus dikucuri air banyak-banyak, alih-alih menghargai kecerdasan mereka.

Bicara show, not tell, Kereta Malam Menuju Harlok memiliki deskripsi yang pancaindrawi. Comot sekadar misal, ketika pengarang melukiskan perjumpaan kali pertama antara Tamir dengan singa kabut, “Seekor singa berwarna putih berdiri di tengah jalan, menantang bus. Ukuran tubuhnya nyaris sebesar gajah dewasa. Posturnya tinggi, kuat, dengan otot-otot dan urat yang berdenyut di balik kulitnya. Langkahnya tenang namun waspada. Sikapnya tenang namun menguarkan ancaman. Singa itu melangkah. Lembut dan gagah. Surai putihnya melambai. (hlm. 105).

Pun saat Tamir bergeronjalan menaiki kereta malam yang mengalami turbulensi, “Lantai bergetar, makin lama makin hebat. Pemuda itu berpegangan ke tangan kursi.// ‘Tolooong … gempaaa!’ teriak Tamir.// ‘Hah! Astaga. Yang satu ini betul-betul menjengkelkan.’ Pemuda itu duduk di kursi. ‘Duduk di kursimu dan pasang sabuk pengaman.’// ‘Apa? Apa ini?’// ‘Turbulensi! Awan terlalu tebal di daerah sini.’// ‘Awan? Apa?’// ‘Duduk di kur-‘// Brak! Langit-langit bergeretak, seperti dipatuk ribuan burung gagak. Lantai tersentak, lalu bergoncang hebat sekali.” (hlm. 25).

Tentang upaya pengarang menghadirkan kereta terbang dalam tubuh cerita, bukan mustahil, kelak terwujud nyata. Bukankah sastra adalah dunia kemungkinan—dia mempunyai kemampuan memprediksi masa depan? KTX, kereta di Korea Selatan barangkali merupakan penguat kemungkinan ini. Kereta peluru ini sejatinya terbang. Teknologi magnetically levitated trains (Maglev) membuat badan kereta mengambang 10 milimeter di atas rel, baik saat bergerak maupun berhenti. Supaya bisa mengambang, kereta Maglev menerapkan teknik mengangkat objek dengan prinsip gaya tolak-menolak kutub magnet. Terbang tanpa sayap adalah istilah populer bagi kereta ini.

Fakta kereta Maglev tersebut sekaligus menegaskan kata-kata Maya Lestari Gf. sendiri, “Mengarang adalah perpaduan antara seni dan sains.”

Sedikit ganjalan mengenai novel ini adalah pada bagian fragmen terakhir sebelum ending, tepatnya adegan antara Tamir dengan Amar dan Awab. Kenapa harus seperti itu? Kenapa pengarang tidak membiarkan kejadian menggelinding seperti alur yang telah dibangun sebelumnya? Kenapa pengarang mesti ‘mencegat’ atau ‘mementahkan’ dengan alasan yang cukup klise—karena telah banyak digunakan pengarang lain? Mungkin, pembaca resensi ini bertanya-tanya, apa yang dimaksud fragmen terakhir sebelum ending? Tentu tidak ada spoiler di sini. Lebih baik, pembaca menelaah isi novel Kereta Malam Menuju Harlok sendiri untuk membuktikan kualitas maupun ganjalan akan novel tersebut. []

__________________________________________
*Ariadinata, Joni. 2006. Aku Bisa Nulis Cerpen. Jakarta: Gema Insani Press.
**Soebari, Surasono. (2015, Oktober). Motivasi dalam Bacaan Anak-Anak Indonesia. Horison, 29-30.


Penulis:

Thomas Utomo lahir dan besar di Banyumas. Bekerja sebagai guru SDN 1 Karangbanjar, Purbalingga. Baru saja menamatkan pendidikan profesi di Universitas PGRI Semarang. Nomor telepon 085802460851, surel utomothomas@gmail.com, akun Instagram @thomasutomo_. Beralamat di Jalan Letnan Kusni nomor 10 RT 2 RW 6 Kelurahan Bancar, Kecamatan/Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia kode pos 53316.

2 thoughts on “Kereta Malam: Melawan Keterbatasan dengan Keterbatasan

Leave a Reply to Meli Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *