Puisi
Puisi Aksan Taqwin Embe

Puisi Aksan Taqwin Embe

Buruh yang Mendadak Jatuh Cinta

semula pertemuan yang asam
dibuat sekawanan usai lembur semalaman
dicecap sampai tuntas. Umpama kopi hingga tandas.
aku perantau
aku pun
sepasang buruh itu jatuh cinta
karena merasa saling menemukan rumah.

2020

Dolanan Pertama

Cublek…cublek suweng, suwenge randa’ ireng
Kecantol ning kelambi, ambune rengga-renggi

Kepulangan di petang hari adalah ketergesaanmu
yang bukan biasanya. langkah pelan tenggelam
dengan nyanyian bocah-bocah
di pelataran rumah. kau merundukkan tubuh.
mengendus berkali-kali. bau yang kau sembunyikan.
kemudian membasuh dengan sabun.
berkalikali.

sir, sir pong wedele dobong. sir, sir pong wedele dobong.

berkali-kali kau menyembunyikan ketakutan.
membungkus kecemasan dengan suara lantang.
sering naik tikam. mengunci kalimat yang nyaris
tidak bisa dibalas dengan lapang dada.
kecuali amarah.

Sopo sing nggawa, sopo sing nggawa?

di meja makan tanpa suara. keluar masuk rumah
dengan muka bara. lalu kau tak pernah tahu
diam-diam kutukan yang dirapal istrimu
bermula dari gerak bibirmu yang tak bisa
kau sembunyikan.
waktu itu.

Tangerang Selatan, 2019

Dolanan Kedua
Permainan dimulai. ketika kecemasan tubuh
bermula. saat kekasihmu kerap melayangkan bara
dari bibirnya. kau mencari tahu. tentang jantung
kerap diburu cemburu.
permainan itu dimulai. ketika kau dan kekasihmu
menyatukan tubuh.

“Aku rindu kau.”
tapi kalimatnya hanyalah deru angin
yang menempa wajahmu. kau mencabut rambutnya
secara perlahan. tubuh senantiasa pasrah. ketika
jatuh dalam dekapan.

“Aku sangat suka lembut rambutmu,” bisikmu.
kau tak lagi percaya soal nujum. atau perhitungan
tanggal-tanggal sepasang. sebab kalimat rindu
bermula dari nafsu yang tumbuh.

permainan kau mulai setiap malam. dengan sepotong jarum
dan boneka mungil; bernama kekasihmu
dari lelaki tua waktu itu. bersamanya kau
bisa tertawa dan menderaskan air mata.

Tangerang Selatan, 2019

Kidung Lapar

di Cikupa, wahyu jatuh pada muka yang lisu. tepat di depan pintu dari langit ditebar ke penjuru. tubuh orang-orang berkeluk. bersandar di tiang-tiang, tepi jalan. menunggu aroma sedap yang bermuara ke hidung. Sembari mengulur tangan pucat menengadah. rumah-rumah tak menerima tamu. bocah dikekep selaksa ikan nila yang saban pagi dikail di telaga Kampung Pulo. oleh bapak paruh baya. dan pintu itu tertutup rapat. bunga-bunga di halaman tak terawat. buruh pabrik membasuh muka. memangir tangan dengan riak doa. perempuan-perempuan mendabik. seperti ombak menggaramkan karang. tak sempat berantun. lekang oleh riuh jalan dari kerumun. menutup hidung dan mulutnya dengan kemalasan orang kaya. malaikat turun dari surga membawa segelas susu, tiga potong kurma di tangan kanan, menawarkan kesedihan di tangan kiri. dan mereka bisa mudah, atau bahkan perlahan menolaknya. perempuan-perempuan mendengking. jalan raya mendadak asing. cermin adalah doa telanjur menjelma pada muka semakin ringsing.

orang-orang mengiblatkan kemalasan—numpuk kebutuhan. tubuh berlapik tanah, menumpu lelah tak lagi berasa. tubuh adalah entak kaki beraksa datang bersama pedati dari semesta membawa derita. khawatir besok negara bakal tutup. langit bakal redup. tanah sudah tak seayem biasanya—cemas menggetarkan dada. setiap detik, dan kesedihan bersarang dalam pikiran. ketakutan-ketakutan. lapar dan kematian. sejak mata terpejam sampai terbuka ketika fajar. orang-orang beringsut di rumah, tanpa upah. tanpa kepastian. bahwa hari ini bisa mengusap perut anaknya dengan bibir yang mengembang. menyeka airmata dengan tubuh gemetar. di luar masjid masih menggaungkan takbir. mengepung pertemuan, meraup makanan, ibadah berjamaah. tanpa menghiraukan dengkingan cuak orang-orang. di mana lekuk mata sadar yang dihadapkan kepada semesta tentang wahyu jatuh; tak lain adalah peringatan kesedihan yang harus segera dituntaskan?

Takdir bermuara pada jiwamu
adalah gerak tuhan yang ditetapkan
sebelum ruh ditiupkan ke dalam tubuh, katamu.

lelaki paruh baya tunjuk bibir rekah merah muda. sebab ia merasa berlumur dosa. dengan harapan rindang menanti dalam kepala. diserbu segala dalil, segala tafsir. pada bibirnya melantun harapan; suka akan rekah, sedih tak lagi mendidih di dalam dada. biarlah melawan sakit. kelak, dihantar ke suatu tempat, dalam keadaan muda kembali. tak lagi paruh baya lagi.

2020

Sebuah Penawaran

sebelum lakinya kawin lagi. semula tubuh adalah ratu. siap disentuh setiap waktu. setelah lakinya lenyap dan tubuh mendadak tergemap. ia menyelinap di kamar seorang diri. membayang laki, merebut berahi. setelah berahi menuju. malam perlahan runtuh. kemudian ia menjadi batu.
angin mengecup keningnya. menggugurkan deritanya. lima jengkal dari bibir pintu. perempuan itu berjalan pelan-pelan. dengan mata terpejam. mengelus perutnya yang kering. mengandung kemarau di rahimnya—bukan penawaran. berkali menangis sepanjang malam tiba. menyembuhkan kepedihan.
mengapa hujan runtuh dari mata?
bertahun-tahun yang lalu. perempuan datang dari bilangan yang jauh. lidah yang saban hari lekat oleh madu. merasai pahit menjalar ke seluruh. tubuh—luka yang tersentuh garam.
kemanakah rengkuh tubuh yang tak jumbuh
binasa perkara waktu
digagalkan kemarau yang tak habis-habis
pergi dari rahim yang kering

matahari pecah. ia berjalan menuju sungai. sembari menggendong jabang bayi. yang menetek di sebelah kiri. ia membawa belanga berisi ikan-ikan. hasil tangkapan kemenakan. Ia taburkan garam di sekujur tubuh ikan
suatu hari ia amini doa ibunya. sebelum berangkat menembus semesta. lalu perempuan itu menceritakan. pelan-pelan ke telinga jabang bayi
—sembari mengusap jidat yang mengilat;
perempuan yang menyimpan batu-batu
sungai di dada, memanggul hitam pekat air
di matanya, adalah penawaran agar tali
darah yang menyatu kepadamu tetap utuh.

jabang bayi seperti mengerti. tangannya menunjuk matahari. kemenakan datang menyantap makan. siang; bersama-sama. bersama adik kandung. dalam dekapan perempuan yang menyimpan batu di dadanya. yang tak henti menawarkan kasihnya.

2020

Aksan Taqwin Embe. Sastrawan Berkarya Tahun 2019 ke wilayah 3T; Seruyan-Kalimantan Tengah, utusan Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Ia pernah terpilih sebagai perwakilan penulis muda Indonesia dalam Majelis Sastra Asia Tenggara, kategori cerpen 2018. Terpilih dalam Emerging Writers Ubud Writers and Readers Festival 2017. Saat ini ia bekerja menjadi guru di Insan Cendekia Madani, Serpong dan menjadi Redaktur Buletin Tanpa Batas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *