Esai
Paradoks Mitos dan Spiritualitas

Paradoks Mitos dan Spiritualitas

DARI buku antologi  Tjahjono Widijanto, Penakwil Sunyi di Jalan-Jalan Api (Pagan Press, 2018), saya menemukan puisi-puisi paradoks antara mitos dan  spiritualitas.  Latar kultur penyair yang memiliki keterlibatan pada berbagai mitos telah membuka mata air penciptaan yang bermuatan spiritualitas. Tentu saja, ia menyusupkan imaji, membangun kontemplasi, dan melakukan ekplorasi diksi untuk mencipta puisi-puisi liris tentang paradoks mitos dan spiritualitas itu.

Dalam beberapa kali pertemuan saya dengan penyair, melalui dialog-dialog di warung kopi, sudah tampak kecenderungan obsesinya terhadap mitos dan spiritualitas. Ia bertaruh dengan mitos dan spiritualitas untuk menyingkap realitas kehidupan modern. Kegelisahannya sebagai penyair dan akademisi, tumbuh semenjak ia kuliah dan bertemu dengan Djoko Saryono, dosen yang meletakkan etos kepenyairannya. Sebagaimana puisi-puisi Djoko Saryono Kemelut Cinta Rahwana (Pelangi Sastra, 2018) yang kuyub dengan mitos, ia menyingkap mitos dan spiritualitas dalam paradoks yang mengejutkan pembaca.  

Kebanyakan puisi Tjahjono Widijanto bermain dalam tataran mitos-mitos yang didefamiliarisasi, mencapai narasi yang “menyimpang” dari nuansa makna sebelumnya. Ia memanfaatkan mitos-mitos itu untuk menyingkap realita sosial yang berkembang dalam masyarakat mutakhir. Ia  menyusupkan mitos dalam realitas sosial untuk mencipta kesadaran transenden.

Hal lain yang memikat pada puisi-puisi yang menyingkap paradoks keriuhan duniawi itu adalah kekuatan diksi yang memancarkan kontemplasi. Ia sadar benar untuk memanfaatkan kata-kata yang mengundang tafsir yang kompleks. Orang melakukan penafsiran puisi-puisinya dengan makna yang lebih kontemplatif dari mitos-mitos yang berkembang dalam masyarakat.

***

Penyair membagi buku kumpulan puisi ini dalam tiga bagian. Tiap bagian dinamakan takwil. Dalam pemahaman saya, takwil merupakan tafsir, sebagai disiplin ilmu untuk menjelaskan makna yang terkandung dalam teks. Takwil sebagai sarana untuk memahami teks serta menjelaskannya. Dalam buku kumpulan puisi ini penyair menafsir kembali mitos dalam kehidupan mutakhir.  

Puisi Tjahjono Widijanto “Tulude” menghadirkan situasi paradoksal mitos. Ia memanfaatkan mitos upacara perayaan tahun baru di Kepulauan Talaud dengan cara menghanyutkan perahu tanpa penumpang. Ia menafsir kembali mitos itu di tengah-tengah lingkungan nelayan. Ia menggambarkan harapan-harapan di balik upacara itu: bersama ombak saat laut pasang/ perahu lalotang biarlah karam di karang/ bergantilah tahun dengan senyum gelombang/setelah badai turun kemarin malam/ gantilah kini nelayan berdendang/ bersama ikan-ikan rajin bertandang//. Penyair menghadirkan paradoks tentang nasib para nelayan setelah upacara menghanyutkan perahu ke tengah laut, justru  berkembang kegembiraan mereka karena penangkapan ikan yang melimpah.  

Paradoks yang disingkap berdasarkan mitos itu diciptakan penyair berkaitan dengan spiritualitas yang melingkupi atmosfer kehidupan masyarakat. Dalam puisi “Lungkan”, ia menyingkap mitos tentang pohon yang dianggap keramat di Desa Banada, desa tertua di Talaud, Sulawesi Utara. Pohon ini ketika bulan purnama daunnya yang hijau berubah menjadi putih. Paradoks puisi ini tercipta karena pergeseran spiritualitas, seiring dengan pergeseran zaman dan cara manusia memaknai mitos: Dalam gembuk daunku/ kusimpan cahaya meski kau tak pernah tahu/ karena kini kau begitu asing pada purnama/ juga makin asing dengan wajah sendiri/ yang makin samar dirajam waktu//.

Paradoks spiritualitas itu dipertegas Tjahjono Widijanto ketika mencipta puisi “Madrim” dengan menghadirkan paradoks pencarian dunia transenden, setelah melampaui pengalaman-pengalaman imanen. Mitos menjadi puncak kesadaran spiritual, yang membawanya pada cinta, kesetiaan, pengharapan, dan keretakan harmoni. Ia meninggalkan pengalaman-pengalaman kesetiaan istri yang terberangus api asmara. Pencarian cahaya spiritualitas yang transenden dan dibingkai suasana paradoks itu diekspresikan dalam larik-larik berikut ini: di taman selalu tumbuh belukar/ liar mekar bersama waktu mengkerut mengganggu jam-jam tidurku/ “Pandu, kenapa kau tak berani lagi untuk datang sekedar mengucap/ selamat malam untukku?/ mungkin telingamu menjadi tuli untuk mendengar kicau kedasih/ tentang ratih yang merangkak di lurung-lurung jagat senyap/ kubayangkan di muara malam kau menjelma syiwa/ membakar cinta dengan biji matamu sendiri/ dan serupa laron membirahi api/.

***

Yang menarik dari puisi-puisi Tjahjono Widijanto adalah mitos-mitos yang terus-menerus dimaknainya. Ia menghadirkan mitos Bisma dalam puisi “Kelor”, Drupadi dalam “Mata Dadu”, Ekalaya dan Rama Parasu dalam “Dua Episode dalam Kutuk yang Panjang”, Malin Kundang dalam “Lima Catatan Harian Malin”, Sunan Kalijaga dalam “Suluk Sungai”, Sita dalam “Lima Variasi Sajak Cinta”, dan Gandari dalam “Api Gandari”.  Kadang ia menyusun mitos dan spiritualitas dalam konstruksi bahasa yang membawa renungan dan tafsir lebih kompleks. Kesadaran inilah yang menghadirkan puisi-puisi itu menjadi lebih unik, lebih membangkitkan kesan yang kontemplatif.

Dalam puisi Tjahjono Widijanto terdapat konstruksi kalimat-kalimat dengan berbagai metafora. Penyair menciptakan pengalaman-pengalaman yang diamatinya dari kehidupan, dan menuangkannya dengan empati kemanusiaan, untuk melukiskan defamiliarisasi yang menyentuh perenungan. Ia memanfaatkan penafsiran-penafsiran baru, yang dalam bahasa penyair dinamakan sebagai takwil.

Kesuntukan kepenyairan Tjahjono Widijanto yang mencipta kesakralan mitos dalam laku hidup manusia disimbolisasikan sebagai penakwil sunyi di jalan-jalan api. Ia melukiskan paradoks mitos dan spiritualitas sebagai pengalaman transenden, untuk menemukan kesadaran kemanusiaan dalam riuh kehidupan. Puisi-puisinya telah mengembalikan manusia di jalan keilahian dan kesadaran humanisme manusia modern. Mitos-mitos lahir kembali sebagai kisah-kisah manusia modern, dengan segala kompleksitas makna dan penafsiran. Ia telah membawa mitos-mitos itu ke alam tafsir mutakhir, ketika manusia dihadapkan pada kerumitan-kerumitan laku  hidup, ambiguitas pilihan, berlapis-lapis kedok, dan kegaduhan dalam setiap peristiwa. []

Penulis:

S. Prasetyo Utomo, sastrawan, doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes

Leave a Reply

Your email address will not be published.