Resensi Buku
Sejarah, Digerakkan yang Turah

Sejarah, Digerakkan yang Turah

Judul Buku : Pembentuk Sejarah
Penulis       : Goenawan Mohamad
Penerbit     : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan     : Pertama, September 2021
Tebal          : xvi + 373 halaman
Ukuran       : 14 x 21 cm
ISBN           : 978-602-481-638-4

William Liddle pernah menyebut Goenawan Mohamad (GM) sebagai Shakespeare-nya Indonesia. Pujangga abad XVI itu punya peran monumental bagi perkembangan bahasa Inggris. Lewat karyanya, bahasa yang mendunia itu menjadi matang, mampu mengantarkan perasaan dan pikiran manusia dengan presisi makna yang tinggi, sekaligus indah. Bagi Liddle, peran itu juga diemban GM dalam konteks bahasa Indonesia.

Tak dipungkiri lagi, GM adalah salah satu sastrawan senior Indonesia yang masih menjaga produktivitas dalam berkarya –baik dari segi kuantitas maupun kualitas karyanya. Dilihat dari segi kuantitas, Rizal Malarangeng membandingkan GM dengan Winston Churchill, mantan perdana menteri Inggris yang pernah meraih nobel sastra.

Churchill diperkirakan telah menulis enam juta kata di 37 buku. Menurut Paul Johnson, sejarawan penulis salah satu buku biografi Churchill, jumlah tersebut kurang lebih sama dengan jumlah kata  yang dihasilkan  oleh  Charles Dickens dan Shakespeare digabung menjadi satu.

Sementara GM, jika kita tengok dari buku “Catatan Pinggir” (Caping), dimana tiap jilid berisi sekitar 600 halaman (setara 240 ribu kata), maka dari buku Caping saja GM sudah menghasilkan hampir 3,5 juta kata. Ditambah bukunya yang lain (esai, puisi, naskah lakon, dll), diperkirakan GM telah menghasilkan empat juta kata. Dalam sejarah kesusastraan Indonesia, tak ada penulis lain yang telah menghasilkan karya sebanyak itu.

  Namun satu hal yang perlu dicatat: Churchill menulis di tengah masyarakat yang telah kental dengan sejarah intelektual dan kesusastraan. Sedangkan GM menulis di tengah masyarakat yang masih didominasi tradisi lisan. Dengan latar belakang seperti itu, meski secara kuantitas capaian GM di bawah Churchill, tapi sebenarnya tidak kalah.

Sementara dari segi kualitas, karya GM tak sekedar menghidupkan bahasa. Lebih dari itu, tulisannya menyajikan ide yang mengajak pembaca berpikir atau merenung. Alhasil, konsistensinya dalam berkarya tak hanya menghidupkan bahasa, tapi berkarya dengan kedalaman mengagumkan. Lewat tulisannya GM melihat, merasakan, dan memberi kesaksian baik pada hal besar maupun kejadian keseharian yang menyiratkan makna luas. Dalam istilah Malarangeng, GM ibarat empu bahasa, yang pergerakannya sudah menyerupai angin: tidak kelihatan tapi nyata.

Dalam buku ini, baik pada hal-hal besar maupun peristiwa keseharian, esai-esai GM selalu menawarkan ide penolakan atas dogmatisme. Menampik pemutlakan pikiran baik dalam bentuk ideologi, utopianisme, dogma agama, saintisme, maupun kategori konseptual yang mengklaim kepastian. Dengan bahasa ungkap sastrawi yang khas, GM melantunkan skeptisme terhadap bangunan pemikiran yang membeku dalam suatu sistem ideologi.

Penolakan GM pada pemutlakkan bertaut erat dengan upaya untuk mengapresiasi dan selalu memberi ruang terhadap yang mrucut, yang tak tertampung dalam sistem bangunan pemikiran itu sendiri. Dalam istilah GM sesuatu yang turah, yang entah atau antah. Dan dalam konteks ini, GM tak sendiri.  Sejumlah tokoh yang diulas di buku ini, adalah deretan nama yang gagasannya acapkali tak tertampung dalam bangunan pemikiran.

Dalam khasanah pemikiran barat, gagasan tentang yang turah atau antah, mempunyai kemiripan dengan tradisi pemikiran Sekolah Frankfurt, khususnya yang dilantunkan oleh Theodor Ardono. Adorno getol mengkritik ide rasionalitas pencerahan yang mendasari modernitas. Pencerahan adalah klaim tentang the idea of progress, pembebasan manusia modern dengan rasionalitasnya dari belenggu tradisi dan masa lalunya yang bersandar pada mitos. 

Dalam pandangan para pemikir Sekolah Frankfurt, klaim semacam itu bermasalah karena upaya manusia modern untuk keluar dari belenggu irasionalitas ternyata berujung pada belenggu yang lain, yakni dominasi akan instrumental (zweckrationalitat): jenis rasionalitas yang berlaku saat manusia memilih cara paling efisien untuk mencapai arah tujuan. Rasionalitas yang hanya menghamba pada efisiensi ekonomi inilah yang mendasari bangunan dunia modern.

Alhasil, dunia modern dan akal adalah kehidupan ketika pelbagai hal banyak didasarkan pada ukuran positivistik, kalkulasi dan hitungan. Patokannya efisiensi mencapai tujuan. Tapi di sinilah letak paradoks modernitas: maraknya rasionalitas dalam kehidupan, yang dalam pandangan Pencerahan dilihat sebagai “kemajuan”, di saat yang sama melahirkan yang oleh Max Weber disebut sebagai iron cage yang represif dan mengasingkan manusia.

Nah, lewat bukunya ini, GM menghadirkan tokoh-tokoh yang ide dan pemikirannya acapkali mrucut atau tidak tertampung pada bangunan pemikiran yang lazim ada. Sejumlah tokoh (mulai dari pendiri bangsa hingga sastrawan) diulas dan dikulik secara cermat oleh GM–semacam ikhtiar  untuk menghadirkan sisi “paling subtil” dari pemikiran sang tokoh.

Agar memudahkan pembacaan atas tokoh yang diulas, buku ini dibagi tiga bagian. Pertama “tokoh bangsa”, meliputi: Soekarno, Tan Malaka, Hatta, Sjahrir, Kartini, Mongisidi, Chairil, dan Gus Dur. Kedua “cendekiawan”, meliputi: Soedjatmoko, Umar Kayam, Romo Mangun, Nurcholish Madjid, Arif Budiman. Ketiga “sastrawan”, meliputi: Takdir Alisyahbana, Rendra, Asrul Sani, Pramoedya, Amir Hamzah, Subagyo Sastrowardoyo, Sapardi Djoko Damono dan Trisno Sumardjo.

Tokoh-tokoh tersebut, karena gagasannya acap mrucut dari bangunan pemikiran yang lazim ada, sering dinilai kontroversial. Misal Gus Dur, ketika memandang iman bukan sebagai benteng yang kokoh tak tertembus oleh keyakinan (agama) lain. Gus Dur lebih memandang iman sebagai obor yang menemani perjalanan untuk menerangi lekuk gelap tak dikenal, tanpa takut bertemu dengan yang berbeda.

 Lalu saat Soekarno merumuskan Pancasila. Dalam pandangan banyak pihak, Pancasila sebagai dasar negara itu sakti: fondasi yang kedap, pejal, dan sudah final. Tapi bagi Soekarno, Pancasila lahir dari jerih payah sejarah menawarkan sesuatu yang bisa diolah lebih lanjut. Ia tidak “ready for use”, tidak menampik tafsir yang kreatif.

Pendek kata, para tokoh yang diulas di buku ini adalah sebagian dari penggerak sejarah Indonesia lewat bidangnya masing-masing. Pesan penting buku ini, sejarah (paling tidak di Indonesia) digerakkan oleh mereka yang berpikiran turah.[]


Penulis:

Marwanto, menggerakkan aktivitas sastra dan literasi lewat komunitas Lumbung Aksara, mengetuai Forum Sastra-Teater Kulonprogo, dan membina komunitas Sastra-Ku. Buku yang telah ditulis antara lain: Demokrasi Kerumunan (esai, 2018), Byar (esai, 2019), Hujan Telah Jadi Logam (cerpen, 2019), Menaksir Waktu (puisi, 2021), dan Aroma Wangi Anak-anak Serambi (cerpen, 2021). Karyanya dalam beragam genre juga terbit di sejumlah buku antologi bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published.