Kursi Kayu Penyair

DI hadapan kenangan, manusia selalu menjadi sesuatu yang pecah dan retak—dan barangkali hal itu juga terjadi pada diriku. Ah! betapa seharusnya aku memperkenalkan diriku terlebih dulu. Aku adalah sebuah kursi kayu, yang sangat sederhana. Sebuah kursi kayu yang menjadi teman duduk, dalam arti yang sesungguhnya, dari seorang lelaki—yang kutahu bekerja sebagai seorang penyair. Ialah yang memberi nama Aros.

Tuan Gedibal

Melihat sepak terjangnya, meski tidak memiliki jabatan penting, Tuan Gedibal bukanlah orang sembarangan. Dia sanggup membegal peran dengan sangat jitu. Tuan Gedibal duduknya selalu dekat dengan pimpinan di ruang orang-orang terhormat.

Tiga Batang Pohon Asam

Bertahun-tahun setelah pohon asam itu ditebang, Abu Bakar kerap menyesal. Ia pikir setelah menebang pohon asam itu, amarahnya akan terobati. Ternyata tidak. Justru ia merasa semakin kehilangan. Dia kehilangan kaki sebelah milik anaknya dan redupnya harapan yang menyertainya; dia juga kehilangan pohon asam itu—pohon asam yang kerap dijadikan tempat berlindung orang-orang dari hujan atau terik matahari yang menyengat.

Pengantar Politik, Rezim, dan Revolver

Beberapa minggu setelah menemukan dua eksemplar Pengantar Politik—yang penulisnya anonim—aku mendapatkan rumah mewah berpenjagaan ketat ini. Aku tidak tahu apakah Pengantar Politik memberikanku keberuntungan atau justru kutukan; dalam segala hal berbau politik, batas antara keberuntungan dan kutukan kupikir memang rada kabur.