Perempuan dalam Perspektif Sejarahnya

Pemarjinalan perempuan masih menjadi fenomena sosial. Masih banyak wacana yang menganggap kaum perempuan selalu dilihat sebagai “korban” dalam berbagai fenomena dan proses sosial. Masih terdapat praktik perlakuan terhadap perempuan yang kurang bahkan tidak apresiatif. Fenomena bias gender dalam konteks hubungan antara perempuan dan laki-laki acap kali masih direspons dengan opini negatif yang menyatakan dunia ini adalah dunia laki-laki, yang dibentuk, yang ditata dengan norma, nilai laki-laki.

Geguritan Tjahjono Widarmanto

AJA KOK TUDING LANGIT aja kok tuding langit ing angkasaamerga sliramu ora bakal sanggup ngranggeh srengenge tudingen langitmu dhewe sakjroning suksmamuamarga sejatine langit kuwi sakbenere batindene bumi kuwi sejatine jasad sipate langit kuwi rahmanlan sipate bumi kuwi rakhim wujud langit kalambangake bapa: bapa angkasa!wujude bumi kagambarake ibu: ibu bumi, ibu pertiwi! Saka rahman rakhimme Gusti kang nyawiji lumantar bapa ibumutuwuh […]

Geguritan Tjahjono Widarmanto

WATU  *) kagem tengsu Watu item atossing mbiyen mbokwarisake marang akusaiki wis mletheklan thukul kembangmaneka warnakang gandane arumngebaki impenkusaben wengi. Ngawi-Surabaya GURIT IBU Ibu,anakmu lagi ambyur ing kejemeombak samodra kuthaamung dikancani selarik gurittandha isih satuhu setya marang nurani. MEDITASI WENGI sepi nambah kawibawaning wengirembulan wuda tanpa cahyaputik-putik kembangndangak marang sulistyaning wengikangen marang kerlip mbun. beksa wengi diwiwitibeksa langit    beksa bumi: […]

Sastra Islam

Dalam sebuah diskusi sastra di forum muktamar sastra  pesantren beberapa tahun lalu, seorang rekan bertanya: “Adakah sastra Islam?” Pertanyaan tersebut tanpa menunggu jawaban, diikuti pertanyaan-pertanyaan berikut: “Kalau sastra Islam itu ada, apa sebenarnya definisi berikut ciri-ciri sastra Islam tersebut yang membedakannya dengan sastra yang lain?

Hidup Itu Mampir ‘Dolanan’

ANDREW Greely (2012) pernah menggemakan kembali suara Shakespeare yang mengatakan bahwa dunia adalah tempat bermain yang diperuntukkan untuk manusia. Hal yang serupa pun diungkapkan Plato berpuluh tahun sebelumnya yang mengatakan bahwa kita boleh membayangkan, bahwa tiap-tiap manusia adalah boneka yang dibuat oleh dewa-dewa, mungkin dibuat sebagai sebuah permainan, atau mungkin permainan yang dibuat dengan sangat serius.

Spiritualitas Pengelana

Rasulullah ‘alaihi wasallam pernah berpetuah pada Ibnu Umar RA, “Jadilah engkau di dunia seperti seorang asing atau musafir!” Seorang pengelana, seorang pengembara, atau seorang musafir adalah penghikmat perjalanan. Perjalanan dalam arti luas yang tak hanya bermakna jarak dan tempat namun juga bermakna mengarungi kehidupan yang tak terbatas. Seorang pengelana selalu berjalan untuk mencapai sebuah tujuan. Tujuan yang dimaksud tak hanya berkait dengan duniawi namun juga dalam artian filosofi.

Dukun Tiban

Kami juga tak pernah tahu sejak kapan Mbah Cipto datang dan bermukim di kampung kami. Yang kami tahu, Mbah Cipto membeli separoh tanah milik Carik Keni, salah satu warga kampung terkaya. Di tanah yang luas itu, Mbah Cipto membangun rumahnya yang megah dengan model limasan.

Antara Feminisme dan Genderisme

Gerakan kaum perempuan yang diawali dengan gerakan emansipasi kemudian berayun menuju feminis lantas bermuara pada kesetaraan gender sesungguhnya adalah gerakan transformasi dan bukan gerakan balas dendam kaum perempuan kepada kaum laki-laki. Hal itu berarti gerakan perempuan harus dimaknai sebagai proses gerakan untuk menciptakan hubungan yang setara yang lebih humanistis dan lebih baik. Hubungan kesetaraan ini bisa meliputi ranah ekonomi, politik, sosial, kultural, pendidikan dan lingkungan.

Problematika Penulisan Sejarah Sastra dan Jebakan Kanonisasi

Beberapa waktu lalu jagat sastra Indonesia diramaikan dengan pro dan kontra pada sebuah rencana besar dari seorang sastrawan untuk menulis sebuah buku tentang 100 penyair Indonesia terkini. Tentu saja tulisan ini tak hendak ikut menyoal, apalagi jadi bagian pro atau kontra terhadap rencana ambisius itu. Esai ini hanya akan menakar problematika penulisan sejarah sastra dengan resiko jebakan kanonisasi di dalamnya.